Bacalah Selalu !!

Bismillahirrahmanirrahiim ... Alhamdulillah was sholaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain." (HR. Abu Dawud). Ya Allah, semoga tindakan yang kami ambil hari ini didasari ilmu, bukan emosi. Jadikan hasilnya yang Engkau ridhoi untuk masa depan kami. Aamiin.

Rabu, 08 April 2026

Analisa Pasar 09 April 2026 Siang

Siang semuanya,

Pergerakan pasar saham pagi ini secara keseluruhan berjalan sesuai dengan ekspektasi kita. Setelah mengalami kenaikan signifikan kemarin, hari ini pasar mulai memasuki fase penyesuaian secara menyeluruh.

Namun, jika dilihat dari kondisi secara keseluruhan, tekanan penurunan di pasar masih relatif terbatas. Banyak dari kalian juga bertanya ke sy, apakah serangan udara terbaru dari Israel akan kembali memicu tekanan baru terhadap pasar saham.

AS sama Iran udah gencatan senjata, tp Israel sama Iran masih lanjut konflik😂

Di sini kita coba keluar dulu dari fokus pada isu konflik, karena topik ini sebenarnya sudah cukup sering kita bahas sebelumnya. Apalagi, besok Amerika Serikat dan Iran juga akan mulai memasuki tahap negosiasi resmi, sehingga hasil akhirnya kemungkinan besar akan segera mendapatkan kepastian.

Oleh karena itu, sy ingin mengajak kalian melihat dari perspektif lain, yaitu dengan mengamati beberapa fase penurunan besar di pasar saham AS dalam beberapa tahun terakhir.

Kita bisa melihat bahwa pada tahun 2020, 2022, dan 2024, pasar saham AS sama-sama mengalami penurunan signifikan. Namun, meskipun ketiga periode tersebut memiliki beberapa kesamaan, di dalamnya juga terdapat perbedaan mendasar yg menjadi kunci untuk kita pahami.

Tahun 2020 dipicu oleh pandemi, tahun 2022 oleh konflik Rusia–Ukraina, dan tahun 2024 oleh kebijakan tarif Trump yg mengguncang ekspektasi perdagangan global.

Sebagian merupakan peristiwa kesehatan publik, sebagian adalah konflik geopolitik, dan sebagian lagi merupakan dinamika kebijakan serta permainan perdagangan.

Namun, jika kita hanya berhenti pada alasan-alasan di permukaan, sebenarnya kita tidak akan benar-benar memahami pasar. Yg memiliki nilai bukan sekadar mengingat ketiga peristiwa tersebut, melainkan memahami apa kesamaan mendasar yg berada di balik ketiga fase penurunan tersebut.

Ketika kita membandingkan tiga periode tersebut secara menyeluruh, kita bisa menemukan satu kesamaan yg sangat krusial, yaitu semuanya merupakan peristiwa yg memberikan tekanan paling besar terhadap sentimen pasar.

Artinya, pada tahun 2020 pasar tidak mengetahui apakah pandemi akan lepas kendali, pada tahun 2022 pasar mengkhawatirkan eskalasi perang serta risiko ketidakstabilan energi, dan pada tahun 2024 investor mulai cemas terhadap potensi terganggunya sistem perdagangan global.

Ketiga peristiwa ini memiliki karakteristik yg sama, yaitu tingkat ketidakpastian yg sangat tinggi dan hasil akhirnya tidak dapat diverifikasi dalam jangka waktu yg singkat. Dan yg perlu kalian pahami dengan sangat jelas adalah, hal yg paling ditakuti oleh pasar bukanlah kabar buruk itu sendiri, melainkan ketidakjelasan seberapa buruk situasi tersebut akan berkembang.

Kalau diliat di thn 2020, 2022, 2024 meskipun penyebabnya beda, tp intinya sama, sentimen tiba2 dibesarin krna ketidakpastian

Kalo kabar buruk msh bs diukur, pasar biasanya gak terlalu panik, yg paling bikin takut itu justru kalo hasil akhirnya gak jelas sama sekali

Kalau dilihat dr inti masalahnya, tiga kejadian ini sbnarnya mirip banget

Jadi, dalam tiga fase penurunan ini, yg sebenarnya kita lihat bukanlah fundamental yg tiba-tiba melemah, melainkan pembesaran sentimen pasar secara cepat.

Dana mulai ditarik dalam skala besar, proporsi kas ditingkatkan, dan aset berisiko dilepas secara agresif, sehingga memicu penurunan harga yg terjadi dengan sangat cepat. Namun setelah itu, akan muncul satu fenomena yg sangat menarik sekaligus sangat krusial, yaitu setiap kali terjadi penurunan tajam, pasar justru cenderung mengalami rebound dengan cepat.

Dan kalian bisa melihat dengan jelas bahwa rebound seperti ini bukan sekadar pergerakan jangka pendek, melainkan mampu berlanjut dalam periode yg cukup panjang di pasar.

Yg lebih penting, jika kita melakukan analisis berbasis waktu, akan terlihat bahwa durasi dari ketiga fase penurunan ini hampir semuanya terkonsentrasi dalam satu rentang yg relatif serupa, yaitu sekitar 100 hari. Hal ini pada dasarnya menunjukkan satu poin yg sangat penting, yaitu siklus kepanikan pasar sebenarnya memiliki batasan waktu yg cukup jelas.

Betul, bnyk kasus di pasar itu turunnya bukan krn fundamental jelek, tp krn sentimen yg keburu anjlok dluan

Jadi tiap kali abis turun bnyk, biasanya bakal ada rebound lanjutan, ini bukan kebetulan, tapi krna sentimen udah sampe level terendah lalu mulai pulih lagi🥸

Pola 100 hari ini lumayan menarik sih

Mengapa pola kesamaan seperti ini bisa terjadi?

Karena setiap guncangan besar di pasar pada dasarnya akan melalui tiga tahap. 
Tahap pertama adalah fase pelepasan kepanikan paling ekstrem, di mana penurunan terjadi paling tajam.

Pada fase ini, informasi masih belum transparan, ekspektasi pasar berada di level yg sangat pesimis, dan investor mulai melakukan aksi jual tanpa seleksi. Inilah fase di mana penurunan berlangsung paling cepat dan paling agresif.

Tahap kedua adalah fase penyesuaian ekspektasi yg disertai pergerakan fluktuatif. Pada tahap ini, pasar mulai secara bertahap memahami inti dari peristiwa yg terjadi, skenario terburuk mulai tercermin ke dalam harga, dan sentimen perlahan menjadi lebih stabil.

Tahap ketiga adalah fase kembalinya arus dana yg mendorong rebound secara cepat. Seiring dengan menurunnya tingkat ketidakpastian, dana mulai kembali masuk ke pasar, sehingga harga mengalami pemulihan dengan cepat.

Artinya, penurunan pasar bukanlah semata-mata karena kondisi benar-benar memburuk, melainkan karena pelaku pasar mengantisipasi kemungkinan terburuk yg bisa terjadi.

Begitu ekspektasi terhadap risiko tersebut mulai terserap dan dipahami oleh pasar, maka pergerakan akan berbalik dan memasuki fase rebound. Jadi jika kita kembali ke inti utamanya, esensi dari ketiga penurunan ini bukan terletak pada pandemi, konflik, atau kebijakan tarif itu sendiri, melainkan pada tekanan sentimen dan pembesaran tingkat ketidakpastian di pasar.

Kalo tiga tahap ini kita pecah satu per satu, jdi keliatan kalo penurunan pasar itu sebenernya nggak semisterius yg dibayangin

Kesempatan buat dapein cuan yg bener2 besar itu, seringnya justru muncul di tahap ketiga, waktu dana mulai balik lagi ke pasar

Hal ini membawa kita pada satu kesimpulan yg sangat penting. Selama penurunan tersebut bukan merupakan krisis yg bersifat sistemik, maka penurunan yg didorong oleh sentimen pada akhirnya akan mengalami pemulihan.

Dan di sinilah letak kesalahan yg paling sering terjadi pada banyak investor. Karena dalam proses penurunan, yg terlihat adalah risiko, yg dirasakan adalah ketakutan, dan keputusan yg diambil justru adalah melakukan penjualan.

Namun ketika pasar mulai rebound, harga sudah lebih dulu naik dan sentimen juga sudah membaik, justru banyak investor yg kembali ragu untuk masuk.

Akhirnya terbentuk satu siklus yang berulang, saat harga turun mereka memilih menjual, namun ketika harga naik mereka tidak berani membeli.

Padahal, jika kalian benar-benar memahami pola yg tadi kita bahas, maka akan terlihat dengan jelas bahwa peluang terbaik di pasar justru sering muncul pada saat sentimen berada di level paling lemah.

Jadi, ketika kita merangkum ketiga fase penurunan ini, kita bisa mendapatkan satu pemahaman investasi yg sangat jelas. Peristiwa bisa berubah, namun pola pergerakan pasar tidak berubah. Karena itu, sy ingin meninggalkan satu kalimat yg sangat penting untuk kalian pahami:

Pasar tidak akan mengalami penurunan jangka panjang hanya karena kabar buruk, melainkan bisa mengalami distorsi dalam jangka pendek akibat kepanikan. Dan pada akhirnya, yg benar-benar menentukan hasil investasi kalian bukanlah seberapa banyak kalian berhasil menghindari penurunan, tetapi apakah kalian mampu berdiri di sisi yg tepat ketika pasar diliputi kepanikan.

Jadi akhirnya yg bikin rugi itu biasanya bukan karna salah beli, tapi karna tiap langkah malah kebalik terus😂

Berita pasar itu bakal terus berubah, tp rasa panik dan ragu dr manusia sbnernya dr dulu ya mirip2 aja

Nah ini baru masalah utama di dunia investasi

Jadi, ketika kalian sudah memahami hal ini, maka apakah skala konflik akan meluas atau tidak, sebenarnya tidak lagi menjadi faktor yg benar-benar krusial bagi keputusan investasi kalian.

Seperti pekan lalu ketika sy menyarankan untuk masuk ke EXCL, dan kemarin saat TAPG justru mengalami penurunan di tengah mayoritas saham yg menguat, sy tetap konsisten menyampaikan bahwa kedua saham ini memiliki potensi kenaikan ke depannya.

Dan fakta yg terjadi saat ini juga mulai mengonfirmasi bahwa, pada fase seperti sekarang, bagi sebagian besar investor, pilihan yg paling rasional adalah memanfaatkan momentum rebound pasar untuk secara bertahap merapikan, bahkan menutup posisi pada sejumlah investasi saham yg sebelumnya kurang tepat. Ok, untuk sore ini kita cukupkan sampai di sini. Nanti malam kita lanjutkan kembali dalam sesi sharing berikutnya.

Iya betul, meskipun kmren TAPG sempat turun, tp hari ini udah mulai naik lagi😇

Ngerti, jdi kita harus belajar manfaatin rebound pasar, pelan2 ngurangin posisi yang masih full di tangan

EXCL skrg sdah cuan bnyk, tren nya jg sdah kebentuk naik, jadi kemungkinan msh lanjut naik ke dpannya, menurutku pegang aja dgn tenang

Pak Sutanto, mlm ini bakal lanjut bahas daftar saham lagi gak? sy mau bljar lebih bnyak lagi🙏