Bacalah Selalu !!

Bismillahirrahmanirrahiim ... Alhamdulillah was sholaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain." (HR. Abu Dawud). Ya Allah, semoga tindakan yang kami ambil hari ini didasari ilmu, bukan emosi. Jadikan hasilnya yang Engkau ridhoi untuk masa depan kami. Aamiin.

Kamis, 09 April 2026

Materi Sharing 14 : Jika Pasar Saham Terus Turun Tajam, Bagaimana Sebaiknya Investor Menghadapinya?

Selamat malam semuanya,

Dalam sesi sharing sore tadi, sy sudah menguraikan secara cukup sistematis tiga fase penurunan besar yg pernah terjadi di pasar dalam beberapa tahun terakhir. Setelah sesi tersebut selesai, cukup bnyk teman-teman yg langsung mengajukan pertanyaan yg sangat lugas.

Misalnya, apakah pasar saham selanjutnya akan langsung masuk ke fase kenaikan? Dan jika konflik kembali memanas akibat pengaruh Israel, apakah penurunan pasar akan kembali berlanjut hingga 100 hari ke depan?

Namun sy ingin menegaskan kepada kalian semua, pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya sudah salah arah sejak awal. Mengapa demikian? Karena pasar tidak pernah berjalan mengikuti skenario yg tetap. Tidak setiap peristiwa akan mengulang pola yg sama seperti di masa lalu, dan kita juga tidak bisa menggunakan data historis untuk memprediksi masa depan secara presisi.

Jadi, dibanding terus bertanya apakah pasar selanjutnya akan naik atau turun, jauh lebih penting bagi kita untuk fokus pada satu hal: Jika skenario terburuk benar-benar terjadi, apa langkah yg harus kita ambil? Inilah pertanyaan yg benar-benar memiliki nilai dalam dunia investasi.

Iya, kalo Israel dan Iran terus lanjut konflik, harga minyak kmgkinan besar msh bisa naik lagi

Pasar saham skrg udah sampe di level paling bawah, jadi kemungkinan bsar udah gk bakal turun lagi

Maka sekarang kita akan mencoba melakukan sebuah simulasi yg ekstrem, namun tetap memiliki nilai analisis yg jelas. Pertama, kita harus memahami terlebih dulu, apa yg benar-benar bisa disebut sebagai skenario terburuk yg relevan bagi pasar. Di sini, kita bisa membaginya menjadi dua kategori.

Kategori pertama adalah skenario ekstrem yg cenderung bersifat spekulatif berlebihan. Misalnya, Tiongkok terlibat perang secara penuh, Eropa ikut masuk ke dalam konflik, hingga akhirnya dunia memasuki perang besar skala global, di mana konflik terjadi secara bersamaan di berbagai kawasan.

Dalam kondisi seperti ini, rantai pasok global akan terputus, sebagian besar perusahaan berhenti beroperasi, sistem keuangan kehilangan fungsinya, bahkan pasar saham bisa saja ditutup secara langsung.

Jika situasi benar-benar sampai ke tahap ini, yg perlu kamu pikirkan bukan lagi soal investasi untung atau tidak, melainkan soal bagaimana bertahan hidup. Jadi, skenario terburuk di level seperti ini sebenarnya tidak memiliki nilai referensi bagi pengambilan keputusan investasi.

Sedangkan kategori kedua, inilah yg benar-benar perlu kita pikirkan sebagai kemungkinan terburuk yg relevan. Yaitu kondisi di mana konflik tidak meluas secara global, namun mengalami eskalasi di kawasan Timur Tengah.

Misalnya, negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat mengalami kegagalan, konflik terus berlanjut bahkan semakin meluas, Selat Hormuz mengalami pemblokiran dalam jangka waktu yg cukup lama, sehingga distribusi minyak mentah terganggu. Skenario seperti ini adalah kondisi yg secara realistis bisa terjadi, dan pada saat yg sama akan memberikan dampak langsung terhadap pasar.

Kalo sampe Perang Dunia Ketiga beneran kejadian, itu udh bener2 hrs mikirin gimana caranya bertahan hidup..

Betul bngt nih yg dblg pak Sutanto 😁

Maka jika skenario ini benar-benar terjadi, perubahan apa yg akan muncul di pasar? Mari kita uraikan satu per satu.

Pertama, harga minyak mentah akan mengalami kenaikan signifikan, karena pasokan global menjadi terbatas, dan pasar mulai melakukan repricing berbasis sentimen ketakutan. Akibatnya, harga energi akan bergerak naik dengan cepat, dan inilah titik awal dari seluruh rangkaian dampak yg akan terjadi di pasar.

Selanjutnya, inflasi akan kembali meningkat. Biaya transportasi naik, biaya produksi industri ikut terdorong naik, dan harga pangan juga mengalami kenaikan, sehingga tekanan inflasi global kembali muncul.

Pada tahap akhir, ekspektasi suku bunga akan berbalik arah, harapan penurunan suku bunga menghilang, bahkan berpotensi kembali ke arah pengetatan, sehingga biaya pendanaan ikut meningkat.

Hal ini akan mendorong pasar saham mengalami penurunan secara menyeluruh, sentimen risiko melemah, arus dana keluar dari pasar ekuitas, volatilitas meningkat, dan pasar kembali masuk ke fase penurunan yg didominasi oleh sentimen. Jadi, jika kita tarik kesimpulannya, seluruh perubahan ini pada dasarnya berpusat pada satu faktor inti, yaitu minyak mentah.

Harga minyak naik itu biasanya bakal ikut ngedorong sentimen hampir semua produk

Dulu waktu minyak sempet dibatasi, di Indo sempet kacau banget, soalnya cadangan minyak mereka cuma cukup buat sekitar seminggu, jdi memang harus siapin cadangan minyak lebih banyak..

Maka dalam kondisi seperti ini, apa yg seharusnya kita lakukan? Inilah bagian yg paling krusial:

Langkah pertama, jangan melakukan penjualan secara panik. Kalian harus memahami satu hal terlebih dulu, bahwa penurunan seperti ini pada dasarnya tetap didorong oleh sentimen. Sama seperti pandemi tahun 2020, konflik di tahun 2022, maupun tekanan kebijakan di tahun 2025, bukan karena fundamental perusahaan tiba-tiba memburuk, tetapi lebih karena pasar sedang berada dalam kondisi ketakutan.

Langkah kedua, kita harus jelas melihat siapa yg akan terdampak dan siapa yg justru diuntungkan. Sektor yg paling terpukul biasanya adalah perusahaan teknologi dengan valuasi tinggi, perusahaan dengan tingkat utang besar, serta perusahaan yg sangat bergantung pada perdagangan global.

Sebaliknya, sektor energi seperti minyak dan gas, batubara, sumber daya logam, serta utilitas dan konsumsi pokok justru cenderung menghasilkan pendapatan. Inilah yg disebut sebagai perubahan struktural di pasar, bukan penurunan menyeluruh tanpa arah.

Langkah ketiga, tetap jalankan strategi inti kalian. Jika kalian menggunakan kerangka investasi seperti Vanguard, maka yg perlu dilakukan bukan mengubah arah, melainkan tetap memegang aset inti, menerima adanya volatilitas sebagai bagian dari proses, dan memanfaatkan penurunan harga untuk mengoptimalkan biaya kepemilikan, bukan justru keluar dari pasar. Karena dalam jangka panjang, logika dasar pasar tidak akan berubah hanya karena satu peristiwa konflik.

Jadi yg harus kalian pahami sekarang adalah satu hal penting: dalam investasi, bukan soal menghindari skenario terburuk, melainkan bagaimana tetap bertahan saat skenario terburuk itu terjadi.

Jika sistem yg kamu miliki adalah setiap kali pasar turun langsung panik, setiap kali harga saham turun langsung ingin menjual, dan terus menerus meragukan keputusan sendiri, maka di kondisi pasar seperti apa pun, kamu akan sulit mendapatkan hasil yg optimal.

Namun jika sistem yg kamu miliki adalah: kamu sudah mempertimbangkan skenario terburuk dan memahami bagaimana cara menghadapinya, maka penurunan hanyalah bagian dari proses, volatilitas hanyalah alat, dan kepanikan justru berubah menjadi peluang.

Karena investor yg benar-benar unggul bukanlah mereka yg mampu memprediksi masa depan, melainkan mereka yg sudah menyiapkan diri untuk menghadapi berbagai kemungkinan yg akan terjadi di masa depan.

Jadi, dibandingkan terus bertanya “apakah pasar akan turun?”, lebih baik tanyakan pada diri sendiri, “jika pasar kembali mengalami penurunan, apakah sy sudah tahu apa yg harus dilakukan?” Ketika kamu sudah bisa menjawab pertanyaan ini dengan jelas, berarti posisi kamu sudah berada di atas sebagian besar investor lainnya.

Namun jika kamu masih belum yakin, maka meskipun saat ini kamu belum menggunakan kerangka investasi Vanguard, kamu tetap bisa kembali mempelajari portofolio yg sebelumnya sudah sy bagikan kepada kalian semua.

Pasar turun itu sebenernya hal yg biasa, yg penting itu abis turun km mau ngapain

Kadang justru pas lagi panik, di situ malah ada peluang

Bagian ini sy setuju bngt 👍

Dalam tiga arah inti yg sudah kita susun sebelumnya, kalian bisa coba kembali melihat performanya saat pasar terus mengalami penurunan di bulan Maret. Sepanjang bulan tersebut, selain sektor perbankan yg terdampak konflik sehingga harganya terus melemah, kalian bisa perhatikan saham inti yg sudah sy bagikan seperti BUMI, EXCL, TAPG, INKP, dan UNVR.

Secara keseluruhan, kinerja mereka jelas jauh lebih kuat dibandingkan pergerakan IHSG. Jadi, jika kondisi pasar kembali memburuk dan benar-benar berjalan sesuai skenario terburuk, sy yakin hasil investasi kita tetap akan jauh melampaui sebagian besar investor lainnya.

Tentu saja sy juga memahami, jika skenario terburuk benar-benar terjadi ke depannya, bnyk dari kalian saat menghadapi penurunan pasar, reaksi pertama yg muncul adalah rasa takut.

Namun sy ingin menegaskan satu hal dengan sangat jelas, penurunan di pasar saham sebenarnya sama sekali tidak perlu ditakuti. Bahkan, dari sudut pandang investasi jangka panjang, justru hanya saat pasar mengalami penurunanlah, peluang terbesar benar-benar muncul.

Akhir2 ini bbrp saham ini performanya lumayan bagus ❤️

Mengapa sy terus menekankan kesimpulan ini berulang kali? Bukan karena penilaian subjektif, tetapi karena pasar sendiri sudah memberikan jawabannya melalui puluhan tahun sejarah. Dan jawaban tersebut justru berasal dari para investor paling sukses di dunia, serta aliran dana institusi terbesar.

Di sini kita bisa melihat beberapa contoh yg sangat representatif:

Pertama, penurunan ekstrem pada BAC di tahun 2008. Pada periode krisis keuangan global tersebut, BAC terdampak langsung oleh krisis subprime, sehingga harga sahamnya sempat turun lebih dari 90%.

Saat itu, pasar berada dalam kondisi sistem keuangan yg terguncang, sentimen investor sangat negatif, dan arus dana besar-besaran keluar dari sektor perbankan. Di mata sebagian besar pelaku pasar, ini adalah sektor yg harus dihindari sepenuhnya.

Namun apa yg dilakukan oleh Warren Buffett? Ia justru terus melakukan akumulasi, dan pada akhirnya di tahun 2011 menjadi salah satu pemegang saham penting di BAC. Hal ini menunjukkan satu hal yg sangat krusial, bahwa peluang investasi yg sebenarnya tidak pernah muncul pada saat kondisi terlihat aman.

Pas pasar lagi paling panik, biasanya justru aset2 unggulan malah kena jual berlebihan

Bnyk org selalu nunggu risiko lewat dulu baru masuk, padahal di momen itu harga murahnya udh keburu hilang

Nah ini dia yg bikin beda antara yg sdah jago sama investor biasa

Kedua, krisis fase pada AAPL di tahun 2016. Pada saat itu, Apple menghadapi perlambatan pertumbuhan penjualan iPhone serta meningkatnya persaingan di pasar Tiongkok, sehingga memicu keraguan pasar terhadap prospek pertumbuhan ke depannya. Harga saham pun mengalami penyesuaian secara berkelanjutan.

Dalam pandangan mayoritas pelaku pasar saat itu, pertumbuhan Apple dianggap sudah mencapai puncaknya. Namun justru pada tahun tersebut, AAPL menjadi posisi terbesar dalam portofolio Warren Buffett. Hal ini menunjukkan bahwa level beli terbaik pada perusahaan unggulan sering kali muncul saat pasar mulai meragukan prospeknya.

Ketiga, salah satu investasi paling klasik dari Warren Buffett, yaitu Goldman Sachs. Banyak orang mengatakan bahwa Buffett melakukan pembelian di level terendah pada Goldman Sachs. Namun jika kita benar-benar melihat detailnya, kenyataannya tidak demikian.

Pada tanggal 25 September 2008, yaitu hari ke-10 setelah kebangkrutan Lehman Brothers, pasar saat itu berada dalam kondisi yang sangat kacau dan penuh ketidakpastian.

Warren Buffett kemudian mengumumkan investasi sebesar 5 miliar dolar AS ke Goldman Sachs, dengan harga masuk di kisaran 110–112 dolar. Namun apa yg terjadi setelah itu? Pasar justru terus mengalami tekanan, dan harga saham Goldman Sachs turun hingga ke level sekitar 38 dolar, dengan penurunan lebih dari 66%.

Pada saat itu, bagaimana pasar menilai investasi tersebut? “Buffett juga melakukan kesalahan”, “ini adalah transaksi yg gagal.” Namun bagaimana hasil akhirnya? Dalam 6 bulan, harga saham kembali ke 115, dan dalam 11 bulan naik hingga 150. Buffett pun memperoleh tingkat return yg sangat tinggi.

Maka dari ketiga contoh ini, hal yg seharusnya kalian lihat bukanlah bahwa “Buffett selalu membeli di level terendah”, melainkan bahwa ia berani masuk ke pasar pada saat ketidakpastian berada di level tertinggi. Karena faktanya, tidak ada satu pun yg bisa secara presisi membeli di level terendah.

Bahkan Buffett sendiri, setelah membeli Goldman Sachs, harga sahamnya masih sempat turun hingga 66%, dan saat membeli BAC pun ia juga harus melalui fluktuasi yg sangat besar. Namun ada satu hal yg ia lakukan dengan tepat, yaitu mulai melakukan akumulasi justru pada saat kondisi pasar berada di titik paling gelap.

Maka sekarang kita kembali ke logika yg paling mendasar. Ketika pasar berada dalam fase kenaikan, harga sebenarnya sudah mencerminkan ekspektasi optimis, risiko sering kali diabaikan, dan ruang kenaikan menjadi semakin terbatas, sehingga yg kamu beli pada dasarnya adalah masa depan yg sudah terharga.

Sebaliknya, ketika pasar mengalami penurunan, sentimen ketakutan mulai terlepas, ekspektasi ditekan ke level yg lebih rendah, dan aset unggulan sering kali ikut terkoreksi secara berlebihan, sehingga yg kamu beli justru adalah masa depan yg masih berada dalam kondisi undervalued.

Ini baru yg namanya beda cara mikir yg sebenarnya

Bnyk orang selalu nunggu pasar bnr2 aman dlu baru beli, padahal hrganya pas wktu itu biasanya udah naik lagi

Jadi, penurunan pada dasarnya sedang memberikan kamu harga yg lebih baik. Lalu mengapa sebagian besar orang tidak bisa mendapatkan bagian profit ini? Karena saat pasar turun, sentimen didominasi oleh rasa takut, berita dipenuhi oleh hal-hal negatif, dan harga terus mencetak level terendah baru.

Hal ini menciptakan ilusi seolah saat ini jauh lebih berbahaya dibanding masa depan. Padahal kenyataannya, semakin tinggi tingkat kepanikan di pasar, semakin besar potensi return di masa depan.

Inilah juga alasannya mengapa di bulan Maret sy terus menekankan satu hal. Pada saat itu, pasar saham global sedang mengalami penurunan, ketidakpastian akibat konflik meningkat, dan sentimen berada di level sangat pesimis.

Mengapa sy terus membahas soal value investing, logika jangka panjang, serta strategi akumulasi di area bawah? Karena sy memahami bahwa dalam fase seperti ini, bukan risiko yg semakin membesar, melainkan peluang yg justru semakin terbuka.

Kalian harus benar-benar memahami satu hal, level beli terbaik di pasar tidak pernah muncul saat kondisi terasa paling aman, melainkan justru saat terasa paling tidak nyaman. Karena itu, kalian harus belajar satu hal penting: ketika orang lain panik, setidaknya kalian tidak ikut panik.

Dan jika kalian bisa melangkah lebih jauh, yaitu secara bertahap membangun posisi di tengah kepanikan, maka potensi hasil di masa depan sebenarnya sudah ditentukan sejak momen kalian melakukan pembelian tersebut.

Waktu Maret kmrn pas sentimennya lagi jelek2nya, bpk terus bilang buat mulai masuk, skrg kalo diliat lagi emang masuk akal sih

Maka jika skenario terburuk benar-benar terjadi, apa yg seharusnya kita lakukan? Apakah kita harus ikut panik seperti pasar dan segera menjual saham untuk mengurangi kerugian, atau justru seperti Warren Buffett, memanfaatkan penurunan besar ini untuk membeli saham unggulan yg terdorong turun oleh sentimen?

Jawaban yg tepat adalah melakukan keduanya secara terarah. Pertama, kita harus mampu membedakan saham mana yg benar-benar memiliki nilai investasi. Seperti halnya Warren Buffett, setelah pasar mengalami penurunan tajam, ia berani mengambil posisi besar di Goldman Sachs, namun tidak serta-merta membeli seluruh saham di sektor perbankan investasi.

Kita juga harus mampu membedakan saham yg saat ini kita pegang, apakah memiliki kemampuan untuk tetap mendapatkan pengakuan dari pasar maupun dukungan kebijakan saat kondisi krisis terjadi. Bagi banyak perusahaan besar, faktor ini sangat krusial.

Selanjutnya, yg perlu kita lakukan adalah tidak bereaksi seperti sebagian besar investor yg panik. Karena dalam investasi saham, untuk benar-benar memperoleh profit, kita harus membeli saat harga berada di level rendah, dan menjual ketika harga sudah mengalami kenaikan. Dari situlah kita mendapatkan selisih pendapatan yg optimal.

Ngerti, jd kita hrs paham betul kondisi saham yg kita pegang, kira2 kalo ada kondisi buruk apakah bs dapet dukungan kebijakan atau nggak

Pas pasar lagi turun, justru bs dptin saham yang bnar2 punya nilai

Bahkan jika kita melihat dari sudut pandang yg lebih konservatif, misalnya kamu ingin memegang saham unggulan dalam jangka panjang dan mendapatkan pendapatan dari dividen secara stabil setiap tahunnya, maka harga beli menjadi faktor yg sangat menentukan.

Semakin rendah harga beli kamu, maka semakin besar tingkat pendapatan dividen yg bisa kamu peroleh di masa depan. Hal ini karena pembagian dividen dihitung berdasarkan jumlah lembar saham yg kamu miliki, bukan berdasarkan harga beli saham tersebut.

Sebagai contoh, pada pembagian dividen BMRI di tahun 2025 sebesar 466 rupiah per lembar. Jika kamu membeli di harga 4000, maka tingkat dividen yg kamu peroleh setara sekitar 11,6%. Namun jika kamu membeli di harga 6000, maka tingkat dividen tersebut hanya sekitar 7,7%.

Oleh karena itu, jika dilihat dari sudut pandang investasi yg lebih praktis, baik tujuan kamu adalah mendapatkan pendapatan dari kenaikan harga saham, maupun memperoleh pendapatan dari dividen melalui kepemilikan jangka panjang atas saham unggulan, maka langkah yg perlu dilakukan pada dasarnya sama, yaitu melakukan pembelian saat harga saham potensial sedang mengalami penurunan, agar hasil yg didapat bisa dimaksimalkan.

Dan ketika pasar terus mengalami penurunan, hanya ada satu alasan yg bisa membuat kita tetap yakin untuk bertahan, yaitu bahwa perusahaan yg kita miliki memang benar-benar berkualitas. Selain itu, ketika kondisi pasar membaik di masa depan, harga sahamnya memiliki dasar yg kuat untuk kembali naik secara stabil.

Lalu, saham seperti apa yg bisa memenuhi kriteria tersebut? Di sini, kalian perlu memahami satu inti paling penting dalam investasi saham, yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan profit.

Sama2 BMRI bagi dividen, beli di 4000 sama di 6000 itu beda banget tingkat keuntungannya

Makanya yg bnr2 ngerti investasi jangka pjang itu biasanya ngeliat penurunan sbg ksmpetan buat ningkatin tingkat returnnya💪

Cuma perusahaan yg profitnya stabil dan punya peluang pulih pas kondisi ke dpnnya membaik, itu yg layak dihold long term

Di sini kita ambil BMRI sebagai contoh. Setidaknya untuk perusahaan seperti ini, sy yakin hampir tidak ada yg benar-benar percaya bahwa perusahaan ini akan bangkrut. Sebagai bank besar, setiap tahunnya perusahaan ini memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian, baik dari sisi pendapatan maupun penciptaan lapangan kerja.

Sekarang kita bisa pikirkan satu hal sederhana, ketika kamu memiliki dana menganggur, menempatkannya di bank pasti menjadi salah satu pilihan utama. Karena menyimpan dana di bank memberikan rasa aman yg tinggi, tanpa risiko kehilangan pokok dana. Namun di sisi lain, tingkat pendapatannya juga relatif tetap dan terbatas. Jika kita asumsikan pendapatan sekitar 5% per tahun, maka investasi seperti ini pada dasarnya tidak memiliki masalah besar, kecuali tingkat return yg relatif rendah.

Namun selain tingkat pendapatan yg relatif rendah, sebenarnya ada satu karakteristik lain dari deposito yg sering diabaikan, yaitu likuiditas yg sangat terbatas. Misalnya, jika kamu menempatkan dana tersebut di bank selama 3 bulan, lalu tiba-tiba membutuhkan dana tersebut, maka pendapatan yg kamu peroleh bisa berkurang signifikan, bahkan kamu juga harus melalui proses administrasi tertentu untuk mencairkannya.

Hal ini tentu saja sudah dipahami oleh sebagian besar dari kita. Jadi, rendahnya likuiditas merupakan salah satu ciri utama dari instrumen seperti deposito. Sekarang kita ubah sudut pandang. Dengan jumlah dana yg sama, ketika tingkat dividen BMRI sudah berada di atas 7%, lalu kamu memilih untuk membeli saham BMRI, maka apa saja risiko dan potensi pendapatan yg akan kamu hadapi?

Risiko yg kamu hadapi adalah harga saham BMRI bisa saja mengalami penurunan, sehingga nilai pokok investasi kamu ikut tertekan. Namun di sisi lain, jika harga saham naik, maka nilai investasi kamu juga akan ikut meningkat. Bagian ini nanti akan kita bahas lebih lanjut.

Sekarang coba kita pikirkan satu hal, jika harga BMRI terus mengalami penurunan, maka dengan jumlah dana yg sama, kamu justru bisa membeli lebih banyak lembar saham. Pada saat pembagian dividen, jumlah dividen yg kamu terima pun akan semakin besar.

Jika membeli di harga saat ini, tingkat dividen yg bisa diperoleh sekitar 7%. Namun jika harga BMRI turun ke 4000, maka tingkat dividen bisa meningkat menjadi sekitar 11%. Dan jika harga turun ke 3500, maka potensi dividen bisa mencapai 13% atau bahkan lebih tinggi.

Dengan uang yang sama, harga makin murah berarti bs dapetin lembar saham lebih bnyak, ini penting bngt nih

Kalau perusahaannya emang cukup kuat, kyk BMRI gini, turunnya malah lbh keliatan kayak lagi ngasih ksmptn😇

Kita perlu memahami bahwa besaran dividen yg dibagikan oleh perusahaan memang memiliki kaitan tertentu dengan harga saham, namun pada dasarnya lebih banyak ditentukan oleh kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba.

Artinya, jika konflik benar-benar terus meluas, harga saham bisa saja mengalami penurunan signifikan akibat sentimen pasar yg pesimis. Namun secara fundamental, sebagai bank besar, operasional BMRI tidak serta-merta terdampak secara signifikan.

Oleh karena itu, ketika harga BMRI turun hingga ke level tertentu, justru karena tingkat return dividennya menjadi semakin menarik, saham ini akan berpotensi menarik arus dana besar untuk masuk dan melakukan pembelian di area bawah.

Dan hal ini juga berlaku pada saham lainnya seperti UNVR, EXCL, TAPG, maupun UNTR, yaitu perusahaan besar dengan dividen yg relatif stabil.

Pertama, dalam kondisi krisis pasar secara menyeluruh, probabilitas perusahaan-perusahaan ini mengalami kebangkrutan jauh lebih rendah dibandingkan dengan banyak perusahaan skala kecil dan menengah. Artinya, berinvestasi pada perusahaan seperti ini, secara relatif memiliki risiko yg lebih terkendali.

Kedua, perusahaan-perusahaan tersebut memiliki model bisnis yg stabil dan mampu menghasilkan laba secara konsisten setiap tahunnya, sehingga dapat memberikan dividen yg berkelanjutan kepada investor. Oleh karena itu, bagi banyak institusi besar, ketika harga saham mereka mengalami penurunan signifikan, hal ini secara langsung mendorong kenaikan tingkat dividen.

Dalam kondisi seperti ini, biasanya akan muncul arus dana institusi yg masuk untuk melakukan akumulasi di harga rendah. Dan inilah yg pada akhirnya membuat harga saham mereka cenderung lebih cepat stabil kembali setelah mengalami penurunan.

Sya setuju bngt nih, saham besar kalau sampe yield dividennya jadi tinggi, biasanya dana institusi pasti bakal balik masuk

Jadi bagi kita saat ini, hal yg paling penting adalah segera mengevaluasi apakah saham yg kita miliki benar-benar memiliki nilai seperti yg telah kita bahas. Karena dalam sejarah pasar saham selama ratusan tahun, hampir setiap 2 tahun selalu muncul fase penurunan berbasis sentimen secara sistematis.

Di tengah siklus berulang antara penurunan dan pertumbuhan ini, ada investor yg mampu membuat kekayaannya terus berkembang dengan cepat, namun ada juga yg justru mengalami penyusutan aset secara signifikan setiap kali pasar turun. Dan perbedaan hasil ini pada akhirnya ditentukan oleh satu hal, yaitu apakah kamu benar-benar mampu memanfaatkan momen khusus tersebut dengan cara yg tepat.

Seperti yg sudah sy sampaikan dalam sharing ini, termasuk saat membahas metode investasi dari Vanguard Group, pada dasarnya setiap kali terjadi krisis finansial, justru menjadi fase di mana tingkat pendapatan Vanguard meningkat paling cepat.

Dan apa yg dilakukan Vanguard sebenarnya sangat sederhana, yaitu mengalokasikan dana secara terfokus pada perusahaan-perusahaan terbesar di pasar. Bagi kita, pendekatan ini juga merupakan salah satu cara yg paling efektif. Karena kita bukanlah pengelola dari setiap perusahaan terbuka, sehingga tidak mungkin memahami seluruh detail internal yg tidak terlihat oleh publik.

Namun selama sebuah perusahaan memiliki nilai yg tinggi, maka secara alami akan menarik lebih banyak investor, termasuk pihak-pihak yg memiliki pemahaman lebih dalam, untuk terus melakukan akumulasi. Hal ini pada akhirnya akan mendorong harga sahamnya naik, sekaligus memperkuat skala dan posisi perusahaan tersebut di pasar.

Pasar tiap bbrp thn pasti ada fase panik yg bikin harga anjlok, tapi ujung2nya yg bikin beda itu kualitas saham yg kita pegang

Yang bikin Vanguard hebat itu bukan krna jago nebak, tapi krna selalu ada di sisi aset yang paling kuat 👍

Perusahaan gede biasanya lebih gampang bertahan lewatin masa sulit

Oleh karena itu, memilih langsung perusahaan-perusahaan terbesar di pasar untuk diinvestasikan, pada dasarnya sama dengan memilih perusahaan yg paling berpotensi untuk terus bertumbuh. Maka langkah selanjutnya bagi kita adalah melakukan pengelompokan dan konsentrasi investasi secara lebih terarah.

Di sini sy juga bisa menyampaikan dengan cukup jelas, jika dana yg kamu miliki cukup besar, maka mengalokasikan sekitar 30% ke 20 perusahaan terbesar di pasar dapat menjadi strategi yg berpotensi memberikan pendapatan yg lebih unggul di masa depan.

Sebaliknya, jika dana yg dimiliki belum terlalu besar, maka langkah yg lebih tepat adalah mulai melepas saham-saham yg tidak memiliki nilai kuat, lalu menata kembali portofolio dengan perencanaan yg lebih jelas dan terstruktur.

Namun melalui sharing malam ini, sy harap kalian bisa memahami satu hal penting. Baik Warren Buffett maupun Vanguard, metode investasi mereka sebenarnya sangat sederhana namun efektif, yaitu menemukan perusahaan-perusahaan yg benar-benar memiliki nilai, mengabaikan fluktuasi penurunan jangka pendek di pasar, lalu membeli dengan keyakinan dan memegangnya dengan sabar.

Meskipun dalam jangka pendek pasar bisa mengalami penurunan yg sangat besar, selama pilihan investasi kita memang memiliki nilai yg kuat, maka ketika sentimen pasar mulai stabil, kecepatan rebound harga sering kali jauh melampaui ekspektasi. Karena pada dasarnya, inti dari investasi saham tetap kembali pada satu hal, yaitu menilai potensi nilai dari sebuah perusahaan.

Seperti BMRI saat ini dengan tingkat dividen sekitar 7%. Jika harganya kembali turun, maka tingkat dividen tersebut bisa meningkat menjadi 7% bahkan lebih tinggi. Dalam kondisi dengan dividen tinggi dan stabil seperti ini, menurut kamu, apakah tidak akan menarik minat banyak investor untuk masuk dan melakukan akumulasi?

Alokasi 30% ke 20 perusahaan terbesar, cara kyk gini jelas jauh lbh stabil dibanding asal beli saham kecil

Yang paling penting itu bersihin dulu saham2 yang kualitasnya jelek

Ok, untuk sharing malam ini kita cukupkan sampai di sini. Sy berharap melalui pembahasan hari ini, kalian bisa memiliki pemahaman yg lebih dalam terhadap pergerakan naik dan turun di pasar saham, bukan sekadar merasa khawatir terhadap hal-hal yg bahkan belum terjadi. Bahkan jika skenario terburuk benar-benar muncul, sy tetap berharap kalian bisa memahami esensi dari investasi saham di tengah penurunan pasar ke depannya.

Seperti yg terjadi tahun lalu, ketika harga saham mengalami penurunan besar, sangat sedikit orang yg benar-benar berani melakukan pembelian dalam jumlah signifikan. Sebaliknya, banyak yg baru mulai tertarik membeli setelah pasar sudah naik cukup tinggi, baik karena melihat orang di sekitar maupun dipengaruhi oleh berita. Dan pada akhirnya, mereka justru melewatkan peluang terbaik yg sebenarnya sudah muncul sebelumnya.

Saat ini, fase rebound besar di pasar bahkan belum benar-benar dimulai. Pertanyaannya, apakah kamu sudah benar-benar siap? Dan apakah kamu sudah tahu langkah apa yg harus dilakukan, agar tidak kembali menjadi investor yg baru masuk setelah pasar sudah naik signifikan? Inilah pertanyaan yg paling penting.

Terakhir, di fase yg cukup spesial ini, sy juga sedang memikirkan satu hal. Saat ini bukan hanya menjadi momen terbaik bagi kita untuk terus mengakumulasi saham potensial di harga rendah, tetapi juga merupakan periode yg sangat penting bagi kalian untuk mempercepat proses belajar.

Sy yakin, setelah kalian melewati satu siklus penurunan dan kenaikan pasar ini, maka ke depannya baik dalam kehidupan maupun investasi, kalian akan berada di level yg benar-benar berbeda. Karena itu, sy juga sedang mempertimbangkan bagaimana cara memberikan sharing yg lebih efektif kepada kalian.

Di sini, sy berharap kalian bisa aktif berkomunikasi dengan sy maupun asisten, sehingga kita bisa bersama-sama memanfaatkan dampak dari situasi konflik dan pergerakan pasar ini, untuk mencapai target pertumbuhan aset yg jauh lebih optimal di masa depan, kita lanjutkan lagi besok.

Penutup bagian ini berasa kuat bngt, soalnya mslh kebnyakan orang selalu baru sadar pas tren udh jalan duluan💪

Skrg ini bukan cuma fase buat mulai masuk, tapi jg momen penting buat ngebedain cara mikir yg bener2 keliatan bedanya

Peluang yg bnr2 bagus itu biasanya bukan pas semua org udh ngerti, tapi justru pas kebanyakan org masih takut

Skrg ini yang paling penting itu belajar dulu, ini lebih penting dari apa pun

Selamat malam semuanya,🌸

Pak Sutanto udah siapin bbrp pilihan portofolio saham utk kalian.

Ada yg cocok utk dana besar, yaitu 20 saham, dan jg ada yg cocok utk dana kecil, yaitu 5 saham. Khusus utk investor Muslim, jg udah disiapin 2 pilihan saham yg sesuai.

Kalau kalian tertarik investasi di pasar saham AS atau Singapura, Pak Sutanto jg udah siapin daftar sahamnya.

👇Kalau ada yg butuh, bisa langsung hubungi sy, utk list sahamnya bisa didapetin secara gratis yah!