Bacalah Selalu !!

Bismillahirrahmanirrahiim ... Alhamdulillah was sholaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain." (HR. Abu Dawud). Ya Allah, semoga tindakan yang kami ambil hari ini didasari ilmu, bukan emosi. Jadikan hasilnya yang Engkau ridhoi untuk masa depan kami. Aamiin.

Kamis, 30 April 2026

Materi Sharing 32 : Kenapa Saat Pasar Saham Terus Turun, Saya Justru Masih Menyarankan Untuk Beli Saham ?

Selamat malam semuanya,

Seiring dengan kondisi pasar saham hari ini yg kembali mengalami penurunan secara menyeluruh, hampir sebagian besar saham di pasar sedang berada dalam fase penyesuaian. Namun, pada tahap seperti ini, sy tetap konsisten menyarankan agar kalian melanjutkan akumulasi dan mempertahankan kepemilikan pada saham-saham perbankan.

Sy juga terus mengingatkan bahwa selama kalian mampu bersabar dan disiplin dalam memegang saham bank, pada akhirnya potensi keuntungan yg stabil dan optimal sangat mungkin untuk dicapai. Sebenarnya, baik di pasar saham, emas, maupun properti, sejak awal sy selalu menekankan pentingnya pendekatan investasi jangka panjang. 

Karena prinsip ini telah sy sampaikan berulang kali, baik dalam sesi sharing maupun komunikasi secara pribadi, banyak dari kalian yg kemudian mengajukan dua pertanyaan paling umum sebagai berikut ini:

1. Apakah dengan investasi jangka panjang, kita pasti akan mendapatkan keuntungan?
2. Yg dimaksud dengan “jangka panjang” itu sendiri, sebenarnya berapa lama? Apakah ada batas waktu yg jelas dan terukur?

Slmt malem pak Sutanto

Maka pada sesi sharing malam ini, sy akan berfokus pada dua pertanyaan inti yg paling menjadi perhatian kalian, serta memberikan penjelasan yg mendalam dan relevan secara praktis. Hal ini penting, karena akan menjadi dasar yg sangat menentukan dalam membimbing langkah investasi kita setelah masa liburan berakhir.

Selanjutnya, mulai pekan depan, sy akan memusatkan pembahasan pada area support dan resistance pasar, serta berbagai faktor utama yg berpotensi memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar di paruh kedua tahun ini, agar kalian memiliki pemahaman yg lebih komprehensif dalam menyusun strategi investasi.

Namun sebelum itu, sy ingin memberikan penekanan khusus kepada kalian semua. Jika berbagai metode ini diterapkan pada arah yg keliru, maka hasil investasi yg diperoleh pada akhirnya sangat berpotensi tidak sesuai dengan harapan.

Sy sudah berkali-kali menegaskan bahwa hanya saham-saham yg benar-benar memiliki nilai investasi jangka panjang yg layak bagi kita untuk mengalokasikan waktu dan energi dalam melakukan analisis yg mendalam.

Oleh karena itu, sebelum mulai mempelajari analisis teknikal maupun pendekatan berbasis peristiwa pasar, kalian harus terlebih dulu memahami dengan jelas logika dasar ini. Yaitu, pemilihan aset yg tepat selalu menjadi prasyarat utama bagi keberhasilan investasi jangka panjang.

Sebagaimana yg dapat kalian lihat dalam kondisi pasar yg mengalami penurunan secara luas saat ini, baik BMRI maupun BUMI yg sebelumnya telah kita bahas sebagai fokus utama, masih mampu mempertahankan kestabilan secara relatif. Hal ini dengan jelas menunjukkan betapa krusialnya ketepatan dalam memilih saham sejak tahap awal.

Hari ini IHSG turun 2%, tapi saham yg kita pegang nggak turun sedalam IHSG, ini juga termasuk sinyal yg cukup bagus

BUMI hari ini naik 4,3%, performanya kuat banget

Maka sebelum masuk ke pembahasan utama, mari kita terlebih dulu melihat pergerakan pasar saham dalam beberapa waktu terakhir, agar setelah masa libur berakhir, kalian dapat memanfaatkan peluang dengan lebih baik.

Melalui grafik, kita dapat mengamati bahwa pada level A terdapat area support kuat secara teknikal, sedangkan pada level B merupakan area resistance. Level A mencerminkan kekuatan pihak pembeli di pasar, yaitu area psikologis yg didominasi oleh minat beli. Sementara itu, level B mencerminkan kekuatan pihak penjual, yaitu area psikologis yg didominasi oleh tekanan jual.

Dari proses pengujian dan interaksi antara kekuatan pasar tersebut, kita dapat melihat suatu hasil, yaitu saat ini tekanan dari pihak penjual masih relatif lebih dominan. Hal ini tercermin dari terjadinya penurunan harga yg langsung bergerak turun hingga mendekati level A, kemudian mendapat dukungan dari support sebelumnya dan mulai mengalami rebound.

Perlu dipahami bahwa pergerakan harga memang mencerminkan sebagian informasi yg ada di pasar, namun tidak sepenuhnya merepresentasikan arah di masa depan. Pada kondisi saat ini, pasar masih berada dalam fase tarik-menarik kepentingan antara pelaku beli dan pelaku jual.

Sehingga berdasarkan penilaian saat ini, kita dapat menyimpulkan bahwa pada pekan depan, pasar berpotensi mengalami rebound di area level A, dan hal ini hampir dapat dikonfirmasi secara probabilitas.

Namun demikian, setelah rebound tersebut terjadi, apakah indeks mampu melanjutkan kenaikan dan kembali menguji tekanan jual di level B, faktor penentu utamanya tetap berasal dari kondisi Amerika Serikat.

Hal ini karena data ekonomi dan perubahan kebijakan The Fed akan secara langsung memengaruhi arah aliran dana global, serta dalam jangka menengah hingga panjang memberikan dampak yg luas terhadap seluruh kelas aset, baik itu saham, emas, minyak mentah, maupun Bitcoin.

Mengingat keterbatasan waktu pada malam ini, sy tidak akan membahasnya secara terlalu mendalam. Pada sesi sharing setelah masa liburan berakhir, sy akan menggabungkan data terbaru untuk memberikan analisis yg lebih komprehensif serta proyeksi ke depannya, agar kalian dapat memiliki dasar pengambilan keputusan yg lebih jelas.

Blkgn ini saham, emas, sama Bitcoin semuanya lagi turun 😂

Di bawah IHSG masih ada support yg cukup kuat, selama mggu dpn gak ada sentimen dari luar, harusnya bisa rebound

Sekarang kita sudah memahami arah pergerakan pasar saham dalam jangka pendek, maka selanjutnya dalam konteks investasi saham, kita seharusnya sudah memiliki kerangka penilaian yg lebih rasional.

Hal ini juga didasari oleh fakta bahwa saham-saham yg belakangan ini sy bagikan kepada kalian pada dasarnya merupakan saham unggulan dengan kondisi fundamental perusahaan yg sangat baik. Karakteristik dari saham seperti ini umumnya menuntut kesabaran dalam kepemilikan, karena potensi pendapatan yg optimal biasanya baru dapat terealisasi dalam jangka menengah hingga panjang.

Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan yg sering diajukan oleh banyak dari kalian, yaitu mengenai apakah investasi jangka panjang pasti akan menghasilkan keuntungan, serta sebenarnya berapa lama yg dimaksud dengan jangka panjang tersebut.

Kedua pertanyaan ini, jika dilihat sekilas memang tampak tidak saling berkaitan. Namun pada kenyataannya, keduanya memiliki hubungan yg sangat erat. Untuk dapat menjawabnya dengan tepat, kita perlu kembali kepada esensi dasar dari investasi itu sendiri, serta memahami hakikat dari saham sebagai suatu instrumen investasi.

Selama pegang saham unggulan yg bagus, ttp bisa cuan dlm jgka pjang kok

Di dunia ini, terdapat sangat banyak investor dan trader yg telah mencapai kesuksesan luar biasa. Di antaranya ada nama-nama yg sudah sangat kita kenal seperti Warren Buffett, George Soros, dan Ray Dalio. Ada juga tokoh yg relatif lebih rendah profil seperti John Alfred Paulson, serta legenda pasar dari abad sebelumnya seperti Jesse Livermore dan Endre Kosztolányi, dan lainnya.

Masing-masing dari mereka pernah menciptakan pencapaian yg luar biasa di pasar, dengan hasil yg mampu memberikan dampak besar dan menjadi referensi penting dalam dunia investasi.

George Soros dikenal sebagai sosok yg “mengalahkan Bank of England”, dengan akumulasi kekayaan sekitar 8 miliar dolar AS sepanjang kariernya. Sementara itu, John Alfred Paulson pada krisis keuangan global tahun 2008 mampu meraih keuntungan luar biasa hingga sekitar 20 miliar dolar AS hanya dalam waktu 2 tahun.

Adapun Jesse Livermore, dalam kurun waktu singkat sekitar 3 tahun hingga tahun 1932, berhasil membukukan keuntungan lebih dari 100 juta dolar AS. Jika disesuaikan dengan daya beli dolar pada masa tersebut, nilainya setara dengan kurang lebih 84 miliar dolar AS saat ini. Rekor ini hingga sekarang masih belum ada yg mampu melampauinya.

Namun jika kita mencermati perjalanan hidup mereka secara lebih menyeluruh, kita akan menemukan sebuah fenomena yg sangat layak untuk direnungkan. Dalam berbagai sesi sharing, sy memang jarang menyinggung John Alfred Paulson dan Jesse Livermore, dan justru lebih sering membahas Warren Buffett. Alasannya sebenarnya cukup sederhana.

Keuntungan besar yg diraih oleh John Alfred Paulson berasal dari strategi yg sangat agresif pada tahun 2008, di mana ia menggunakan leverage secara ekstrem dan mengalokasikan hampir seluruh dana yg dimilikinya untuk melakukan posisi jual terhadap gelembung properti. 

Meskipun dalam jangka pendek ia berhasil memperoleh hasil yg luar biasa, pendekatan yg bersifat all-in seperti ini juga membuatnya harus menghadapi tekanan kerugian sementara yg sangat besar dalam prosesnya. Pada akhirnya, akibat kerugian lanjutan yg signifikan, ia terpaksa menutup dana kelolaannya.

Sementara itu, perjalanan hidup Jesse Livermore bahkan lebih dramatis. Ia beberapa kali mengalami kebangkrutan, kemudian bangkit kembali dan meraih kesuksesan, namun pada akhirnya, pada tahun 1934, ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Tokoh2 legendaris ini emg hebat banget, tp perjalanan hidup mereka secara keseluruhan justru lebih layak kita renungkan

Metode yg bnar2 bagus itu harus bs dijalanin dlm jangka panjang👍

Investasi itu bukan soal siapa yg paling cepat cuan di jangka pndk, tp siapa yg bisa bertahan lama dan terus berkembang

Kisah-kisah ini memberikan kita satu pemahaman yg sangat penting: di pasar keuangan, tidak pernah kekurangan sosok yg bersinar dalam jangka pendek, namun yg benar-benar langka adalah mereka yg mampu bertahan dan konsisten hingga akhir.

Di sekitar sy juga terdapat banyak teman dan kenalan yg pernah meraih keuntungan luar biasa dalam waktu singkat. Namun, dalam beberapa tahun berikutnya, sebagian besar dari mereka justru perlahan menghilang dari pasar.

Sebaliknya, dalam hampir dua dekade terakhir, individu yg mampu secara konsisten menjaga pertumbuhan aset secara stabil sekaligus tetap bertahan dalam pasar dalam jangka panjang jumlahnya sangat terbatas.

Inilah alasannya mengapa sy lebih memilih untuk berbagi mengenai konsep dan pendekatan Warren Buffett kepada kalian. Karena Buffett bukan hanya berhasil menghasilkan keuntungan, tetapi yg lebih penting, ia mampu bertahan dalam jangka waktu yg sangat panjang dan benar-benar mewariskan kekayaannya secara berkelanjutan.

Dalam dunia investasi, tingkat pencapaian tertinggi bukanlah meraih keuntungan besar dalam waktu singkat, melainkan kemampuan untuk bertahan lama di pasar dan secara konsisten menghasilkan pendapatan yg stabil.

Sy berharap setiap dari kalian dapat benar-benar mengingat hal ini: di pasar keuangan, kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang jauh lebih penting dibandingkan sekadar meraih keuntungan besar dalam waktu singkat.

Bahkan di pasar saham Indonesia, dalam 20 tahun terakhir, sejarah telah berulang kali membuktikan sebuah pola yg konsisten.

Pasar selalu bergerak maju di tengah penurunan tajam dalam jangka pendek, dan setiap kali kepanikan terjadi, justru sering kali di situlah mulai terbentuk peluang kenaikan yg signifikan. Namun, pertanyaan yg paling krusial adalah apakah kita mampu bertahan melewati fase-fase tersebut.

Sebagaimana dapat kita lihat dengan jelas melalui grafik mingguan jangka panjang ini, pasar saham Indonesia dalam dua dekade terakhir telah beberapa kali mengalami penyesuaian yg cukup tajam, dan setiap fase penurunan tersebut hampir selalu disertai dengan munculnya sentimen pesimistis dalam jumlah besar di pasar.

Kyk Buffett gt mmg layak dipelajari, bukan cuma krna dia bisa cuan, tp krna sistemnya bisa diterapin terus dlm jangka pjang

Pada tahun 2008, ketika krisis keuangan global terjadi, pasar dipenuhi dengan berbagai kekhawatiran seperti penurunan tajam ekspor Indonesia, memburuknya defisit transaksi berjalan, serta penarikan dana besar-besaran oleh investor asing.

Memasuki tahun 2015, saat harga komoditas mengalami penurunan tajam, kekhawatiran kembali muncul terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, meningkatnya tekanan fiskal, serta arus keluar modal yg terus berlanjut.

Pada tahun 2008, ketika krisis keuangan global terjadi, pasar dipenuhi dengan berbagai kekhawatiran seperti penurunan tajam ekspor Indonesia, memburuknya defisit transaksi berjalan, serta penarikan dana besar-besaran oleh investor asing.

Memasuki tahun 2015, saat harga komoditas mengalami penurunan tajam, kekhawatiran kembali muncul terkait perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, meningkatnya tekanan fiskal, serta arus keluar modal yg terus berlanjut.

Kemudian pada tahun 2020, ketika pandemi COVID-19 menyebar secara global, sentimen pesimistis di pasar mencapai puncaknya, dengan kekhawatiran terhadap terhentinya aktivitas ekonomi, gelombang kebangkrutan perusahaan, hingga lonjakan kredit bermasalah di sektor perbankan.

Sementara itu, pada tahun 2024, seiring dengan penyesuaian kebijakan tarif oleh Donald Trump, perhatian pasar kembali tertuju pada potensi penurunan outlook peringkat kredit, aksi jual oleh investor asing, serta meningkatnya ketidakpastian politik domestik.

Namun, setiap kali sentimen negatif yg ekstrem memenuhi pasar, justru pada saat itulah peluang sebenarnya mulai terbentuk secara perlahan. Karena setelah setiap fase penurunan yg tajam, pasar saham Indonesia pada akhirnya selalu mampu memasuki gelombang kenaikan yg baru.

Para investor yg berani melakukan akumulasi di area harga rendah pada saat kepanikan terjadi, umumnya akan memperoleh hasil yg sangat baik ketika pasar memasuki fase pemulihan. Inilah alasan mendasar mengapa dalam kondisi pasar yg sedang turun, sy justru menyarankan agar kalian tetap rasional dan memanfaatkan momentum untuk melakukan akumulasi pada aset-aset unggulan.

Karena dalam jangka pendek, sentimen pasar dan berbagai berita negatif sering kali mendorong harga turun jauh di bawah nilai intrinsiknya. Namun ketika kepanikan mulai mereda dan fundamental kembali menjadi faktor utama yg menggerakkan pasar, aset-aset yg sebelumnya berada dalam kondisi undervalued biasanya akan mengalami pemulihan yg paling kuat.

Dari sejarah berkali2 terbukti, stlh penurunan besar biasanya bakal muncul gelombang kenaikan yg baru, jdi ke dpnnya kmgkinan besar bakal ada peluang buat ambil posisi bawah

Oleh karena itu, dalam menghadapi fase penyesuaian saat ini, kita justru perlu menjaga ketenangan dan kejernihan dalam berpikir. Kita harus mampu membedakan antara tekanan sentimen jangka pendek dan arah fundamental jangka panjang, serta mencari perusahaan-perusahaan unggulan yg mengalami penurunan harga secara tidak wajar di tengah kepanikan pasar, bukan justru ikut terbawa arus sentimen tersebut.

Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa melakukan pembelian pada saat sentimen pasar berada di titik pesimistis yg ekstrem sering kali memberikan peluang untuk memperoleh keuntungan di atas rata-rata, dibandingkan dengan melakukan pembelian ketika pasar berada dalam kondisi optimisme yg berlebihan.

Dan pendekatan inilah yg juga sy gunakan untuk secara konsisten membangun dan mengakumulasi kekayaan sy. Meskipun dalam banyak kesempatan sy merasa bangga karena mampu mencapai pertumbuhan aset yg berkelanjutan, dalam setiap keputusan investasi sy tetap menjaga tingkat kehati-hatian yg sangat tinggi.

Investor yg paling sy hormati hingga saat ini tetaplah Warren Buffett. Melalui puluhan tahun kesabaran dan disiplin, ia mampu mengembangkan kekayaannya seperti bola salju yg terus membesar. Walaupun pada fase tertentu pendapatannya mungkin tidak setinggi tokoh-tokoh seperti John Alfred Paulson atau Jesse Livermore yg dikenal dengan pencapaian luar biasa dalam jangka pendek.

Namun jika kita memperpanjang horizon waktu hingga mencakup seluruh perjalanan hidup, maka tidak diragukan lagi bahwa sosok yg benar-benar berhasil adalah Warren Buffett.

Sebagaimana yg pernah beliau sampaikan dalam kutipan yg sangat terkenal: “Sebenarnya menghasilkan uang itu tidaklah sulit, hanya saja sangat sedikit orang yg bersedia untuk mengakumulasi kekayaan secara perlahan seperti yg sy lakukan.”

Dalam perjalanan investasinya, Buffett juga pernah mengalami penurunan nilai aset yg cukup signifikan. Namun jika dilihat dalam jangka panjang, bahkan ketika krisis keuangan besar terjadi, penurunan tersebut tetap berada dalam batas yg relatif terkendali. Dan begitu krisis berlalu serta ekonomi kembali memasuki fase ekspansi, akumulasi kekayaannya pun kembali meningkat dengan cepat.

Sosok lain yg tidak kalah mengagumkan adalah André Kostolany, yg dikenal sebagai “Bapak pasar sekuritas Eropa”. Ia telah berkiprah di pasar saham selama lebih dari 70 tahun, dan bahkan pada usia 35 tahun sudah menjalani kehidupan yg nyaris setara dengan seorang bangsawan. Ia juga dikenal sebagai “saksi hidup pasar saham abad ke-20” serta salah satu investor paling sukses dalam sejarah keuangan modern.

Meskipun Warren Buffett dan André Kostolany berasal dari era yg berbeda, keduanya memiliki banyak kesamaan yg mencolok. Salah satu di antaranya adalah komitmen untuk terus meningkatkan kemampuan belajar serta memperdalam kapasitas analisis mereka sepanjang waktu.

Yg lebih penting lagi, sepanjang hidup mereka, melalui berbagai media publik, keduanya terus mengingatkan para investor untuk menghindari perilaku-perilaku berikut:

1. Mengandalkan rumor atau informasi tidak resmi dengan harapan memperoleh keuntungan dari “informasi rahasia”

2. Mencoba menutup kerugian sebelumnya dengan cara menambah posisi secara impulsif tanpa dasar yg jelas

3. Hanya berfokus pada pergerakan pasar di masa lalu dalam mengambil keputusan investasi

4. Setelah membeli saham, kemudian membiarkannya begitu saja tanpa pemantauan, hanya berharap harga akan terus naik

5. Tidak tegas dalam mengambil keputusan, serta bereaksi berlebihan terhadap setiap fluktuasi kecil di pasar

6. Membiarkan preferensi politik atau sentimen pribadi memengaruhi keputusan investasi

Inti kebijaksanaan yg dimiliki oleh para investor sukses ini terletak pada cara pandang mereka terhadap investasi. Mereka tidak pernah memandang investasi sebagai sebuah perlombaan lari jarak pendek, melainkan sebagai sebuah maraton yg menuntut kesabaran, disiplin, serta proses pembelajaran yg berkelanjutan.

Melalui perjalanan investasi dan berbagai pernyataan publik mereka, kita dapat melihat dengan jelas sebuah kesimpulan yg sama, yaitu bahwa untuk memperoleh pendapatan yg stabil dan berkelanjutan di pasar keuangan, pengendalian risiko harus menjadi prioritas utama, serta disertai dengan penerapan strategi diversifikasi dalam investasi.

Hanya dengan pendekatan seperti inilah kita dapat secara efektif menghindari terulangnya situasi seperti yg dialami oleh John Alfred Paulson dan Jesse Livermore, di mana keuntungan besar dalam jangka pendek pada akhirnya justru lenyap akibat konsentrasi risiko yg berlebihan dan pengelolaan risiko yg tidak terkendali.

Denger kabar nggak jelas sama asal nambah posisi, itu jebakan yg paling gampang kita kejebak

Diversifikasi itu penting banget, jngn lgsg msukin semua dana ke satu saham

Selanjutnya, kita perlu memahami secara mendalam hakikat dari investasi saham. Membeli saham pada dasarnya berarti kita turut memiliki sebagian kepemilikan dalam suatu perusahaan dan menjadi salah satu pemegang saham, yg secara tidak langsung ikut berpartisipasi dalam aktivitas bisnisnya.

Lalu, apakah dengan memegang saham dalam jangka panjang kita pasti akan memperoleh keuntungan? Jawabannya adalah tidak. Sebagaimana dalam dunia usaha, selalu terdapat kemungkinan untung maupun rugi, demikian pula dengan perusahaan.

Selanjutnya, kita perlu memahami secara mendalam hakikat dari investasi saham. Membeli saham pada dasarnya berarti kita turut memiliki sebagian kepemilikan dalam suatu perusahaan dan menjadi salah satu pemegang saham, yg secara tidak langsung ikut berpartisipasi dalam aktivitas bisnisnya.

Lalu, apakah dengan memegang saham dalam jangka panjang kita pasti akan memperoleh keuntungan? Jawabannya adalah tidak. Sebagaimana dalam dunia usaha, selalu terdapat kemungkinan untung maupun rugi, demikian pula dengan perusahaan.

Jika kamu berinvestasi pada sebuah perusahaan yg benar-benar unggulan, di mana skala usahanya terus berkembang dan kemampuan menghasilkan keuntungannya semakin kuat dari tahun ke tahun, maka dividen yg kamu terima akan terus meningkat, nilai intrinsik sahamnya juga akan terus bertumbuh, dan semakin lama kamu memegangnya, semakin besar pula potensi keuntungan yg dapat diperoleh.

Sebaliknya, jika kamu berinvestasi pada perusahaan yg sedang mengalami penurunan, dengan kinerja yg terus merugi dan daya saing yg semakin melemah, maka nilai saham yg kamu miliki akan terus menurun, bahkan pada akhirnya bisa menjadi hampir tidak bernilai. Dalam kondisi seperti ini, semakin lama kamu mempertahankan kepemilikan, semakin besar pula potensi kerugian yg akan kamu tanggung.

Oleh karena itu, dalam investasi jangka panjang, faktor penentu utama bukanlah lamanya waktu kamu memegang saham, melainkan apakah perusahaan yg kamu miliki memiliki kemampuan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan serta prospek pertumbuhan yg baik di masa depan.

Milih saham itu hrs ngerti dulu kualitas perusahaannya, ini dasar paling penting dlm stock picking

Di sini kita ambil contoh dari saham yg paling sy rekomendasikan, yaitu BMRI. Misalkan pada tanggal 30 April 2006, harga saham BMRI berada di kisaran 1.920. Jika pada saat itu kamu membeli 10.000 lembar saham dengan harga 1.920 per lembar, maka total investasi yg dikeluarkan sekitar 20.000.000.

Setelah itu, terlepas dari bagaimana fluktuasi harga yg terjadi di pasar, kamu tetap disiplin untuk mempertahankan kepemilikan tersebut dalam jangka panjang, tanpa melakukan penjualan.

20 tahun kemudian, setelah melalui pembagian saham bonus dan penyesuaian akibat stock split, jumlah saham yg kamu miliki telah meningkat menjadi 40.640 lembar.

Dengan asumsi harga saham saat ini berada di kisaran 4.400, maka nilai pasar dari kepemilikan tersebut mencapai sekitar 178.816.000, atau meningkat kurang lebih 9 kali lipat dibandingkan investasi awal.

Yg lebih penting, selama periode 20 tahun tersebut, kamu juga telah memperoleh akumulasi dividen sekitar 4.714 per lembar saham, dengan total dividen yg diterima mencapai 191.576.960.

Jika keduanya dijumlahkan, maka dari investasi awal sebesar 20.000.000, nilai total aset kamu saat ini telah mencapai sekitar 370.392.960. Artinya, secara keseluruhan, hasil yg kamu peroleh sudah mendekati 20 kali lipat dari modal awal.

Lebih lanjut, berdasarkan catatan pembagian dividen terbaru BMRI untuk tahun buku 2025, dividen per lembar saham berada di kisaran 466. Dengan jumlah kepemilikan saat ini sebesar 40.640 lembar, hanya dari dividen tahun 2025 saja kamu sudah dapat memperoleh pendapatan sekitar 18.938.240.

Yg lebih perlu diperhatikan adalah, dividen BMRI selama bertahun-tahun menunjukkan tren pertumbuhan yg stabil.

Investasi sebesar 20.000.000 pada 20 tahun yg lalu, saat ini mampu memberikan kamu pendapatan pasif tahunan setidaknya sebesar 18.938.240. Tingkat return seperti ini jelas telah melampaui sebagian besar hasil yg umumnya ditawarkan oleh dana pensiun.

Jika pada saat itu yg kamu investasikan bukan 20.000.000 melainkan 100.000.000, maka hari ini hanya dengan mengandalkan dividen saja, kamu sudah dapat menjalani kehidupan pensiun yg relatif sangat layak.

Contoh kyk BMRI ini jelas banget, kalau dipegang lama efek compoundingnya emang gila banget

Dividen yg tumbuh stabil itu baru bisa dibilang aset arus kas yg beneran

Ini jauh lbh nunjukin nilai investasi jangka panjang dibanding sering trading jangka pendek

Tentu saja, jika kita menelusuri kembali sejarah pasar saham Indonesia, kita akan menemukan sebuah kenyataan yg cukup keras. Banyak perusahaan terbuka yg dulu pernah berada di puncak kejayaan, pada akhirnya justru menghilang secara perlahan dari pasar.

Sebagian besar dari mereka mengalami kerugian bertahun-tahun dan penurunan kinerja operasional, hingga pada akhirnya nilai sahamnya merosot drastis dan hampir tidak memiliki nilai.

Jika kamu membeli saham dari perusahaan seperti ini, maka semakin lama kamu menahannya, kerugian yg ditanggung justru akan semakin besar, bahkan pada akhirnya bisa berujung pada kehilangan seluruh modal.

Oleh karena itu, dalam investasi jangka panjang, faktor penentu apakah kamu bisa mendapatkan keuntungan bukanlah berapa lama kamu memegang saham tersebut, melainkan apakah perusahaan yg kamu miliki memiliki kemampuan menghasilkan laba secara berkelanjutan.

Sy juga sering mendengar sebagian investor mengatakan, “selama kita menahan saham dalam jangka panjang, harganya pasti akan naik.” Pandangan seperti ini sebenarnya merupakan kesalahpahaman yg cukup berbahaya.

Jika fundamental perusahaan terus memburuk dan kemampuan labanya semakin menurun, maka berapa lama pun kamu menahannya, akan sangat sulit untuk benar-benar menghasilkan keuntungan. Waktu tidak akan secara otomatis memperbaiki sebuah perusahaan yg sedang menuju penurunan, justru sebaliknya, waktu hanya akan memperbesar potensi kerugian yg terjadi.

Investasi nilai yg selama ini sy tekankan pada dasarnya adalah membeli perusahaan-perusahaan unggulan yg di masa depan mampu menghasilkan keuntungan yg terus meningkat. Hanya dengan memiliki perusahaan yg benar-benar memiliki potensi pertumbuhan nyata dan mampu secara konsisten menciptakan nilai bagi pemegang saham, kita dapat memperoleh hasil yg ideal dalam jangka panjang.

Terutama perusahaan yg mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan majemuk tahunan di atas 10% secara stabil, perusahaan seperti ini lebih layak untuk dimiliki dengan pendekatan investasi jangka panjang, sambil tetap dikelola secara dinamis melalui strategi jangka pendek.

Menurut saya, rebound BUMI kali ini ada kemungkinan bisa naik sampe di atas 330

Tentu saja, hal ini bukan berarti strategi jangka pendek tidak dapat menghasilkan keuntungan. Baik investasi jangka panjang maupun jangka pendek sama-sama bisa memberikan hasil, hanya saja pendekatan, fokus, dan aturan yg digunakan sangat berbeda.

Strategi jangka pendek lebih menitikberatkan pada tingkat aktivitas pasar dan perputaran sektor yg sedang menjadi perhatian, dengan tujuan menangkap momentum pergerakan tren yg kuat. Sementara itu, strategi jangka panjang lebih berfokus pada nilai intrinsik perusahaan, keberlanjutan pertumbuhan laba, serta kualitas arus kas.

Sy ingin mengajak kamu untuk kembali mengingat dengan saksama, sejak sy mulai sharing di dalam grup hingga saat ini, baik saham Indonesia maupun saham Amerika yg sy rekomendasikan, sebagian besar merupakan perusahaan yg memiliki rekam jejak pembagian dividen yg stabil.

Hal ini karena saham-saham yg sy pilih hampir semuanya memiliki karakteristik yg sama: pertumbuhan yg sangat kuat, pendapatan dan laba yg terus meningkat secara konsisten, serta pembagian dividen yg stabil.

Alasan sy tetap berpegang pada logika pemilihan saham seperti ini adalah karena sy sangat memahami bahwa, untuk bisa bertahan dalam jangka panjang di pasar keuangan, kita tidak boleh mengambil pendekatan seperti John Alfred Paulson atau Jesse Livermore, yg cenderung mengalami naik turun ekstrem dan mengambil risiko besar secara spekulatif.

Sebaliknya, kita seharusnya mengelola risiko melalui diversifikasi portofolio, sehingga potensi risiko tetap berada dalam batas yg mampu kita kendalikan.

Sy berharap, ketika suatu hari sy memutuskan untuk pensiun dan meninjau kembali perjalanan investasi sepanjang hidup, sy dapat seperti Buffett dan Endre Kosztolányi, di mana kekayaan yg dimiliki selalu berada dalam tren pertumbuhan yg berkelanjutan.

Sy juga dengan tulus berharap setiap orang yg mengikuti sharing ini dapat memahami dengan jelas jalur yg benar untuk mencapai pertumbuhan aset, serta memiliki komitmen untuk menjalankannya secara konsisten dalam jangka panjang.

Jangka panjang sama jangka pendek dua2nya bisa cuan, tp aturannya beda bngt

Diversifikasi itu bantu jaga risiko ttp di batas yg msh bsa ditoleransi, ini yg jadi kunci biar bsa bertahan dlm jangka pjng

Short term lebih liat momentum sama potensi lonjakan, sedangkan jangka pjang lebih fokus ke value perusahaan, profit, sama arus kas 🙏

Terakhir, sy ingin kembali menegaskan bahwa keberhasilan investasi jangka panjang tidak ditentukan oleh berapa lama kamu memegang saham, melainkan oleh apakah perusahaan yg kamu miliki benar-benar berkualitas.

Jika kamu secara sembarangan membeli saham yg tidak memiliki fundamental yg baik, maka sekalipun kamu menahannya selama 10 hingga 20 tahun, hasilnya justru akan semakin merugikan.

Sebaliknya, jika kamu memilih perusahaan yg benar-benar unggulan untuk diinvestasikan dalam jangka panjang, maka tingkat return secara keseluruhan yg kamu peroleh akan jauh melampaui sebagian besar instrumen keuangan lainnya.

Selain itu, semakin tinggi target hasil yg kamu harapkan, maka semakin besar pula kebutuhan akan kesabaran.

Selama kamu percaya pada diri sendiri, serta yakin terhadap arah yg telah kita pilih bersama, melalui proses belajar yg berkelanjutan dan konsistensi dalam menjalankan strategi, pada akhirnya kita semua berpeluang untuk memperoleh hasil investasi yg melampaui rata-rata.

Besok merupakan liburan Hari Buruh. Sy ingin mengucapkan selamat menikmati waktu istirahat, semoga kamu dapat melepas kelelahan dan beristirahat dengan baik. Sy akan kembali melanjutkan sesi sharing pada hari Sabtu, sampai jumpa kembali Sabtu sore.

Selama arahnya bener, ditambah terus belajar, peluang dapetin hasil di atas rata2 itu tetep bisa dikejar 💪

Kalau pegang saham gorengan 10–20 taon, bukannya makin untung malah bs makin gede ruginya

Semoga mingdep pasar saham bisa lbh oke, ada rebound gede dikit lah. Kalo terus turun kayak gini, beneran udah gak kuat lg mainnya😭

Mggu ini pasar saham terus kena dampak sentimen dari luar sampe turun dalam, mggu depan hrsnya ada peluang rebound yg lumayan bagus