Seiring dengan kenaikan bertahap harga saham yg kita investasikan pekan ini, sy memperhatikan bahwa sebagian dari kalian mulai memiliki pemikiran: apakah sebaiknya kita segera menjual saat pasar sedang naik untuk merealisasikan profit, lalu menunggu pasar mengalami penyesuaian kembali sebelum masuk lagi, membeli di level bawah, dan mengejar profit jangka pendek?
Secara prinsip, sy sangat memahami pola pikir ini. Dalam praktik investasi yg nyata, dorongan untuk segera menjual ketika sudah memperoleh profit memang merupakan hal yg sangat umum terjadi.
Namun demikian, pengalaman nyata di pasar menunjukkan bahwa strategi keluar-masuk pasar secara terlalu sering seperti ini, dalam sebagian besar kasus, justru tidak menghasilkan profit yg konsisten, melainkan lebih sering berujung pada kerugian.
Met malem Pak Sutanto, pasar saham kita skrg lagi di area bawah ya?
Di kondisi skrg, kalo mau mulai masuk di area bawah, wajib pilih saham yg fundamentalnya bagus dan kemampuan profitnya kuat
Misalnya, ketika harga saham sudah naik dan mulai menghasilkan profit, sebagian orang cenderung terburu-buru menjual karena khawatir jika harga turun, profit mereka akan berkurang bahkan berubah menjadi kerugian.
Sebaliknya, ketika saham sedang dalam kondisi rugi, mereka justru memilih untuk menunggu, berharap harga bisa kembali naik hingga tidak rugi baru mau menjual. Jika tidak, mereka khawatir setelah menjual justru harga malah naik lagi dan menimbulkan rasa penyesalan.
Padahal, berdasarkan pengalaman sy selama bertahun-tahun di dunia investasi, pola psikologis seperti ini sangat umum terjadi. Dan justru karena pola pikir seperti ini, banyak investor akhirnya kehilangan peluang investasi yg benar-benar penting, serta sulit mendapatkan return yg stabil dalam jangka panjang.
Dan memang sejak kemarin, sy melihat semakin banyak teman-teman yg mulai menyampaikan pemikiran terkait investasi jangka pendek. Hal ini juga membuat sy cukup serius memikirkan topik tersebut. Karena itu, dalam sharing malam ini, sy tidak ingin terlalu banyak membahas kondisi pasar saham saat ini maupun prediksi arah pergerakan ke depannya.
Sebaliknya, sy ingin mengajak kalian untuk membahas secara lebih mendalam mengenai topik investasi jangka pendek ini. Bagaimanapun, dalam pengalaman sy selama bertahun-tahun di dunia investasi, sy memang mengenal cukup banyak investor jangka pendek, bahkan juga melihat langsung beberapa yg bisa dikatakan berhasil dalam strategi tersebut.
Namun hingga saat ini, jika dilihat dari akumulasi kekayaan pribadi, di antara mereka tetap belum ada yg melampaui hasil yg sy capai. Oleh karena itu, terkait apakah investasi jangka pendek layak untuk diikuti, sy berharap melalui sharing ini, kalian bisa membentuk penilaian dan keputusan kalian sendiri secara lebih rasional.
Sy jg sering kayak gini, saham yg untung malah dijual kepagian
Kalau mau dapetin profit yg lebih maksimal, emang hrs fokus ke strategi jangka pjang
Maka untuk hari ini, kita sementara tinggalkan dulu pembahasan tentang operasional di pasar saham, dan kita mulai dengan sebuah simulasi sederhana. Bayangkan saat ini kamu memiliki 1 juta rupiah, lalu kita bermain sebuah permainan lempar koin.
Koin tersebut sepenuhnya adil, dengan probabilitas muncul sisi depan dan belakang masing-masing sebesar 50%. Aturannya juga sangat sederhana: jika koin menunjukkan sisi depan, maka dana kamu akan bertambah 50%; namun jika yg muncul adalah sisi belakang, maka dana kamu akan berkurang sebesar 80%.
Apakah kamu akan memainkan permainan ini? Sy rasa sebagian besar orang, begitu mendengarnya, akan langsung menolak.
Karena jika dihitung secara matematis, kita bisa langsung mengetahui bahwa ini adalah permainan dengan ekspektasi negatif:
Expected return = (50% × 0,5) + (-80% × 0,5) = 25% - 40% = -15%
Artinya, secara rata-rata setiap kali bermain, kamu akan mengalami kerugian sebesar 15%. Dengan kata lain, ini jelas merupakan permainan yg merugikan, dan secara rasional tidak ada investor yg seharusnya ikut serta dalam permainan seperti ini.
Kalau begitu sekarang mari kita sedikit ubah aturan permainannya. Sebagai seseorang yg menjunjung prinsip kejujuran, tentu sy ingin membuat permainan ini menjadi menguntungkan bagi semua pihak. Maka, kita balik saja aturannya.
Dengan aturan yg telah disesuaikan: jika koin menunjukkan sisi depan, maka dana kamu akan bertambah sebesar 80%; namun jika yg muncul sisi belakang, maka dana kamu akan berkurang sebesar 50%.
Dalam kondisi seperti ini, apakah kamu masih akan bermain? Banyak orang mungkin akan mulai tertarik, karena jika dihitung, ekspektasi keuntungannya berubah menjadi: expected return = (80% × 0,5) + (-50% × 0,5) = 40% - 25% = +15%
Sekilas terlihat bahwa setiap kali bermain, kamu berpotensi memperoleh rata-rata profit 15%, seolah-olah ini adalah permainan yg pasti menguntungkan.
Ini keliatannya sih bisa dicoba 😂
Menurut saya, model permainan kayak gini biasanya ada jebakannya
Kalau begitu, mari kita benar-benar coba simulasikan. Misalkan kamu memiliki modal awal 1 juta rupiah, lalu memainkan permainan ini sebanyak 100 kali. Setelah dihitung secara ketat menggunakan simulasi, hasilnya justru cukup mengejutkan.
Di sekitar percobaan ke-30, dana kamu sudah habis sepenuhnya. Mungkin kamu akan berpikir ini hanya karena nasib yg kurang baik. Namun, tidak peduli berapa kali simulasi ini diulang, hasilnya tetap menunjukkan bahwa dalam sebagian besar kasus, pada akhirnya kamu tetap akan kehilangan seluruh modalmu.
Yg lebih mengejutkan lagi adalah, jika ada 100 orang memainkan permainan ini secara bersamaan, masing-masing bermain sebanyak 30 kali dengan modal awal 1 juta, maka hasil akhirnya menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil yg bisa memperoleh profit, sementara lebih dari 80% justru mengalami kerugian.
Hal ini terdengar sangat bertentangan dengan logika umum. Padahal secara perhitungan, nilai ekspektasinya bersifat positif, namun mengapa sebagian besar orang justru kehilangan seluruh modalnya? Inilah yg dikenal sebagai Coin Toss Paradox.
Ini soal probabilitas, peluang buat terus menang tiap kali itu kecil banget
Coin Toss Paradox itu mksdnya apa ya?
Ngerti, tolong Pak Sutanto bisa jelasin ke kita dgn lebih detail ya😎
Selanjutnya, mari kita analisis secara lebih mendalam. Agar analisis menjadi lebih sederhana dan mudah divisualisasikan, kita asumsikan jumlah permainan dikurangi menjadi 6 kali. Dengan begitu, kita bisa menggambarkan setiap kemungkinan hasil dalam bentuk route tree.
Pada diagram tersebut, garis merah merepresentasikan hasil koin sisi depan, yaitu kondisi di mana kita memperoleh profit sebesar 80%. Sedangkan garis hijau menunjukkan sisi belakang, yg berarti kita mengalami kerugian sebesar 50%. Dengan 6 kali permainan, pada akhirnya kita akan mendapatkan tujuh titik akhir.
Kita mulai dari dua kondisi yg paling ekstrem. Titik akhir paling atas merepresentasikan situasi di mana 6 kali percobaan semuanya menghasilkan sisi depan. Jalur menuju titik ini hanya ada satu. Jika ada seseorang yg benar-benar seberuntung itu, maka setelah enam kali permainan, dana yg dimilikinya bisa meningkat menjadi sekitar 34 juta rupiah.
Bahkan, jika kemenangan tersebut terjadi hingga 100 kali berturut-turut, maka nilai asetnya bisa mencapai sekitar 1.174.313.000.000 rupiah, sebuah hasil yg sangat besar. Sebaliknya, jika yg terjadi adalah hasil koin selalu sisi belakang, maka kita akan sampai pada titik akhir paling bawah. Jalurnya juga hanya satu. Dalam kondisi ini, jika permainan dilakukan hingga 100 kali, maka dana yg dimiliki akan terus menyusut hingga mendekati nol.
Model permainan kayak gini emg butuh perhitungan yg bner2 presisi
Namun, kedua kondisi tersebut dalam teori probabilitas termasuk kategori kejadian dengan peluang sangat kecil, sehingga secara praktis hampir tidak mungkin terjadi.
Sebaliknya, skenario yg paling besar kemungkinannya justru berada di titik tengah. Hal ini karena jumlah jalur yg dapat mengarah ke titik tersebut adalah yg paling banyak. Bahkan dalam simulasi sederhana sebanyak enam kali percobaan, terdapat hingga dua puluh kombinasi jalur yg dapat mencapai titik ini. Oleh karena itu, jumlah individu yg berakhir di titik tersebut juga menjadi yg paling dominan.
Lalu, berapa hasil akhir pada titik ini? Jika permainan dilakukan sebanyak enam kali, maka hasil akhirnya kira-kira berada di sekitar -27. Sedangkan jika diperluas hingga seratus kali percobaan, maka secara matematis, hasil akhirnya akan semakin mendekati -100.
Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Hal ini karena nilai ekspektasi secara matematis hanya merepresentasikan rata-rata, namun menutupi adanya ketergantungan jalur (path dependence) serta risiko modal yg bisa habis.
Artinya, setiap kali mengalami kerugian sebesar 50%, maka dibutuhkan profit sebesar 100% untuk kembali ke titik awal, bukan 80%. Akibatnya, kerugian akan terus membuat modal semakin mengecil, sementara profit selalu dibangun di atas modal yg semakin kecil tersebut.
Oleh karena itu, meskipun secara jangka panjang nilai ekspektasi terlihat positif, dalam sebagian besar jalur yg terjadi, hasil akhirnya tetap akan mengarah pada kerugian hingga modal habis.
Iya, memang konsepnya kyk gitu
Kalah sekali aja, kerugian yg muncul itu biasanya butuh bbrp kali menang baru bs balik lagi
Lalu, jika cara berpikir ini kita terapkan ke dalam pasar saham, apa yg akan terjadi?
Sy yakin kalian semua paham, setelah kita membeli sebuah saham, pergerakan harganya pada dasarnya hanya memiliki dua arah utama, yaitu naik atau turun. Dalam kondisi tanpa analisa apa pun, probabilitas antara kenaikan dan penurunan harga tersebut sebenarnya hampir seimbang.
Memang, ada yg berpendapat bahwa dalam beberapa situasi harga saham bisa berada di posisi stagnan. Namun, dari sudut pandang investasi, periode tersebut bisa kita kesampingkan. Karena selama saham tersebut belum benar-benar keluar dari bursa, pada akhirnya harga tetap akan bergerak, baik itu naik atau turun.
Oleh karena itu, dalam konteks investasi, kita bisa menyederhanakan bahwa membeli saham pada dasarnya mirip seperti melakukan lemparan koin.
Di sini kita bisa membuat satu asumsi sederhana: Saat kamu membeli saham, probabilitas naik dan turun masng-masing adalah 50%. Kalau di hari berikutnya harga saham naik, kamu bisa mendapatkan profit sebesar 80%. Namun jika harga justru turun, maka kamu akan mengalami kerugian sebesar 50%.
Sampai di saat ini, mungkin banyak yg merasa bahwa skema ini terlihat menguntungkan, karena tingkat keberhasilannya tampak cukup tinggi. Namun kenyataannya, jika strategi ini benar-benar diterapkan secara konsisten, hasil akhirnya justru hampir pasti akan mengalami kerugian.
Dari penjelasan ini, sy yakin kalian mulai memahami satu hal penting: dalam investasi saham, jika kita hanya mengandalkan perhitungan probabilitas secara sederhana, meskipun tingkat kemenangan terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan kemungkinan rugi, pada akhirnya tetap bisa berujung pada kerugian.
Selain itu, sy juga yakin kalian semua pasti menyadari bahwa dalam praktik investasi yg sebenarnya, bnyk investor justru menghadapi kondisi di mana peluang kenaikan dan profit seringkali jauh lebih kecil dibandingkan risiko penurunan dan kerugian.
Oleh karena itu, bahkan jika kita melihat dari sudut pandang statistik probabilitas, pendekatan investasi seperti ini pada dasarnya hampir tidak mungkin menghasilkan profit.
Inilah alasannya mengapa sy hampir setiap hari selalu menekankan kepada kalian: pergerakan harga saham dalam jangka pendek, baik itu naik maupun turun, sebenarnya tidak menentukan hasil akhir dari pendapatan yg kita peroleh.
Bnyk orang mikir asal sering nebaknya bener pasti bsa untung, padahal yg paling penting itu rasio untung-ruginya
Ya betul, yg penting itu tetep lihat struktur untung-rugi secara keseluruhan👍
Coba kalian pikirkan: Misalnya setelah harga TAPG mengalami kenaikan, kita buru-buru ingin mengamankan profit dan langsung menjual seluruh posisi. Sy yakin, sebagian besar dari kalian akan melakukan hal seperti ini. Begitu melihat profit di atas kertas, sentimen langsung naik, lalu tanpa pikir panjang memilih untuk segera merealisasikan profit.
Namun setelah menjual, apa yg terjadi?
Tiba-tiba di tangan kita ada dana tunai dalam jumlah cukup besar. Dan dalam banyak kasus, sebagian besar investor akan langsung kembali mencari peluang berikutnya, lalu memasukkan dana tersebut ke saham lain yg dianggap menarik.
Pada saat ini, kita sebenarnya kembali ke inti dari pembahasan hari ini. Jika di tahap berikutnya “koin jatuh ke sisi bawah”, artinya saham baru yg kamu beli mulai mengalami kerugian, meskipun besarnya kerugian tersebut jauh lebih kecil dibandingkan profit yg sebelumnya kamu dapatkan dari TAPG, secara angka di atas kertas memang terlihat seolah2-olah kamu masih dalam kondisi untung.
Namun, selama kamu terus melakukan pola seperti ini, naik langsung jual, turun langsung ganti saham dan menjadikannya sebagai kebiasaan dalam investasi jangka panjang, maka hasil akhirnya hampir pasti adalah kerugian.
Namun ini sebenarnya belum bagian yg paling berisiko. Yg justru lebih sering terjadi adalah, ketika saham baru yg kamu pilih mulai mengalami kerugian, kebanyakan orang tidak akan segera melakukan cut loss.
Sebaliknya, mereka memilih untuk terus menahan posisi, dengan harapan dalam hati: tunggu sebentar lagi, mungkin segera kembali ke modal, bahkan bisa berbalik menghasilkan profit yg lebih besar. Akhirnya, tanpa disadari, profit yg sebelumnya sudah berhasil direalisasikan, justru kembali dimasukkan ke dalam investasi baru yg berpotensi terus mengalami kerugian.
Keliatannya sih transaksi sblmnya untung, tp sbnernya transaksi berikutnya risikonya malah lebih gede😓
Ini yg namanya profit keambil balik, bnyk orang malah gk sadar soal ini
Fenomena ini sekilas terlihat sederhana, jual saat sudah profit lalu membeli saham baru. Namun di balik itu, sebenarnya mencerminkan perbedaan pemahaman yg cukup mendasar dalam investasi keuangan.
Bnyk investor memiliki kemampuan yg sangat baik, mereka memahami fundamental perusahaan, indikator teknikal, hingga data makro secara mendalam. Namun pada akhirnya, tetap tidak mampu menghasilkan profit di pasar, bahkan mengalami kerugian dalam jangka panjang.
Sebaliknya, kita juga sering melihat orang-orang di sekitar kita yg secara kemampuan terlihat biasa saja, bahkan terkesan sederhana. Namun justru dalam hal akumulasi kekayaan, mereka mampu berkembang dengan lebih stabil dan konsisten.
Sebenarnya, yg benar-benar menentukan apakah seseorang bisa berhasil dalam investasi, bukanlah sekadar kemampuan, melainkan penilaian.
Kemampuan hanya menentukan seberapa baik kamu melakukan sesuatu, seberapa tinggi efisiensi yg bisa dicapai. Namun, yg menentukan hasil akhir justru adalah penilaian, apakah keputusan yg kamu ambil itu benar, dan apakah arah yg kamu pilih sudah tepat.
Kita ambil contoh paling sederhana. Dalam investasi properti, mungkin saat ini kamu belum mampu membeli aset inti di pusat kota. Namun selama kamu memahami dengan jelas bahwa dalam jangka panjang, properti di pusat kota cenderung lebih unggul dibandingkan di pinggiran, maka itu berarti kamu sudah memiliki penilaian yg tepat.
Hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan kemampuan finansial kamu saat ini. Sebaliknya, jika seseorang justru meyakini bahwa properti di pinggiran lebih baik daripada di pusat kota, maka di situ sudah ada masalah dalam penilaiannya. Dan ketika arah penilaian sejak awal sudah keliru, sekeras apa pun usahanya, pada akhirnya besar kemungkinan ia akan semakin jauh berjalan di jalur yg salah.
Bagian ini emg real banget, di pasar itu bukan berarti bisa analisa aja pasti langsung cuan 💪
Bisa baca indikator itu cuma alat aja, yang penting ttp harus jelas dulu dananya mau diarahin ke mana
Kalau arahnya salah, kerja keras jg jadi sia-sia
Kembali ke investasi saham, prinsipnya sebenarnya sama. Sy tidak menampik bahwa bnyk teman-teman mungkin memiliki kemampuan yg sangat baik, bahkan lebih mendalam dari sy dalam hal analisa teknikal, membaca laporan keuangan, maupun riset fundamental perusahaan. Artinya, dari sisi kemampuan, sebenarnya tidak ada masalah.
Namun yg benar-benar menentukan adalah apakah kita memiliki penilaian yg tepat. Hal inilah yg menentukan apakah kita bisa terus berada di arah yg benar dalam investasi.
Di pasar saham, sebagian besar investor sebenarnya lebih cocok menggunakan pendekatan mengikuti tren, yaitu membeli saat tren besar sedang naik, lalu menahannya dalam jangka menengah hingga panjang, sehingga bisa memanfaatkan efek compounding dari waktu serta siklus industri untuk mendapatkan return yg optimal.
Namun dalam praktiknya, sebagian besar investor justru melakukan trading jangka pendek, mencoba memanfaatkan fluktuasi harga dengan pola beli rendah, jual tinggi dalam waktu singkat demi mengejar profit cepat.
Jika kita kaitkan dengan konsep Coin Toss Paradox yg sudah kita bahas sebelumnya, seharusnya sekarang kalian bisa melihatnya dengan lebih jelas. Dari sudut pandang probabilitas, strategi seperti ini sering ganti saham, mengejar kenaikan, dan panik saat harga turun justru memiliki peluang rugi yg jauh lebih besar dibandingkan peluang untung.
Setiap kali kita menjual saham yg sudah profit lalu memilih saham baru, pada dasarnya itu sama seperti melakukan “lempar koin” lagi. Dan di pasar nyata, frekuensi “koin jatuh ke sisi bawah” seringkali jauh lebih tinggi dari yg kita bayangkan. Inilah alasannya mengapa ketika TAPG mengalami kenaikan signifikan, sy secara tegas menyarankan kepada semua teman-teman yg bertanya mengenai strategi, untuk tidak menjual saham tersebut.
Tentu saja sy memahami, bagi bnyk teman-teman, ketika melihat harga saham naik, muncul keinginan untuk menjual, dengan pemikiran nanti bisa beli kembali saat harga turun.
Seperti dalam strategi pada BUMI, sy juga berkali2 menekankan bahwa setelah melakukan penambahan posisi di area bawah, ketika harga sudah naik, memang boleh melakukan penjualan.
Namun yg perlu ditekankan dengan sangat jelas adalah: saham yg dijual hanya sebatas posisi yg dibeli di area bawah tersebut, bukan seluruh kepemilikan saham yg kita miliki.
Hal ini sebenarnya sudah sy jelaskan secara rinci dalam pembahasan sebelumnya mengenai strategi penambahan posisi saat harga turun serta metode penjualan. Setiap keputusan untuk menambah posisi maupun menjual saham selalu memiliki konteks dan kondisi tertentu sebagai dasar pertimbangannya. Namun dalam praktiknya, bnyk investor cenderung ingin menjual di level harga tertinggi, lalu menunggu harga turun untuk membeli kembali.
Jika kita melihat pergerakan harga BUMI saat ini, pendekatan seperti itu memang terlihat menghasilkan profit. Oleh karena itu, secara emosional, sy sepenuhnya bisa memahami cara berpikir tersebut. Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang rasional, sy harus sampaikan dengan tegas bahwa cara tersebut pada dasarnya adalah keliru.
Posisi tambahan di area bawah bsa lbh fleksibel buat dijual, tapi posisi inti dr awal emang gk boleh asal digerakin
Karena dalam pergerakan suatu saham, ketika harga mulai melakukan konsolidasi di sekitar area support kuat, maka setelah itu biasanya akan terbentuk kenaikan yg eksplosif, dan secara bertahap membentuk struktur tren naik yg standar.
Dalam kondisi seperti ini, kita bahkan bisa dengan mudah menarik satu garis tren sebagai penanda. Namun perlu dipahami, garis tersebut sebenarnya tersusun dari bnyk level kenaikan. Artinya, dalam tren naik sebuah saham, pergerakan harga terbentuk dari akumulasi level kenaikan yg terus berulang, sementara level harga rendah relatif jauh lebih sedikit.
Sebagai contoh pada pergerakan TAPG, kita bisa melihat bahwa kenaikan harga sahamnya berlangsung melalui rangkaian kenaikan kecil yg terus berlanjut, membentuk tren naik secara keseluruhan.
Jadi coba kalian pikirkan: Setelah harga mulai naik, mana yg lebih mudah mengikuti momentum kenaikan yg terjadi sepanjang tren, atau justru mencari segelintir level terendah yg sangat terbatas?
Jawabannya sudah sangat jelas. Kita hampir tidak mungkin bisa secara akurat menentukan di mana level terendah sesungguhnya, termasuk pada BUMI. Namun yg bisa kita pahami adalah, saat ini harga BUMI sudah bergerak stabil di sekitar area support dan melalui fase penyesuaian.
Selama ke depannya harga mulai memasuki fase kenaikan yg lebih kuat, maka yg terpenting adalah kita memiliki proporsi kepemilikan yg cukup untuk memanfaatkan potensi profit tersebut. Inilah alasannya mengapa sy selalu menegaskan bahwa setiap keputusan untuk menambah posisi maupun menjual saham BUMI harus memiliki perencanaan yg jelas dan disiplin.
Namun dalam kenyataannya, bnyk orang justru terjebak dalam obsesi mencari level terendah, berharap bisa membeli tepat di dasar dan langsung mendapatkan profit besar. Padahal, perilaku seperti ini justru mencerminkan adanya kelemahan dalam penilaian.
Pake TAPG sama BUMI buat jelasin logika ini, saya langsung ngerti deh
Kalo struktur kenaikan udah kebentuk, ikut tren sambil cari level masuk itu mmg jauh lebih gampang dibanding nebak level terendah
Ikut tren buat ambil posisi itu memang penting bgt💪
Sy akui, dalam bnyk peluang trading jangka pendek, mungkin sy memang tidak seunggul sebagian besar orang di sekitar sy. Bahkan, ada juga teman-teman yg melalui strategi jangka pendek mampu memperoleh profit dalam waktu singkat yg jauh melebihi sy.
Namun jika dilihat dari akumulasi kekayaan dalam jangka panjang, justru sy adalah salah satu yg memperoleh hasil paling besar melalui investasi di pasar keuangan.
Artinya, mungkin dari sisi kemampuan sy tidak lebih unggul dibandingkan kebanyakan orang. Tetapi sy yakin, penilaian yg sy miliki adalah tepat. Dan inilah yg menjadi alasan utamanya mengapa sy mampu secara konsisten menghasilkan akumulasi kekayaan yg lebih besar dalam jangka panjang.
Karena sy memahami bahwa dibandingkan setiap hari mencoba menebak level terendah yg jumlahnya sangat terbatas, pendekatan yg paling stabil adalah dengan mengikuti momentum kenaikan dan menahannya dengan sabar di sepanjang tren tersebut.
Oleh karena itu, apakah kalian masih ingin terus berfokus pada investasi jangka pendek, keputusan akhirnya tetap ada di tangan masng-masing. Jika memang kalian ingin terlibat, pada sharing berikutnya sy juga akan membagikan beberapa metode praktis yg selama ini sy gunakan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan dalam trading jangka pendek.
Namun sy berharap, melalui pembahasan malam ini, kalian benar-benar bisa memahami mengapa sy selalu tidak menyarankan untuk terlalu fokus pada investasi saham jangka pendek.
Karena bahkan jika kita tidak memperhitungkan biaya komisi dan pajak, meskipun secara sekilas probabilitas menang dalam jangka pendek terlihat lebih tinggi, tetapi jika dilihat dari perspektif probabilitas jangka panjang, cara seperti ini tetap sangat besar kemungkinan akan kembali terjebak dalam siklus kerugian.
Jika kita ingin benar-benar menghasilkan keuntungan dari investasi keuangan, hal pertama yg harus dipahami bukanlah sekadar bagaimana cara melakukan transaksi, melainkan bagaimana menilai mana metode investasi yg benar dan mana yg keliru. Inilah inti utama yg harus kita pahami dengan benar.
Profit jangka pndek yg tinggi emang keliatan seru, tp makin sering trading biasanya makin bnyak jg salahnya
Dlm investasi, yg diuji itu bukan sekali dua kali cuan gede, tapi apa bsa terus konsisten untung
Seperti yg terjadi pekan ini, setelah DSSA secara resmi mengonfirmasi rencana pemecahan saham, harga langsung merespons dengan kenaikan sekitar 6% pada hari sebelumnya. Banyak teman-teman juga sempat bertanya ke sy, apakah kondisi seperti ini cocok untuk melakukan investasi jangka pendek.
Memang, kalau kita lihat kembali ke tahun 2024, saat DSSA melakukan stock split dengan rasio 1:10, setelah itu harga saham mengalami kenaikan yg sangat signifikan, bahkan sempat mencatat kenaikan lebih dari 300%. Dan kali ini, rasio pemecahan sahamnya bahkan lebih besar, yaitu dari 1 lembar menjadi 25 lembar. Secara teori, setelah pemecahan, harga saham akan disesuaikan ke kisaran sekitar Rp 2.600–2.700.
Penyesuaian ini tentu saja akan membuat harga per lembar menjadi lebih terjangkau, sehingga likuiditas meningkat dan partisipasi investor ritel menjadi lebih luas. Inilah alasan utamanya mengapa saat ini cukup banyak pelaku pasar yg beranggapan bahwa DSSA masih memiliki potensi untuk melanjutkan kenaikannya.
Namun, ada satu hal penting yg justru sering terlewatkan oleh banyak investor. Saat ini, kapitalisasi pasar DSSA sudah mencapai sekitar 500 triliun rupiah, menjadikannya salah satu perusahaan terbesar yg tercatat di bursa Indonesia. Dalam peringkat pasar, DSSA bahkan sudah berada di posisi ke-4, hanya di bawah BBCA, BREN, dan BBRI.
Artinya, DSSA bukan lagi saham dengan skala kecil atau menengah, melainkan sudah masuk kategori raksasa di pasar modal Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, meskipun setelah stock split harga per lembar menjadi lebih terjangkau, perlu dipahami bahwa pemecahan saham tidak mengubah kemampuan fundamental perusahaan dalam menghasilkan profit.
Jika ke depannya pertumbuhan kinerja perusahaan tidak mampu mengikuti ekspansi kapitalisasi pasarnya, maka tekanan penyesuaian harga atau koreksi sangat mungkin terjadi.
Tema pemecahan DSSA kali ini emg lagi panas, tp dgn market cap yg udh sebesar ini, mau naik secepat dan setinggi sblmnya gk semudah itu
Waktu pemecahan di taon 2024 itu, kenaikan besar yg terjadi lebih krna sentimen, likuiditas, dan ekspektasi tahap tertentu yg naik bareng2
Oleh karena itu, meskipun dalam jangka pendek terdapat faktor pendorong dari aksi stock split, pada dasarnya investasi seperti DSSA tetap memerlukan perencanaan yg matang sejak awal. Terlebih lagi, dalam kondisi saat ini di mana DSSA belum menunjukkan pertumbuhan pendapatan dan laba yg stabil, maka pergerakan harga yg hanya didorong oleh sentimen pasar dan aksi pemecahan saham perlu disikapi dengan sangat hati-hati.
Bahkan untuk perusahaan inti dari Grup Sinar Mas sekalipun, sy tetap tidak menyarankan untuk ikut serta secara impulsif tanpa pertimbangan yg rasional. Namun demikian, sy juga memahami bahwa sebagian dari kalian mungkin tetap ingin berpartisipasi dalam strategi jangka pendek. Untuk itu, sy akan segera menyusun dan membagikan pembahasan yg lebih sistematis terkait teknik dan pendekatan dalam trading jangka pendek.
Sebagai penutup, sy juga mengundang kalian untuk berbagi pandangan, baik melalui komentar maupun pesan pribadi. Apakah kalian tertarik untuk terlibat dalam investasi jangka pendek? Kita bisa diskusikan bersama. Tetaplah berinvestasi secara rasional, dengan orientasi pada keberlanjutan hasil dalam jangka panjang. Sekian untuk sharing malam ini, kita lanjutkan kembali besok.
Murah itu belom tentu beneran lagi di posisi bawah
Kalo belom ada kinerja yg stabil sbg penopang, cuma ngandelin pemecahan sama sentimen pasar, risikonya tetep besar bngt
Ngerti, dlu, jangan asal kejar yg lagi rame terus langsung msuk😂
Siapin rencana dulu, baru lihat apa layak ikut masuk atau gak
Makasih Pak Sutanto sdah terus sharing soal teknik trading jangka pendek 🙏