Selamat pagi, teman2.
Setelah semalam pasar saham AS kembali naik secara menyeluruh, kita bisa melihat situasi yg terlihat kontradiktif, di satu sisi, tensi di Timur Tengah masih tinggi, namun di sisi lain, pasar saham AS justru terus menguat.
Karena itu, bnyk teman2 mulai bertanya, kenapa dalam kondisi risiko perang yg belum mereda, pasar saham malah naik? Sebenarnya, terkait pemulihan pasar saham AS saat ini, sy sdh memberikan analisa dan prediksi yg cukup lengkap dalam sharing hari Jumat lalu. Karena faktor utama yg mendorong rebound pasar kali ini bukanlah meredanya konflik, melainkan data NFP yg hasilnya jauh melampaui ekspektasi pasar.
Selamat pagi Pak Sutanto
Iya bener, yg ngaruh ke pasar itu bukan cuma satu faktor perang aja.
Dalam sharing hari Jumat, sy membahas data NFP bulan Maret, di mana penambahan tenaga kerja mencapai 178 ribu, jauh melampaui ekspektasi pasar. Dari data tersebut, sy juga menegaskan bahwa ekonomi AS saat ini tidak berada dalam kondisi resesi, bahkan menunjukkan ketahanan yg lebih kuat dari perkiraan pasar.
Artinya, di tengah situasi konflik yg masih berlangsung, pasar tenaga kerja AS tetap stabil, dan fundamental perusahaan tidak mengalami masalah secara sistemik. Bagi pasar saham, ini merupakan sinyal positif yg cukup jelas.
Namun, sy juga sudah menekankan saat itu bahwa ini bukanlah sentimen positif secara menyeluruh. Sehingga ketika tercermin ke pasar saham Indonesia, kondisi yg terbentuk adalah pergerakan yg cenderung berfluktuasi.
Selain itu, dari respons pasar dalam bbrp hari terakhir, kita bisa melihat bahwa meskipun Iran menolak gencatan senjata, AS terus memberikan tekanan, dan risiko di Selat Hormuz masih ada, namun reaksi pasar sudah sangat jelas.
Pasar mulai mengabaikan skenario terburuk, yg berarti menilai bahwa dalam jangka pendek kemungkinan terjadinya perang besar relatif rendah. Karena itu, aliran dana mulai bergeser dari trading berbasis kepanikan menuju pendekatan berbasis fundamental.
Selanjutnya, yg perlu kita lakukan adalah mengonfirmasi struktur pergerakan pasar. Rebound yg terjadi saat ini sebenarnya sudah memberikan sinyal yg sangat jelas, bukan semua sektor yg naik, melainkan dana sedang melakukan redistribusi. Artinya, ini bukan kenaikan menyeluruh, tetapi kenaikan yg bersifat selektif.
Ketakutan krna perang, kalau ketemu data, dampaknya jadi makin kecil
Risiko belum hilang, pasar lagi nimbang antara risiko dan potensi cuan 😁
Ada saham yg naik, ada yg masih turun, berarti udh mulai masuk fase pilih2 sektor ya
Oleh karena itu, dalam kondisi saat ini, secara keseluruhan situasi justru relatif menguntungkan bagi Indonesia. Logikanya sederhana, harga minyak masih berada di level tinggi, namun perang belum benar2 terjadi.
Hal ini menghasilkan satu kondisi, yaitu kenaikan harga energi dikombinasikan dengan posisi pasar saham yg masih berada di level relatif rendah, sehingga membuat potensi imbal hasil investasi di pasar saham Indonesia meningkat secara signifikan.
Karena itu, meskipun bnyk teman2 sempat khawatir bahwa pasar hari ini akan terdampak oleh FTSE Russell, namun dari kondisi yg terlihat skrg, pengaruh tersebut hampir bisa diabaikan. Sebab jika melihat struktur aliran dana di Indonesia saat ini, sebagian besar justru berasal dari dana yg terkait dengan MSCI.
Dibanding nebak naik turun, skrg lebih penting lihat arah aliran dana.
Tentu saja, seiring dengan perubahan tren pasar saat ini, terutama setelah beberapa saham seperti BUMI mulai mengalami kenaikan cepat, bnyk teman2 juga mulai menanyakan terkait investasi jangka pendek. Apalagi pada minggu lalu, fokus sharing kita memang lebih banyak membahas strategi jangka pendek.
Namun di sini sy ingin menyampaikan dengan sangat jelas, bahwa selama km ingin terlibat dalam investasi jangka pendek, baik itu trading harian, holding beberapa hari hingga beberapa minggu, maupun strategi swing, maka bagi sebagian besar investor, hal tersebut justru akan membuat mereka masuk ke dalam sebuah “jebakan” yg tersusun secara alami.
Bukan karena pasar secara sengaja menargetkan investor ritel, melainkan karena adanya kelemahan struktural, bias psikologis, serta faktor probabilitas matematis, yg secara bersamaan membuat mayoritas investor cenderung mengalami kerugian dalam jangka panjang.
Kalo diliat kayak gini, pasar kita emg ada sedikit keunggulan juga ya haha
Kondisi kayak gini emg lebih cocok buat alokasi jangka menengah-panjang ya?
Pertama, data menunjukkan realita yg cukup keras. Lebih dari 97% investor ritel mengalami kerugian dalam trading jangka pendek. Berdasarkan bnyk penelitian independen dan statistik pasar, tingkat keberhasilan trading jangka pendek memang sangat rendah.
Data jangka panjang dari pasar saham Taiwan menunjukkan bahwa hanya sekitar 0,88% hingga 1% trader harian yg mampu menghasilkan keuntungan secara konsisten, sementara lebih dari 97% mengalami kerugian.
Penelitian di pasar futures Brasil juga menunjukkan hasil serupa, di mana 97% trader mengalami kerugian, dan hanya sekitar 1,1% yg mampu menghasilkan pendapatan di atas tingkat upah minimum. Sementara itu, di AS maupun secara global, trader ritel yg paling aktif pun sering kali memiliki return tahunan yg tertinggal dari pasar sebesar 6–7%.
Terkait pasar saham A China, data juga menunjukkan kondisi yg serupa. Bagi investor ritel yg melakukan trading sangat aktif dengan tingkat perputaran lebih dari 10 kali per tahun, tingkat kerugiannya mencapai hingga 92%, dengan median return tahunan sekitar -32%.
Untuk akun dengan dana kecil, tingkat kerugiannya bahkan mendekati 99%. Meskipun ada sebagian orang yg dalam jangka pendek memiliki tingkat kemenangan di atas 50%, namun setelah dikurangi biaya transaksi, hasil bersihnya tetap negatif. Semakin sering melakukan transaksi, kinerjanya justru semakin buruk dan ini merupakan pola yg hampir selalu terjadi.
Prof bilang trading jangka pendek itu jebakan, sy juga ngerasain…
Rugi itu bukan kasus khusus, tapi emg hasil yg dialamin sama kebanyakan orang.
Kedua, secara matematis, trading jangka pendek adalah permainan yg hampir pasti merugikan. Pada dasarnya, trading jangka pendek merupakan zero-sum game, di mana investor ritel berada dalam berbagai posisi yg tidak menguntungkan.
Salah satunya adalah “lubang hitam” biaya transaksi: fee, pajak, slippage, hingga biaya platform. Dengan asumsi tingkat kemenangan 50%, maka setiap transaksi harus menghasilkan lebih dari 2% hanya untuk mencapai titik impas. Dalam kondisi trading yg sering, biaya2 ini bisa menggerus 15%–20% dari modal setiap tahunnya.
Sementara itu, institusi kuantitatif dan high-frequency trading memanfaatkan keunggulan kecepatan dalam hitungan milidetik serta biaya yg sangat rendah untuk mengambil keuntungan yg pada dasarnya berasal dari “biaya gesekan” milik investor ritel. Ditambah lagi, adanya ketimpangan informasi dan kecepatan, di mana likuiditas pasar banyak didominasi oleh institusi dan algoritma kuantitatif.
Di pasar saham AS, transaksi high-frequency trading menyumbang sekitar 50%–60% dari total volume. Mereka mampu memindai pasar lebih cepat, menciptakan false breakout, serta memburu stop loss, dengan cara menembus level harga penting untuk memicu kepanikan jual dari investor ritel, lalu mengambil posisi di harga rendah.
Sementara itu, investor ritel yg mengandalkan feeling atau informasi publik, hampir selalu tertinggal satu langkah. Dari sisi risiko dan imbal hasil, juga terjadi ketidakseimbangan: untung kecil, rugi besar.
Data menunjukkan, rata-rata profit per transaksi hanya sekitar +1,2%, sedangkan kerugian rata-rata mencapai -2,8%. Bahkan dengan tingkat kemenangan 60% sekalipun, tetap sulit untuk menghasilkan keuntungan. Belum lagi, disiplin dalam menjalankan stop loss sering kali sulit, sementara profit justru sering diambil terlalu cepat.
Sebaliknya, investasi jangka panjang memiliki karakter yg benar2 berbeda. Di hampir seluruh pasar global (di luar China), tren jangka panjang umumnya menunjukkan arah naik, dengan imbal hasil tahunan historis di kisaran 7%–10%.
Artinya, km cukup memegang aset dan menikmati efek compounding tanpa perlu aktif trading. Biaya juga jauh lebih rendah, dan kmu tidak perlu memprediksi pergerakan pasar setiap hari.
Di sekitar sy bnyk yg trading XAUUSD, tiap hari trading berkali2, liatnya aja udh capek. Tp kalo dijalanin terus, malah rugi cukup parah...😅
Dulu sy juga pernah main forex sama XAUUSD, ikut belajar scalping dari orang lain, ujung2nya malah kena margin call. Skrg mulai lagi dari nol belajar saham 🙏🏽
Terakhir adalah jebakan psikologis dan perilaku. Sifat manusia sering kali justru memperbesar kerugian. Trading jangka pendek memberikan stimulasi tinggi, mirip seperti mesin judi, yg terus memicu pelepasan dopamin.
Keuntungan kecil di awal membuat seseorang merasa dirinya “jago” atau seperti ahli pasar, sehingga mulai menambah leverage dan memperbesar posisi. Namun pada akhirnya, satu kejadian tak terduga atau kehilangan kendali emosi saja sudah cukup untuk menghapus seluruh keuntungan, bahkan membuat modal kembali ke nol.
Bias konfirmasi dan FOMO. Investor hanya melihat informasi yg mendukung pandangannya sendiri, akhirnya membeli di harga tinggi dan panik menjual di harga rendah.
Sering kali, investor ritel justru menjadi penyedia likuiditas bagi institusi. Saat institusi menekan harga hingga memicu stop loss, investor ritel terpaksa cut loss, sementara institusi justru masuk di harga bawah. Terlalu lama memantau pasar juga membuat kemampuan pengambilan keputusan menurun, dan satu kesalahan saja bisa berdampak fatal.
Bnyk investor ritel berpikir bahwa semakin bnyk belajar dan semakin sering trading akan membuat mereka menang, padahal kenyataannya justru sering kali berujung pada kerugian yg berulang.
Sebaliknya, investor jangka panjang memiliki pola pikir yg berbeda. Mereka menerima volatilitas, fokus pada fundamental perusahaan atau indeks, serta menghindari gangguan sentimen.
Karena itu, selama km memilih untuk terlibat dalam trading jangka pendek, maka besar kemungkinan hasil akhirnya akan seperti yg telah dijelaskan sebelumnya. Dari pengalaman investasi sy selama bertahun2, sy benar2 belum pernah melihat investor jangka pendek yg mampu membangun kekayaan secara konsisten.
Inilah alasan knp di fase pasar yg krusial seperti sekarang, sy lebih menekankan pembahasan pada investasi jangka panjang. Baik, untuk sesi pagi ini kita cukupkan sampai di sini. Kita lanjut lagi di sharing siang nanti.
Bagian ini bener2 ngejelasin sisi paling bahaya dari jangka pendek, bnyk orang bukan kalah sama pasar, tp kalah sama diri sendiri.
FOMO sama bias konfirmasi kalo digabung, itu udh jadi pola paling umum yg bikin retail rugi.
Skrg kondisi pasar saham lagi kurang bagus, main jangka pendek susah buat cuan, jadi emg lebih baik fokus ke investasi nilai.💪
Iya bener, beli saham unggulan di harga bawah, tahan jangka panjang, tinggal nunggu harga naik.



