Seiring dengan rebound bertahap di pasar saham belakangan ini, kita bisa melihat bahwa banyak saham yg sebelumnya sempat turun mengikuti pasar hingga menyentuh level rendah, kini mulai menunjukkan pemulihan yg cukup cepat.
Terutama dalam pekan ini, setelah sy membahas strategi Dollar Cost Averaging, banyak dari kalian yg mulai bertanya apakah saat ini merupakan momen yg tepat untuk menggunakan strategi tersebut dalam melakukan pembelian di area bawah.
Bahkan, ada juga yg berencana menerapkan Dollar Cost Averaging ke berbagai jenis saham, mulai dari sektor perbankan, teknologi, hingga sumber daya, tanpa pengecualian. Terhadap kondisi ini, sy justru merasa cukup khawatir.
Pak Sutanto , mlm ini sy bakal lanjut bljar serius sambil catetin poin2 pentingnya
Haha, sy jg pengen coba pake Dollar Cost Averaging buat cicil beli saham unggulan di hrga bawah๐
Meskipun saat ini sy bisa dengan cukup percaya diri mengatakan bahwa teman-teman yg mengikuti strategi akumulasi di area bawah bersama sy telah memperoleh return yg cukup signifikan, dan hal ini tentu saja sangat membuat sy merasa puas.
Ini juga membuktikan bahwa penempatan posisi kita pada waktu yg tepat memang memberikan hasil yg efektif. Namun, justru karena hasil yg terlihat begitu menonjol ini, sebagian teman mulai muncul kesalahpahaman.
Bahkan ada yg mulai berpikir bahwa semua saham bisa dibeli begitu saja di area bawah, atau menggunakan strategi Dollar Cost Averaging untuk mengejar aset yg sebenarnya tidak sesuai. Hal inilah yg membuat sy cukup khawatir, karena sy tidak ingin apa yg sy bagikan justru tanpa disadari mengarahkan kalian ke arah pengambilan keputusan yg kurang tepat.
Kalian seharusnya masih ingat, sebelum sharing pekan ini dimulai, sy sudah menekankan dengan sangat jelas bahwa Dollar Cost Averaging bukanlah metode investasi yg bersifat universal. Strategi ini hanya cocok digunakan pada sektor atau saham tertentu, yg memiliki tren harga yg relatif stabil serta fundamental yg dapat diandalkan.
Namun, sy melihat ada sebagian teman yg justru berencana menggunakan Dollar Cost Averaging pada saham-saham yg berada dalam tren penurunan jangka panjang.
Hal ini sepenuhnya bertentangan dengan logika inti dari strategi tersebut, dan berpotensi menghasilkan kinerja yg kurang optimal, bahkan bisa berujung pada kerugian. Oleh karena itu, sy menilai bahwa sharing kita malam ini menjadi sangat penting.
Iya, gk semua saham yg turun itu bisa langsung diambil buat “beli di bawah”
Metode Dollar Cost Averaging itu syaratnya emg harus sahamnya cukup stabil dan trennya kuat
Kalau arah jangka panjangnya mmg turun, makin dibeli malah makin nambah rugi๐
Setidaknya, sy perlu menjelaskan dengan jelas kepada kalian jenis saham seperti apa yg memang layak untuk dijadikan target akumulasi di area bawah. Dengan pemahaman ini, kalian bisa membedakan mana saham yg cocok untuk strategi Dollar Cost Averaging, dan mana yg termasuk saham berpotensi tinggi untuk strategi akumulasi di level rendah.
Sy percaya, hanya dengan pemahaman yg tepat seperti ini, kita bisa secara maksimal menghindari risiko yg muncul akibat keputusan investasi yg dilakukan secara sembarangan.
Tentu saja, melalui sharing malam ini, sy juga berharap kalian tidak hanya bisa terus menikmati peluang dari strategi akumulasi di area bawah, tetapi juga mampu bergerak secara lebih stabil dan terarah dalam jalur investasi yg benar.
Sementara itu, apakah suatu saham benar-benar layak untuk dijadikan target akumulasi di area bawah, pada dasarnya harus dinilai secara menyeluruh dari lima aspek utama:
1. Fundamental: mencari perusahaan berkualitas yg nilai intrinsiknya masih berada dalam kondisi undervalued
2. Teknikal: memanfaatkan sinyal awal potensi rebound
3. Sentimen pasar: memanfaatkan peluang akibat kesalahan penilaian pasar (oversold)
4. Industri dan kondisi makro: memilih saham yg berada dalam siklus yg mendukung
5. Manajemen risiko: memastikan adanya margin of safety yg memadai
Gimana sih cara ngeliat dari fundamental, saham mana yg lagi undervalued?
Langkah pertama dalam menilai apakah suatu saham layak untuk diakumulasi di area bawah, yg paling mendasar adalah melihat apakah saham tersebut merupakan perusahaan berkualitas yg nilai intrinsiknya sedang diabaikan atau dinilai terlalu rendah oleh pasar.
Inti dari strategi ini bukanlah mengejar harga terendah, melainkan mengidentifikasi saham-saham yg terdampak faktor jangka pendek, seperti kepanikan pasar atau fluktuasi makroekonomi, sehingga mengalami penurunan yg tidak mencerminkan nilai sebenarnya, padahal fundamental jangka panjangnya tetap kuat.
Namun, kalian harus benar-benar mengingat bahwa tujuan dari akumulasi di area bawah bukan sekadar karena harga terlihat murah lalu membeli secara impulsif, melainkan harus mampu secara presisi menemukan aset-aset bernilai yg sedang belum dihargai secara wajar oleh pasar. Inilah yg juga menjadi inti utama dari apa yg sy sampaikan pada sesi siang hari tadi.
Sy ingin berbagi satu pengalaman nyata yg pernah sy alami. Pengalaman ini sampai hari ini masih sy ingat dengan sangat jelas, dan justru dari situlah sy benar-benar memahami satu hal penting: harga murah tidak selalu berarti peluang, dan harga tinggi juga tidak selalu berarti risiko.
Saat itu adalah tahun kedua sy serius menekuni investasi, yaitu pada tahun 2004. Kebetulan, saat itu sy memiliki sejumlah dana di tangan, dan di dalam pikiran sy hanya ada satu tujuan, yaitu mencari satu saham yg menurut sy sangat undervalued untuk diakumulasi di area bawah.
Ngerti, bukan semua saham murah bisa diambil, cuma yg bener2 berkualitas aja yg layak dipertimbangkan
Tidak butuh waktu lama, sy pun menemukan target tersebut, yaitu Ford Motor Company. Saham ini telah turun tajam dari puncaknya, bahkan bisa dikatakan sudah mengalami penurunan berlapis. Dari sisi valuasi, PER hanya sekitar 7 kali, dan PB di kisaran 0,6.
Jika dilihat dari indikator valuasi tradisional, harganya terlihat sangat murah, bahkan bisa dibilang tidak masuk akal murahnya. Yg lebih meyakinkan saat itu, secara teknikal grafiknya tampak seperti akan mengalami rebound. Di berbagai forum, media, dan di kalangan investor, banyak yg mulai menyuarakan bahwa saham otomotif sudah mencapai level terendah.
Dengan harga Ford yg sudah serendah itu, rasanya tidak mungkin turun lebih jauh lagi. Semua sinyal saat itu seolah mengarah pada satu kesimpulan: ini adalah peluang akumulasi di bawah yg sangat ideal.
Saat itu, di dalam pikiran sy hanya ada satu pemikiran sederhana: sudah semurah ini, apa lagi yg bisa jadi masalah?
Akhirnya, sy mengambil satu keputusan yg sangat klasik namun keliru, yaitu langsung memasukkan setengah dari total dana sy ke saham tersebut. Bahkan saat itu sy sempat merasa cukup puas, seolah-olah berhasil mendapatkan harga yg sangat murah. Namun, kenyataannya dengan cepat membuat sy harus membayar harga atas keputusan tersebut.
Setelah membeli, barulah sy perlahan mulai melihat gambaran yg sebenarnya. Ford ternyata menghadapi persaingan yg sangat ketat dari produsen mobil Jepang, margin profitnya terus mengalami penurunan, struktur utangnya cukup tinggi, serta beban kewajiban pensiun yg besar.
Selain itu, lini produk lama memiliki daya saing yg lemah, dan dalam jangka panjang, perusahaan juga menghadapi berbagai masalah manajemen serta kesalahan dalam arah strategi.
Jadi sblm mau beli di harga bawah, harus ngerti kondisi fundamental sahamnya dlu sekarang
Satu keputusan yg salah bs bikin kehilangan dana cukup gede๐
Apa yg terlihat sebagai “murah” saat itu, ternyata hanyalah cerminan bahwa kualitas perusahaannya sendiri memang sedang memburuk. Hasilnya pun sederhana, harga saham kembali turun hingga sekitar 50%.
Pada akhirnya, sy terpaksa keluar dari posisi tersebut dalam kondisi kerugian yg cukup dalam. Di momen itulah, untuk pertama kalinya sy benar-benar menyadari bahwa pasar tidak pernah memberikan harga murah tanpa alasan.
Sekitar 8 bulan kemudian, sy kembali menemukan sebuah saham yg benar-benar berbeda dari sebelumnya. Kali ini, PER-nya mendekati 30 kali. Banyak orang saat itu mengatakan bahwa harganya terlalu mahal dan tidak layak untuk dibeli.
Namun kali ini, sy tidak lagi hanya melihat dari sisi harga. Sy mulai melakukan analisis secara lebih mendalam, menilai daya saing perusahaan di dalam industrinya, apakah produknya memiliki keunggulan yg berkelanjutan, apakah manajemennya berorientasi jangka panjang, serta apakah arus kasnya berada dalam kondisi yg sehat.
Pada akhirnya, sy menyadari bahwa meskipun perusahaan ini terlihat mahal, nilai yg dimilikinya memang didukung oleh fundamental yg kuat. Karena itu, sy mengambil satu keputusan yg saat itu terasa tidak nyaman bagi sy, yaitu membeli di valuasi yg tinggi.
Lalu bagaimana hasilnya? Dalam periode berikutnya, yaitu sepanjang tahun 2005–2006, hanya dalam waktu sekitar 1 tahun, saham tersebut mengalami kenaikan yg stabil hingga lebih dari 90%.
Jadi jgn cuma liat harga, tp fokus ke tren sama kinerja profit perusahaannya
Jadi beli saham itu ttp harus liat sentimen pasar, prospek ke dpnnya, sama fundamental perusahaannya
Dua pengalaman ini benar-benar mengubah cara pandang sy terhadap investasi. Dari situ, sy menyimpulkan satu pemahaman yg sangat penting: saham yg terlihat murah sering kali memang memiliki masalah. Bisa jadi industrinya sedang tidak berkembang, kondisi perusahaannya memburuk, atau prospek pertumbuhannya ke depannya sangat terbatas.
Sebaliknya, saham yg terlihat mahal memang tidak selalu sempurna, namun dalam banyak kasus, hal tersebut mencerminkan bahwa pasar sudah bersedia memberikan penilaian atas nilai yg dimilikinya.
Jika dirangkum dalam satu kalimat paling sederhana: Harga rendah tidak berarti aman, dan harga tinggi juga tidak selalu berarti berbahaya.
Karena itu, dalam perjalanan investasi sy selanjutnya, sy melakukan satu perubahan penting. Sy tidak lagi hanya berfokus pada apakah suatu saham terlihat murah atau mahal, melainkan mulai terus bertanya pada diri sendiri: apakah perusahaan ini benar-benar sepadan dengan harga yg ditawarkan?
Karena itu, menurut sy, hal paling mahal di pasar bukanlah saham dengan valuasi tinggi, melainkan biaya yg harus kalian bayar ketika membuat satu keputusan yg salah.
Kalian juga harus benar-benar memahami bahwa inti dari strategi akumulasi di area bawah bukanlah sekadar mencari harga murah, melainkan menemukan perusahaan berkualitas yg nilainya sementara tertekan akibat fluktuasi jangka pendek.
Saham yg mahal belum tentu yg terbaik, tetapi saham yg terlihat murah hampir selalu memiliki kelemahan mendasar yg perlu diwaspadai.
Harga murah blm tentu aman, harga mahal jg blm tentu berbahaya, kalimat ini emang bagus bngt๐
Paling enak emg tinggal ikutin arahannya Pak Sutanto aja, sy jg gk mau ngerasain “biaya belajar” kayak gitu ๐
Saham yg terlalu murah itu memang ada risiko sampe delisting
Karena itu, sekarang kita memahami bahwa dalam menilai apakah suatu saham layak untuk diakumulasi di area bawah, nilai intrinsik tetap menjadi faktor paling utama. Namun, hanya mengandalkan nilai saja belum cukup. Kita juga perlu mengombinasikannya dengan analisis teknikal untuk menangkap sinyal potensi rebound, agar penentuan timing masuk bisa menjadi lebih presisi.
Seperti yg sudah sy sampaikan dalam sharing sebelumnya, analisis teknikal ibarat sebuah alat bantu yg menerangi arah, membantu kita menilai apakah harga saham benar-benar sudah mencapai area dasar.
Oleh karena itu, kalian perlu menggabungkan pemahaman dari pembelajaran teknikal sebelumnya, untuk mengidentifikasi sinyal-sinyal penting yg dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan akumulasi di area bawah.
Tentu saja, kita juga harus memahami satu hal yg sangat krusial: tidak semua penurunan harga layak untuk dijadikan peluang akumulasi di area bawah.
Sebelumnya, alasan sy terus mendorong kalian untuk berani melakukan pembelian saat pasar turun, pada dasarnya hanya satu, yaitu karena penurunan pada saat itu lebih didorong oleh sentimen pasar, bukan karena kerusakan fundamental perusahaan.
Betul, kalo turunnya krna sentimen, biasanya emg bakal ada rebound juga
Sekarang kalau kita melihat kembali penurunan pada periode Februari hingga Maret tersebut, banyak orang saat itu hanya melihat eskalasi konflik, kepanikan pasar, dan indeks yg terus melemah.
Namun, yg sy lihat justru berbeda. Tekanan negatif pada saat itu lebih merupakan pembesaran sentimen jangka pendek, disertai pelepasan emosi pasar secara terpusat, tanpa adanya tanda-tanda risiko sistemik yg nyata.
Dengan kata lain, harga memang turun, tetapi nilai fundamentalnya tidak berubah. Inilah syarat utama yg membuat suatu kondisi layak untuk dilakukan akumulasi di area bawah.
Ini adalah perbedaan yg sangat penting untuk dipahami. Peluang akumulasi hanya muncul dalam kondisi penurunan yg didorong oleh sentimen.
Sebaliknya, ketika aksi jual yg bersifat rasional mulai terjadi secara luas, hal tersebut sering kali menjadi tanda awal munculnya risiko sistemik di pasar.
Setelah kepanikan pasar krna perang, begitu dana mulai balik, harga saham biasanya bakal rebound
Dalam perjalanan investasi kalian, jika kalian mampu bertahan dan konsisten selama lebih dari 10 tahun, kalian pasti akan menyadari satu pola: setiap beberapa tahun sekali, pasar akan mengalami fluktuasi yg cukup besar.
Sebagai contoh, pada tahun 2022 terjadi pengetatan suku bunga secara agresif oleh The Fed, kemudian pada tahun 2025 muncul tekanan dari konflik tarif yg berdampak pada perdagangan global, dan di tahun 2026, ketegangan geopolitik memicu peningkatan sentimen aset safe haven.
Selain itu, siklus industri, perubahan kebijakan, hingga pengetatan likuiditas juga sering menjadi faktor yg memicu volatilitas pasar.
Ciri utama dari berbagai peristiwa tersebut adalah dampaknya yg sangat kuat dalam jangka pendek, namun dalam banyak kasus, pengaruh jangka panjangnya justru terbatas. Karena itu, pertanyaan paling krusial sebenarnya hanya satu: apakah perusahaan ini masih sama seperti sebelumnya?
Jika jawabannya adalah bahwa fundamentalnya tidak berubah, maka penurunan harga hanyalah berarti harga yg lebih rendah. Dan harga yg lebih rendah berarti margin of safety yg lebih tinggi. Di situlah letak peluang sebenarnya.
Bnyk penurunan tajam keliatannya serem, padahal sbnrnya cuma sentimen yg duluan ngejatuhin harga
Kalau fundamentalnya aman, justru pas harga turun malah margin of safety jd lebih tinggi๐
Namun, jika industrinya sedang mengalami penurunan, kinerjanya memburuk, dan logika dasar bisnisnya sudah berubah, maka penurunan harga bukan lagi sebuah peluang, melainkan sinyal bahwa perusahaan mulai menghadapi masalah.
Karena itu, inti sebenarnya dari strategi akumulasi di area bawah bukanlah seberapa besar harga telah turun, melainkan mengapa harga tersebut turun.
Di sini sy berikan satu rumus sederhana untuk membantu kalian menilai:
Penurunan karena sentimen + fundamental tetap stabil = peluang emas
Fundamental memburuk + penurunan berlanjut = value trap
Sekarang kita kembali ke kondisi pasar saat ini. Guncangan akibat konflik memicu tekanan sentimen, membuat dana menjadi panik dan terjadi aksi jual secara cepat. Namun, dari sisi fundamental, sektor perbankan, energi, dan aset-aset inti tidak mengalami perubahan logika keuntungan yg mendasar.
Karena itulah, pada fase tersebut sy terus menekankan bahwa penurunan yg terjadi saat itu bukanlah risiko, melainkan sebuah peluang.
Setelah kita menyelesaikan penilaian sebelumnya, langkah berikutnya yg benar-benar krusial adalah menganalisis industri serta latar belakang makro, yaitu memilih aset yg sejalan dengan siklus ekonomi.
Ketika kalian mulai melihat tanda-tanda pemulihan ekonomi, aliran dana kembali bergerak, dan aktivitas investasi mulai meningkat, maka ada satu kelompok aset di pasar yg biasanya akan menjadi pihak pertama yg merasakan manfaatnya. Kelompok tersebut adalah sektor perbankan, energi dan pertambangan, serta konsumsi.
Kuncinya ttp harus jelas dulu, ini turunnya krna sentimen doang atau emg fundamentalnya yg rusak
Yg paling bahaya itu ngira value trap sebagai peluang, ujung2nya makin nambah posisi malah makin kejebak ๐
Turun krna sentimen justru bs jadi peluang
Mengapa tiga sektor ini yg menjadi fokus? Karena pada dasarnya, ketiganya merupakan tiga pilar utama dalam pergerakan ekonomi.
Perbankan berperan sebagai pusat sirkulasi dana. Baik itu ekspansi perusahaan, aktivitas merger dan akuisisi, investasi, maupun konsumsi dan penyaluran kredit, seluruh aktivitas ekonomi pada akhirnya sangat bergantung pada aliran dana.
Di Indonesia seperti BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan di Singapura seperti DBS, OCBC, UOB. Bank-bank seperti ini umumnya memiliki karakteristik utama berupa kemampuan menghasilkan laba yg stabil, pengaruh kuat terhadap aliran dana di kawasan, serta tingkat dividen yg relatif tinggi.
Ketika arus modal mulai bergerak kembali, mereka hampir pasti menjadi kelompok pertama yg merasakan manfaatnya.
Sementara itu, sektor energi dan pertambangan merupakan bahan bakar dari ekspansi ekonomi. Seluruh aktivitas produksi pada dasarnya tidak bisa berjalan tanpa pasokan energi dan dukungan bahan baku.
Ketika investasi meningkat dan permintaan mulai pulih, harga energi dan komoditas akan terdorong naik secara sistematis. Karakteristik utama dari aset di sektor ini adalah memiliki elastisitas yg tinggi serta sangat sensitif terhadap perubahan siklus ekonomi.
BBCA itu bank unggulan di negara kita, sy sendiri udh pegang BCA sekitar 3 taon
Sementara itu, sektor konsumsi merupakan cerminan akhir dari pelepasan permintaan dalam perekonomian.
Ketika ekonomi mulai pulih dan pendapatan meningkat, daya beli masyarakat akan ikut menguat, sehingga mendorong perbaikan kinerja perusahaan. Pada fase ini, perusahaan-perusahaan di sektor konsumsi biasanya mulai memasuki tahap di mana pendapatan dan laba tumbuh secara bersamaan.
Sektor ini merepresentasikan peralihan siklus dari yg sebelumnya didorong oleh investasi, menuju fase yg didorong oleh permintaan.
Karena itu, tiga sektor ini pada dasarnya merupakan tiga pilar utama dari aset yg sejalan dengan siklus ekonomi.
Jika kita kembali ke praktik investasi, kalian akan menyadari bahwa dalam berbagai strategi yg sy lakukan sebelumnya, fokusnya selalu konsisten berada pada tiga arah ini: perbankan, energi dan pertambangan, serta konsumsi.
Bahkan ketika dampak konflik belum sepenuhnya mereda dan sentimen pasar masih diliputi ketidakpastian, sy tetap memilih untuk melakukan positioning lebih awal pada sektor-sektor tersebut.
Dan hasilnya sekarang sudah bisa kalian lihat. Seiring dengan pemulihan pasar secara bertahap, aset-aset tersebut terus memberikan imbal hasil yg stabil. Di balik itu, yg menjadi kunci bukanlah keberuntungan, melainkan logika.
Berinvestasi pada aset yg sejalan dengan siklus ekonomi bukan berarti mengejar kenaikan harga, tetapi melakukan positioning lebih awal sebelum siklus tersebut benar-benar dimulai.
Kenaikan pasar hanyalah sebuah hasil, sementara pemilihan sektor adalah penyebab utamanya.
Inilah alasannya mengapa sy terus menekankan bahwa jika kalian ingin mencapai profit yg stabil dalam jangka panjang, kalian tidak perlu setiap hari mencoba memprediksi arah pasar.
Yg perlu kalian lakukan sebenarnya hanya satu: menempatkan diri pada arah di mana aliran dana akan bergerak masuk.
Sektor bank, energi, sama konsumsi ini emang kuat banget
Menurut sy, selama sentimen terus pulih, 3 sektor utama ini msh bakal sering ksh peluang ke dpnnya
Setelah kita memahami arah dan metode dalam melakukan akumulasi di area bawah, langkah terakhir yg tidak kalah krusial adalah memastikan adanya margin of safety melalui manajemen risiko yg efektif.
Kita harus menyadari bahwa akumulasi di area bawah bukanlah sebuah spekulasi tanpa dasar, melainkan sebuah proses positioning yg terukur. Sedikit saja kesalahan dalam eksekusi, risiko terjebak dalam kerugian bisa langsung meningkat.
Oleh karena itu, pengendalian risiko selalu menjadi aspek paling penting dalam strategi ini. Di sini, sy ingin menggabungkan pendekatan dari salah satu legenda Wall Street, Jesse Livermore, untuk berbagi bagaimana melakukan akumulasi secara lebih aman. Pada dasarnya, pendekatan ini juga merupakan bentuk paling awal dari konsep grid trading.
Prinsip pertama dalam akumulasi di area bawah adalah: jangan pernah menempatkan seluruh dana pada satu saham.
Sy menyarankan agar alokasi dana untuk strategi ini tidak melebihi 5% dari total portofolio investasi. Misalnya, jika kalian memiliki dana sebesar 100 juta rupiah, maka pada tahap awal akumulasi, maksimal hanya sekitar 5 juta rupiah yg digunakan sebagai posisi awal.
Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menekan risiko secara signifikan. Pada tahap awal, kita menggunakan proporsi kecil untuk menguji respons pasar. Hanya ketika harga saham benar-benar mulai memasuki fase kenaikan dan tren mulai terkonfirmasi, barulah kita melakukan penambahan posisi secara bertahap.
Dalam proses kenaikan, posisi dapat ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai sekitar 10%–15% dari total dana, sehingga kita tetap menjaga keamanan sekaligus dapat memanfaatkan potensi profit dari tren yg sedang berlangsung.
Inti dari strategi ini adalah menggunakan dana kecil untuk menguji arah terlebih dulu, lalu memperbesar posisi ketika tren sudah jelas, sehingga dapat menyeimbangkan antara pengendalian risiko dan potensi return.
Pendekatan ini juga merupakan salah satu filosofi utama dari Jesse Livermore, salah satu trader paling sukses dalam sejarah Wall Street. Ia menerapkan metode uji posisi secara hati-hati, kemudian menambah posisi secara tegas saat arah sudah terkonfirmasi, sehingga mampu mengendalikan risiko sekaligus memaksimalkan hasil ketika berada di sisi yg benar.
Nanti kalo trennya udah makin jelas, baru pelan2 nambah posisi ke 10%–15%, cara kayak gini bikin mental jg lbh stabil ๐
Nah, ini baru keliatan kayak beneran lagi trading
Metode klasik penambahan posisi ala Jesse Livermore:
Langkah pertama adalah melakukan uji posisi dengan proporsi kecil. Setelah mengonfirmasi bahwa pasar berada dalam kondisi bullish, Jesse Livermore biasanya akan menggunakan sekitar 20% dari rencana total posisi sebagai tahap awal untuk masuk.
Sebagai contoh, jika total dana yg disiapkan sebesar 1 juta dolar, maka pada tahap awal ia hanya akan menggunakan 100 dolar untuk membeli 2.000 lembar saham yg setara 200.000 dolar.
Jika harganya kemudian naik 10% menjadi 110 dolar, hal ini mengonfirmasi bahwa arah analisisnya benar, sehingga bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Namun jika harga justru turun 10% menjadi 90 dolar, maka ia akan segera melakukan cut loss.
Dengan pendekatan ini, kerugian yg terjadi hanya 200.000 x 10% x 20% = 4% dari total rencana posisi, atau sekitar 4.000 dolar, sehingga tetap berada dalam batas risiko yg terkontrol, umumnya di bawah 5%.
Langkah kedua adalah menambah posisi setelah tren terkonfirmasi.
Setelah kenaikan terkonfirmasi dan harga naik ke 110 dolar, posisi ditambah kembali sebesar 20%. Misalnya, 110 x 1.800 = 198.000 dolar.
Jika harga kemudian terus naik ke 120 dolar, ini menunjukkan bahwa tren semakin kuat. Pada tahap ini, posisi kembali ditambah sebesar 20%. Misalnya 120 x 1.700 = 204.000 dolar.
Langkah ketiga adalah memperbesar posisi saat kemenangan sudah semakin jelas.
Ketika harga saham naik ke 130 dolar dan tren sudah benar-benar terkonfirmasi, Jesse Livermore akan melakukan penambahan posisi terakhir secara penuh. Misalnya 130 x 3000 = 390.000 dolar.
Pada tahap ini, total kepemilikan menjadi 2.000 + 1.800 + 1.700 + 3.000 = 8.500 lembar, dengan rata-rata harga perolehan sekitar 116,7 dolar.
Jika harga saham kembali turun ke 120 dolar, atau sekitar koreksi 10% dari puncak, maka posisi akan segera ditutup untuk mengunci profit tipis.
Perhitungan profitnya adalah (120 − 116,7) × 8.500 = 28.050 dolar.
Namun, jika harga justru melanjutkan kenaikan ke 140 dolar, maka potensi profitnya menjadi jauh lebih besar, yaitu (140 − 116,7) × 8.500 = 198.050 dolar.
Artinya, setiap kali melakukan penambahan posisi, selalu didasarkan pada konfirmasi kenaikan sebelumnya. Baru setelah itu, posisi diperbesar secara bertahap untuk memaksimalkan hasil. Hanya ketika tren sudah benar-benar jelas, barulah seluruh sisa posisi dimasukkan.
Melalui metode penambahan bertahap seperti ini, rata-rata harga belinya dapat dikendalikan dengan baik. Dan ketika tren benar-benar menguat, potensi keuntungan bisa meningkat secara signifikan.
Sebaliknya, jika dalam proses penambahan posisi terjadi pembalikan arah dan harga tiba-tiba turun, maka posisi akan segera ditutup secara tegas, baik untuk mengunci profit kecil maupun membatasi kerugian, tanpa ragu dan tanpa menahan posisi terlalu lama.
Mulai dr posisi kecil buat diuji dlu, kalo salah ruginya minim, kalo bener baru pelan2 dibesarin profitnya
Nah, ini baru keliatan kayak sistem trading yg bener ๐
Sekilas terlihat bahwa ia selalu memulai hanya dengan sekitar 20% dari total rencana posisi, sangat berhati-hati. Namun, begitu tren terkonfirmasi, ia berani meningkatkan posisi secara tegas untuk memaksimalkan pendapatannya.
Dibandingkan dengan banyak investor yg melakukan akumulasi secara impulsif dengan seluruh dana, metode Livermore mampu menjaga risiko setiap transaksi tetap berada dalam kisaran 4%–5%, sekaligus tetap memberikan peluang untuk meraih profit yg signifikan ketika tren bergerak sesuai arah.
Justru berkat disiplin inilah, Livermore mampu mencapai kesuksesan besar di Wall Street, sekaligus meninggalkan sebuah kerangka manajemen risiko yg sangat berharga bagi para investor setelahnya.
Oleh karena itu, dalam strategi melakukan pembelian di area bawah, selama kita mampu menerapkan pengelolaan proporsi yg disiplin dan memastikan bahwa alokasi pada satu saham tidak melebihi 5%, maka sekalipun keputusan tersebut tidak berjalan sesuai harapan, potensi kerugian maksimum tetap dapat dibatasi di kisaran 2% dari total dana investasi.
Dengan pendekatan seperti ini, secara teoritis kita memiliki hingga 50 kali kesempatan untuk melakukan akumulasi di area bawah. Artinya, kegagalan pada satu atau beberapa saham tidak akan memberikan dampak yg signifikan terhadap keseluruhan kinerja portofolio investasi kamu.
Cara atur posisi kayak gini emg bener banget, yg penting bisa bertahan dulu, baru nanti mikirin cara besarin profitnya
Gagal beli di harga bawah itu bukan yg paling bahaya, yg bahaya itu kalo sekali salah langsung bikin dana di akun habis
Prioritasin kontrol risiko dulu, baru mikirin profit ๐
Ok, sampai di sini pembahasan mengenai bagaimana melakukan pembelian di area bawah serta karakter saham yg cocok untuk strategi tersebut sudah sy jelaskan secara menyeluruh. Sy berharap kalian benar-benar memahami bahwa strategi pembelian di area bawah dan Dollar Cost Averaging merupakan dua pendekatan investasi yg secara fundamental berbeda.
Perbedaan ini tidak hanya terletak pada metode pelaksanaannya, tetapi juga pada potensi pendapatan yg dihasilkan serta jenis saham yg dipilih. Oleh karena itu, menentukan strategi yg paling sesuai menjadi hal yg sangat krusial.
Keputusan ini tidak bisa dibuat secara umum, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing investor, termasuk besaran dana yg dimiliki, ketersediaan waktu untuk memantau pasar, serta tingkat pemahaman dan pengalaman dalam investasi.
Perlu dipahami bahwa pemilihan metode investasi tidak ditentukan oleh besar kecilnya dana, melainkan oleh ketersediaan waktu serta tingkat keahlian yg kamu miliki.
Jika aktivitas harianmu cukup padat dan tidak memungkinkan untuk memantau pergerakan harga saham setiap hari, maka strategi Dollar Cost Averaging merupakan pilihan yg paling rasional. Dengan melakukan investasi rutin setiap bulan pada saham-saham unggulan, kamu dapat membangun aset secara bertahap tanpa harus terbebani oleh fluktuasi jangka pendek.
Sebaliknya, apabila kamu mampu meluangkan waktu untuk memperhatikan pasar secara konsisten, terutama saat jam pembukaan, maka strategi pembelian di area bawah berpotensi memberikan pendapatan yg lebih tinggi. Melalui pemilihan saham yg tepat serta pengelolaan risiko yg disiplin, kamu dapat memanfaatkan fase pelemahan pasar untuk memperoleh potensi profit yg lebih optimal.
Ok deh, sampai di sini dulu sharing kita malam ini. Sy harap melalui pembahasan tadi, kalian bisa benar-benar memikirkan dengan serius, metode investasi mana yg paling cocok untuk diri kalian masing-masing.
Setidaknya, kalian harus memiliki pemahaman yg jelas antara Dollar Cost Averaging yg berfokus pada akumulasi yg stabil, dan strategi membeli di area bawah yg dapat memberikan hasil yg lebih optimal. Di akhir pekan ini, sy juga akan tetap menyediakan bimbingan satu per satu bagi teman-teman yg membutuhkan.
Nanti akan sy sesuaikan dengan jumlah dana, waktu yg tersedia, serta toleransi risiko kalian, agar dapat disusun rencana investasi yg paling tepat. Mari kita bersama-sama menemukan jalur pertumbuhan aset yg sesuai untuk kalian. Kita lanjutkan lagi di akhir pekan.
Kali ini perbedaan antara beli di bawah sama DCA dijelasin sgn jelas ๐, emg bnyk orang yg masih sering campur2 ngegunainnya
DCA memang lebih pelan, tp buat kebanyakan orang justru jadi cara yg lebih stabil
Kita hrs pilih metode investasi yg paling cocok sama diri kita sendiri
Makasih Pak Sutanto atas sharingnya, malem ini sya jd paham bnyk hal, besok bakal sy ulangin lg poin2 pentingnya
Iya, yang paling penting itu yang cocok sama diri kita sndiri๐







