Bacalah Selalu !!

Bismillahirrahmanirrahiim ... Alhamdulillah was sholaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain." (HR. Abu Dawud). Ya Allah, semoga tindakan yang kami ambil hari ini didasari ilmu, bukan emosi. Jadikan hasilnya yang Engkau ridhoi untuk masa depan kami. Aamiin.

Kamis, 23 April 2026

Materi Sharing 26 : Bagaimana Cara Mengembangkan Investasi Bulanan Sebesar 10 Juta Rupiah Agar Di Masa Depan Bisa Mencapai Lebih Dari 7 Miliar Rupiah ?

Selamat malam semuanya,

Sebenarnya, dalam rangkaian sharing yg sudah kita lakukan selama periode terakhir ini, sy sudah secara sistematis membangun satu kerangka investasi saham yg relatif lengkap untuk kalian.

Dari sisi metodologi, kita tidak hanya membahas satu pendekatan saja, tetapi sudah mencakup beberapa aspek inti dalam investasi, mulai dari bagaimana menyusun strategi investasi jangka menengah hingga panjang, bagaimana melakukan seleksi peluang untuk trading jangka pendek, bagaimana memahami struktur pasar serta arah aliran dana, hingga pada tahap implementasi, yaitu bagaimana mengeksekusi strategi tersebut secara tepat dan disiplin.

Seluruh materi ini bukan sekadar rangkuman teori. Ini merupakan hasil dari pengalaman nyata yg sy jalani sendiri selama bertahun-tahun di pasar, serta melalui proses observasi dan pencatatan yg konsisten dalam jangka panjang.

Karena itu, sy dapat menyampaikan kepada kalian dengan penuh tanggung jawab, selama kamu benar-benar menjalankan kerangka metode yg telah sy susun ini, baik dalam investasi jangka menengah hingga panjang maupun dalam trading jangka pendek, peluang di pasar pada dasarnya bukan sesuatu yg acak, melainkan sesuatu yg dapat kamu manfaatkan secara konsisten dari waktu ke waktu.

Malem ini sy pasti belajar dgn serius, biar ngerti gmn caranya buat cuan

Di pasar mana pun pasti selalu ada peluang trading, tinggal kita bisa manfaatin atau nggaknya aja💪

Mari kita mulai dengan melihat bagian investasi jangka panjang terlebih dulu. Baik tiga arah utama yg selama ini terus sy tekankan, maupun kerangka investasi yg digunakan oleh Vanguard, hingga saat ini hasilnya sudah terlihat dengan sangat jelas.

Ini bukan hasil dari satu atau dua kali keberuntungan, melainkan bukti nyata bahwa metode yg tepat, ketika dikombinasikan dengan disiplin waktu, akan memberikan hasil yg telah terverifikasi oleh pasar.

Sebagai contoh, dalam sesi sharing pada malam tanggal 8 April, sy secara jelas telah memberikan kepada kalian daftar 20 saham. Di sana tercantum harga saham pada saat itu yg sy catat, dan di bagian berikutnya adalah harga saham saat ini.

Bahkan ketika hari ini pasar saham mengalami penurunan besar secara menyeluruh, portofolio tersebut tetap mampu mencatatkan kinerja yg stabil dan menghasilkan profit. Kita juga dapat melihat bahwa jumlah dan proporsi saham yg mengalami kenaikan masih jauh lebih besar dibandingkan dengan saham yg mengalami penurunan.

Dengan demikian, kerangka investasi Vanguard tidak hanya efektif dalam perspektif jangka panjang, tetapi bahkan dalam kondisi pasar jangka pendek sekalipun, tingkat keandalannya tetap dapat teruji secara nyata.

Selama kita pegang saham utama, mmg potensi profitnya bisa tinggi banget

TPIA sampe skrg udh naik 37% 👍

BUMI blkgn ini pergerakannya kurang bagus, tp menurut sy ini lagi fase penyesuaian dulu, nanti ke dpnnya harusnya bisa naik lagi

Selanjutnya, mari kita lihat pada bagian trading jangka pendek. Pada Senin malam pekan ini, sy telah membagikan kepada kamu metode seleksi saham untuk jangka pendek, yg mencakup penyaringan berdasarkan tren, filter volume transaksi, serta konfirmasi struktur pergerakan harga.

Pada saat itu, sy juga secara khusus menekankan satu hal penting, bahwa metode ini tidak hanya berlaku untuk pasar saham Indonesia, melainkan memiliki universalitas dan dapat diterapkan di berbagai pasar lainnya.

Dan tepat setelah sesi sharing tersebut selesai, ada seorang peserta yg langsung menerapkan metode ini dan berhasil menyaring satu saham di pasar Singapura, yaitu MZH.

Jika kamu sekarang melihat kembali pergerakan harga MZH sejak hari Selasa, kamu akan menemukan bahwa pergerakannya sepenuhnya sesuai dengan logika yg kita bahas saat itu.

Di sini, sy ingin menekankan satu poin yg sangat penting: yg kita lakukan bukanlah sekadar merekomendasikan saham, melainkan mengajarkan kalian bagaimana cara menemukan saham secara mandiri. Karena rekomendasi bersifat jangka pendek, sedangkan metode adalah aset jangka panjang.

Gila sih keren banget, akhir2 ini sy jg lagi coba pake cara yg bpk ajarin buat pilih saham 😎

Karena ketika kamu benar-benar telah menguasai metode tersebut, kamu tidak perlu lagi menunggu orang lain memberi tahu harus membeli apa. kamu sendiri sudah mampu menemukan peluang di berbagai pasar.

Oleh karena itu, dalam periode ini sebenarnya telah terverifikasi satu hal penting: baik dalam penyusunan strategi investasi jangka panjang maupun dalam proses seleksi untuk trading jangka pendek, kerangka sistem ini memiliki kemampuan untuk diterapkan antar pasar secara konsisten.

Oleh karena itu, sy ingin mengajak kalian untuk memikirkan satu pertanyaan penting: mengapa dalam pasar yg sama, ada pihak yg terus-menerus mampu menemukan peluang, sementara yg lain justru mengalami kerugian secara berkelanjutan?

Jawabannya sebenarnya sangat sederhana, yaitu apakah memiliki metode yg tepat, dan apakah mampu mengeksekusinya dengan disiplin. Karena itu, izinkan sy menyampaikan satu hal kepada kalian: pasar tidak pernah kekurangan peluang, yg langka adalah mereka yg mampu mengenali peluang tersebut dengan benar.

Sampai di saat ini, kita harus kembali pada satu hal yg paling mendasar, sekaligus menjadi tujuan utama kamu ketika pertama kali bergabung dengan Akademi Investasi Cerdas, yaitu bagaimana sebenarnya cara untuk mencapai profit yg stabil di pasar saham.

Atau sy akan mengajukannya dengan cara yg lebih langsung: apakah ada suatu metode yg hampir tidak memerlukan analisis maupun riset yg kompleks, namun tetap mampu menghasilkan profit secara konsisten dalam jangka panjang?

Iya, kalau pakai cara yg tepat, hasilnya bs jauh lebih maksimal dgn effort yg lebih efisien

Berarti pilihannya ya fokus ke investasi jangka pjang yg punya nilai bagus

Sy yakin banyak dari kalian pernah mengalami situasi seperti ini dalam proses investasi. Ketika harga saham mulai naik, kamu langsung menjualnya, namun setelah itu justru harga terus melanjutkan kenaikan, sehingga kamu kehilangan peluang.

Sebaliknya, ketika saham mengalami penurunan, kamu menjadi panik dan segera menjual, tetapi ternyata justru menjual di level terendah, lalu harga kembali berbalik naik.

Bahkan, mungkin setiap kali melakukan transaksi, kamu merasa keputusan kali ini sudah benar, namun hasil akhirnya justru selalu membeli di harga tinggi dan menjual di harga rendah. Akar permasalahannya bukan karena kamu kurang cerdas, melainkan karena keputusan yg diambil didorong oleh emosi.

Secara naluriah, ketika harga naik, kamu cenderung khawatir akan terjadi penurunan kembali, sehingga ingin segera mengunci profit. Sebaliknya, ketika harga turun, muncul ketakutan bahwa kerugian akan semakin besar, sehingga terdorong untuk segera melakukan cut loss.

Namun, pergerakan pasar justru sering berjalan dengan arah yg berlawanan dari naluri tersebut. Dalam tren naik, harga cenderung melanjutkan kenaikan, sementara kepanikan saat penurunan justru sering kali mendekati area dasar.

Akibatnya, muncul satu kondisi yg sangat umum: kamu melakukan hal yg sebenarnya benar, tetapi pada waktu yg tidak tepat. Maka pertanyaannya menjadi sangat penting, apakah ada suatu metode yg dapat membantu kamu menghindari kesalahan-kesalahan tersebut?

Apakah ada pendekatan yg mampu membuat kamu tetap objektif tanpa dipengaruhi emosi, dan pada akhirnya memungkinkan kamu memperoleh profit secara lebih alami dan konsisten?

Sy investasi saham emang krna punya masalah kyk gini😂

Ikut bljar bareng Pak Sutanto mmg bner2 bisa dptin bnyk ilmu👍

Jawabannya adalah ada, dan metode ini sebenarnya sangat sederhana. Namun sebelum sy menjelaskan lebih lanjut, ada satu hal yg perlu sy tekankan terlebih dulu: metode ini bukan sesuatu yg bersifat spekulatif, tidak menjanjikan keuntungan instan, dan tidak akan membuat aset kamu berlipat ganda dalam waktu singkat.

Tetapi metode ini memiliki satu keunggulan paling penting, yaitu kemampuan untuk menghasilkan profit secara stabil dalam jangka panjang.

Lebih dari itu, pendekatan ini juga dapat membantu kamu menghindari kesalahan umum seperti menjual terlalu cepat, menjual di level terendah, serta tidak mengharuskan kamu untuk terus-menerus melakukan penilaian dan pengambilan keputusan secara berulang.

Artinya, metode ini membantu kamu untuk mengurangi kesalahan, sehingga profit dapat diperoleh secara lebih alami.

Malam ini, sy akan membagikan metode tersebut secara lengkap kepada kalian. Ini adalah salah satu pendekatan paling sederhana, namun sekaligus paling efektif yg sy temukan sepanjang perjalanan investasi sy selama bertahun-tahun.

Jika kamu benar-benar memahami dan mampu menjalankannya dengan disiplin, sy dapat menyampaikan dengan tegas bahwa menghasilkan profit bukan lagi persoalan peluang, melainkan persoalan waktu.

Dan inti dari metode ini sebenarnya adalah DCA yg sebelumnya sudah sy bagikan kepada kalian. Namun sy memahami, banyak dari kalian ketika mendengar hal ini, reaksi pertama adalah menganggap bahwa metode ini memberikan pendapatan yg terlalu rendah.

Jika kamu memiliki pandangan seperti itu, maka sy dapat mengatakan dengan sangat jelas, bukan berarti kamu tidak memahami investasi, tetapi kamu belum benar-benar memahami konsep pertumbuhan majemuk atau compounding.

Bnyk orang ngerasa DCA itu lambat, padahal yg paling kuat itu efek compoundingnya

Metode ini memang lbh cocok buat long term

Investasi itu paling bahaya kalau asal bolak-balik tanpa arah, kadang ngurangin kesalahan itu malah lebih penting daripada nambah cuan sekali😄

Mari kita lakukan perhitungan paling sederhana. Misalnya, setiap bulan kamu berinvestasi sebesar 10 juta rupiah, sehingga dalam satu tahun totalnya menjadi 120 juta rupiah.

Jika tingkat return jangka panjang berada di kisaran 10% per tahun, maka setelah 20 tahun, nilainya akan berkembang menjadi sekitar 7,183 miliar rupiah.

Banyak orang ketika melihat hasil ini, reaksi pertamanya adalah: sy sudah menginvestasikan total 2,4 miliar rupiah selama 20 tahun, tetapi profit yg didapat hanya sekitar 4,783 miliar rupiah?

Lalu muncul kesimpulan bahwa hasilnya terlalu kecil. Padahal, ini adalah kesalahan pemahaman yg sangat umum.

Karena kamu mengabaikan satu fakta yg paling penting, yaitu dana tersebut tidak diinvestasikan sekaligus sebesar 2,4 miliar rupiah sejak awal, melainkan dilakukan secara bertahap setiap bulan sebesar 10 juta rupiah.

Apa artinya ini? Mengeluarkan dana sekaligus sebesar 2,4 miliar rupiah bagi sebagian besar orang tentu saja bukan hal yg mudah.

Namun jika dibagi menjadi investasi rutin sebesar 10 juta rupiah setiap bulan, hampir semua orang memiliki peluang untuk melakukannya.

Di sinilah kekuatan sebenarnya dari compounding: mengubah sesuatu yg tampak mustahil dalam jumlah besar menjadi sesuatu yg dapat dicapai secara konsisten melalui langkah-langkah kecil.

Kalo gitu, emang keliatan powerful banget, dan semua orang jg sbnernya bs lakuin

Jdi tiap bulan masukin 10 juta rupiah ya?

Selain itu, kamu juga mengabaikan poin kedua yg jauh lebih penting, yaitu arus kas, dalam hal ini berasal dari dividen. Dalam praktik investasi yg sebenarnya, keuntungan yg kamu peroleh tidak hanya berasal dari kenaikan harga, tetapi juga dari aliran dividen yg dibayarkan secara berkelanjutan.

Sehingga dalam kondisi nyata, prosesnya akan terlihat seperti ini: pada tahun ke-1 hingga ke-5, kamu masih berada dalam fase akumulasi; memasuki tahun ke-5 hingga ke-10, pendapatan dari dividen mulai meningkat; dan setelah melewati tahun ke-10, dividen yg kamu terima bahkan berpotensi untuk menutupi jumlah investasi yg kamu keluarkan setiap tahun.

Artinya, pada tahap selanjutnya kamu pada dasarnya sudah menggunakan “uang dari pasar” untuk terus berinvestasi.

Di sinilah letak kekuatan terbesar dari compounding. Pada fase awal, kamu yg membangun dan mengembangkan aset, namun pada fase berikutnya, aset tersebut mulai memberikan kontribusi dan “bekerja” untuk kamu.

Karena itu, persoalan dalam investasi sebenarnya bukan sekadar apakah tingkat profitnya tinggi atau rendah, melainkan apakah kamu memiliki waktu, kesabaran, dan kedisiplinan dalam menjalankannya.

Mengapa banyak orang tidak berhasil menghasilkan uang di pasar? Karena mereka ingin hasil yg instan, berharap aset bisa berlipat ganda dalam waktu 1 tahun, meremehkan imbal hasil 10%–15%, dan tidak bersedia menjalani proses akumulasi secara bertahap.

Akibatnya, mereka terus-menerus berpindah strategi, terlalu sering melakukan transaksi, dan pada akhirnya justru mengalami kerugian secara berkelanjutan.

Sebaliknya, mereka yg benar-benar mampu menghasilkan profit secara konsisten, pada dasarnya melakukan hal yg sederhana: melakukan investasi secara rutin, mempertahankan kepemilikan dalam jangka panjang, dan membiarkan efek compounding bekerja dengan sendirinya.

Dalam dunia investasi, yg terlihat cepat sering kali justru menjadi jalan yg paling lambat, sementara pendekatan yg tampak lambat justru merupakan cara tercepat untuk mencapai hasil yg berkelanjutan.

Pak Sutanto kalau buat jangka pendek ada nggak cara yg bs cepet dptin cuan?

Jika perhitungan compounding tadi masih terasa agak sulit untuk dipahami, maka sekarang kita langsung gunakan contoh nyata dari pasar. Kita tidak akan memilih saham yg paling kuat, melainkan mengambil contoh saham yg paling umum, yaitu TLKM.

Sy yakin banyak dari kalian ketika melihat saham ini, reaksi pertamanya adalah: pergerakannya tidak terlalu besar, kenaikannya lambat, dan terlihat kurang menarik.

Faktanya memang demikian. Dalam 10 tahun terakhir, harga saham TLKM hanya naik dari sekitar 1.700 ke 2.900, tanpa adanya lonjakan yg eksplosif. Tingkat dividen berada di kisaran 5%, dan pembagian dividennya juga tidak tergolong tinggi.

Artinya, TLKM merupakan saham dengan pertumbuhan yg relatif lambat, dividen yg tidak terlalu besar, dan sering kali kurang diminati oleh pasar.

TLKM 10 thn cuma naik 70%, emg kerasa pelan banget

Maka pertanyaannya menjadi menarik, jika bahkan pada saham yg paling “biasa” seperti ini kita menerapkan strategi DCA, seperti apa hasilnya?

Mari kita lihat berdasarkan data nyata. Dimulai dari Januari 2014, dengan investasi rutin sebesar 10 juta rupiah setiap bulan, dan dilakukan secara konsisten hingga April 2026, total periode investasi mencapai 148 bulan.

Total modal yg diinvestasikan: 1,48 miliar rupiah
Total kepemilikan saham sekitar 533.000 lembar
Jika dihitung dengan harga 2.900
Maka total aset saat ini: 1,55 miliar rupiah

Kita bisa melihat bahwa profitnya hampir bisa diabaikan. Di saat ini, banyak orang pasti akan berkata: 148 bulan investasi tetapi returnnya tidak sampai 10%? Ini bukannya malah rugi?

Namun di sini, kamu kembali mengabaikan satu hal yg paling krusial: apa sebenarnya pengeluaran riil kamu?

Bukan 1,48 miliar rupiah yg diinvestasikan sekaligus, melainkan 10 juta rupiah setiap bulan. 10 juta rupiah per bulan mungkin hanya setara dengan satu kali makan malam yg lebih baik, satu dua pakaian, atau sebagian dari pengeluaran gaya hidup sehari-hari.

Namun sekarang, dana yg terlihat kecil dan rutin tersebut telah berhasil kamu akumulasikan menjadi sebuah aset senilai 1,55 miliar rupiah.

Selain itu, ada satu hal lagi yg juga sering terlewatkan: perhitungan ini bahkan belum memasukkan efek penuh dari reinvestasi dividen.

Dengan asumsi kepemilikan saat ini sekitar 533.000 lembar saham, dan dividen per saham yg tidak kurang dari 200 rupiah, maka setiap tahunnya kamu masih berpotensi mendapatkan arus kas lebih dari 100 juta rupiah.

Dan yg perlu benar-benar dipahami di sini adalah, contoh yg kita gunakan ini justru termasuk salah satu skenario yg paling konservatif. TLKM bukanlah saham dengan pertumbuhan tinggi, bukan saham dengan dividen tinggi, dan juga bukan saham yg mengalami kenaikan harga secara eksplosif.

Kalau saham yg biasa aja bisa pelan2 jadi gede, apalagi aset yg lebih bagus, potensinya pasti lebih menarik👍

Nah, sy sdh nangkep cara mikirnya

Setiap bulan pelan2 masukin dana, ujungnya bs jadi aset lebih dari 1,5 miliar, itu udh termasuk profit yg tinggi bngt sih

Namun meskipun demikian, hasilnya tetap menunjukkan bahwa kita masih bisa memperoleh profit secara stabil dan terus mengakumulasi aset dari waktu ke waktu. Jadi yg seharusnya kamu pikirkan sekarang adalah, bagaimana jika pendekatan yg sama diterapkan pada saham perbankan dengan dividen tinggi, seperti apa hasil akhirnya?

Dengan demikian, kesimpulan yg sebenarnya bukanlah bahwa TLKM adalah saham yg luar biasa, melainkan bahwa metode yg digunakan itulah yg memiliki kekuatan untuk menghasilkan profit.

Artinya, bahkan saham yg paling biasa sekalipun tetap dapat memberikan hasil positif selama dikelola dengan strategi DCA secara disiplin.

Jika kita mengacu pada kasus TLKM yg sangat konservatif ini, hasilnya saja sudah menunjukkan kemampuan untuk menghasilkan profit secara stabil.

Sekarang, mari kita terapkan metode yg sama pada aset yg lebih optimal, yaitu BMRI, yg juga merupakan salah satu saham bank inti di Indonesia dan menjadi pilihan utama yg sy rekomendasikan.

Dengan asumsi yg tetap sama, yaitu dimulai sejak tahun 2014, melakukan investasi rutin sebesar 10 juta rupiah setiap bulan, dan berlangsung hingga saat ini selama 148 bulan.

Hasil akhirnya adalah sebagai berikut:

Total investasi: 1,48 miliar rupiah
Total akumulasi pembelian: 549.000 lembar saham
Nilai aset saat ini: 2.541.870.000 rupiah
Profit: 1.061.870.000 rupiah

Artinya, tingkat imbal hasil telah melampaui 70%. Namun yg benar-benar menjadi inti di sini bukan semata-mata kenaikan harga, melainkan arus kas yg dihasilkan, yaitu dari dividen.

Jika dihitung berdasarkan kepemilikan sekitar 549.000 lembar saham BMRI saat ini, maka dividen tahunan yg diperoleh hampir pasti tidak akan kurang dari 250 juta rupiah. Sementara itu, berapa sebenarnya total investasi kamu setiap tahun? Hanya sekitar 120 juta rupiah.

Artinya, dividen yg kamu terima sekarang sudah melampaui jumlah dana yg kamu investasikan setiap tahun. Dengan kata lain, pasar sudah mulai “membiayai” investasi kamu.

Karena pada saat ini, kamu tidak perlu lagi mengeluarkan dana tambahan, tetapi tetap bisa terus menambah kepemilikan saham melalui arus kas dividen yg dihasilkan.

Selain itu, jika kita hitung lebih lanjut, 250 juta dikurangi 120 juta menghasilkan sekitar 130 juta rupiah.

Artinya, bukan hanya seluruh biaya investasi kamu sudah tertutupi, tetapi kamu juga masih mendapatkan tambahan arus kas setiap tahunnya. Inilah bagian yg paling krusial, di mana efek compounding mulai bekerja secara otomatis.

Lalu apa yg akan terjadi selanjutnya? Jika kamu menghentikan penambahan modal dan hanya menggunakan dividen untuk terus membeli saham, maka hasilnya adalah jumlah kepemilikan akan terus bertambah, dividen yg diterima akan semakin besar, dan pada akhirnya tingkat profit akan masuk ke fase percepatan.

Yang paling keren itu bukan harga sahamnya naik brp, tp dividennya udah bisa muter sendiri terus berkembang

Nanti ke dpnnya pegangnya bakal makin santai dan ringan🥸

Inilah model pertumbuhan kekayaan yg sebenarnya. 10 tahun pertama kamu yg “membiayai” aset, sementara 10 tahun berikutnya aset tersebut mulai “membiayai” kamu.

Lalu apa kesimpulan utamanya? Bukan DCA yg tidak menghasilkan profit, melainkan pilihan asetlah yg menentukan seberapa besar hasil yg kamu dapatkan.

DCA membantu memastikan proses akumulasi berjalan konsisten, tetapi aset unggulan di sektor utama akan menjadi faktor yg memperbesar potensi profit tersebut.

Terutama ketika dividen yg kamu terima sudah lebih besar daripada jumlah yg kamu investasikan, maka pada dasarnya kamu sudah mulai memasuki tahap awal dari kebebasan finansial.

Jadi, coba pikirkan satu hal ini: jika kamu mulai dari sekarang, dengan investasi rutin 10 juta rupiah setiap bulan, lalu dalam 10 tahun ke depan kamu bisa memiliki pendapatan pasif sebesar 200 juta rupiah per tahun, apakah hidup kamu akan menjadi sepenuhnya berbeda? Atau kamu juga bisa merenungkan hal ini lebih dalam.

Kalo tiap bulan dividennya sdh lebih besar dari dana yg kita masukin, itu bner2 enak banget rasanya

Sampai di saat ini, sebenarnya kita sudah bisa merangkum apa standar inti dalam menggunakan strategi DCA untuk investasi.

Bukan sekadar membeli saham secara sembarangan, melainkan harus memenuhi dua syarat utama.

Pertama, perusahaan harus memiliki arus kas yg stabil, mampu menghasilkan profit secara konsisten, dan rutin membagikan dividen. Dengan begitu, kamu bisa terus memperoleh arus kas sebagai bentuk return.

Kedua, harga saham tersebut memiliki potensi untuk pulih atau naik, yg berarti berada di area yg relatif rendah saat ini dan masih memiliki ruang kenaikan di masa depan.

Hanya jika kedua syarat tersebut terpenuhi secara bersamaan, strategi DCA baru bisa benar-benar bekerja dengan dua mesin penggerak sekaligus, yaitu pendapatan dari dividen dan pertumbuhan nilai aset.

Dalam kondisi pasar saat ini, menurut sy ada satu saham yg sangat representatif dan cukup ideal untuk memenuhi model tersebut, yaitu UNVR. Lalu, mengapa UNVR? Di sini kita perlu membedahnya secara lebih terstruktur.

Pertama: kemampuan dividen
UNVR memiliki rekam jejak pembagian dividen yg stabil dalam jangka panjang. Saat ini, tingkat imbal hasil dividen mendekati 10%. Artinya, setiap investasi sebesar 10 juta rupiah berpotensi memberikan sekitar 1 juta rupiah arus kas per tahun.

Kedua: posisi harga
Harga UNVR saat ini telah kembali ke level yg mendekati posisi sekitar 20 tahun yg lalu. Ini menunjukkan bahwa pasar kemungkinan sudah merefleksikan sentimen pesimistis secara berlebihan.

UNVR dijadiin contoh sih masuk akal, setidaknya dari sisi cash flow mmg stabil banget

Kalau bnr2 pake standar ini buat nyaring, saham yg cocok buat DCA jangka pjang emang nggak banyak

Harus punya dividen yg stabil sama potensi pemulihan, dua hal ini wajib ada, gk bisa kurang salah satunya

Mengapa banyak orang tidak berani membeli? Karena mereka melihat pangsa pasar UNVR yg menurun dan persaingan yg semakin ketat. Namun mereka justru mengabaikan satu hal yg lebih penting, yaitu pasar itu sendiri sedang terus bertumbuh.

Seperti 20 tahun yg lalu ketika UNVR berada di pasar Tiongkok, pangsa pasarnya juga mengalami penurunan. Namun apa hasil akhirnya? Seiring dengan ekspansi pasar konsumsi di Tiongkok, skala penjualan dan laba perusahaan tetap mampu bertumbuh.

Maka kondisi Indonesia saat ini sebenarnya sedang berada dalam proses yg serupa. Penurunan pangsa pasar tidak serta-merta berarti kinerja perusahaan akan mengalami penurunan tajam, karena ukuran pasar secara keseluruhan justru terus berkembang.

Dengan demikian, UNVR saat ini pada dasarnya merepresentasikan kombinasi antara dividen tinggi, valuasi yg relatif rendah, serta berada di sektor konsumsi yg cenderung stabil. Karena itu, saham seperti ini menjadi sangat sesuai untuk diterapkan dalam strategi DCA.

Jika menggunakan strategi DCA pada UNVR, maka yg akan kamu dapatkan adalah:

Pertama, return dividen yg tinggi dan berkelanjutan, dengan potensi mendekati 10% per tahun.

Kedua, biaya rata-rata yg terus menurun, karena ketika harga turun kamu justru bisa membeli lebih banyak saham.

Ketiga, potensi pemulihan harga di masa depan. Ketika sentimen pasar kembali normal, maka profit yg dihasilkan akan mengalami penguatan secara signifikan.

Namun di sini sy harus menyampaikan secara objektif. Ketika sy mengatakan UNVR lebih unggul dibandingkan BMRI, bukan berarti BMRI tidak baik. BMRI tetap stabil, aman, dan memiliki dividen yg cukup baik.

Hanya saja, pada fase saat ini, UNVR memiliki potensi kenaikan yg lebih besar. BMRI cenderung stabil, sedangkan UNVR berada dalam kondisi undervalued dengan dividen tinggi, sehingga memiliki ruang pemulihan harga. Oleh karena itu, UNVR lebih cocok untuk strategi DCA guna memperbesar potensi profit.

UNVR hari ini kayaknya sdah nyentuh bawah, ke depannya harusnya bakalan rebound bntr

Kalian semua harus memahami bahwa DCA bukan sekadar membeli saham, melainkan membeli kombinasi antara arus kas dan potensi pemulihan di masa depan. Sampai di saat ini, sebenarnya kita sudah bisa merangkum keseluruhan logika dengan sangat jelas. 

Mengapa sebagian besar orang mengalami kerugian di pasar saham? Banyak yg mengira penyebabnya karena tidak bisa memilih saham, karena kurangnya informasi, atau karena faktor keberuntungan. Namun pada kenyataannya, alasan utamanya hanya satu.

Itu karena kamu tidak konsisten. Apa sebenarnya batas utama dalam investasi? Bukan soal memilih saham, melainkan disiplin dalam menjalankan strategi dan kesabaran terhadap waktu.

Metodenya sudah sy berikan, contohnya juga sudah terbukti. TLKM bisa menghasilkan profit, BMRI juga bisa menghasilkan profit. Lalu mengapa kamu tidak mendapatkannya? Karena kamu berhenti di tengah jalan, atau terlalu terpengaruh oleh emosi sehingga tidak menjalankan strategi secara konsisten.

Ngerti kok, intinya cuma butuh konsistensi sama waktu aja 👍

Sy akan jelaskan dengan contoh yg sangat nyata agar semua bisa lebih mudah memahami. Banyak orang, setelah memiliki anak, akan melakukan satu hal, yaitu membelikan asuransi untuk anaknya. Mengapa demikian?

Karena kamu percaya bahwa semakin lama waktu berjalan, semakin besar akumulasinya, dan pada akhirnya masa depan akan menjadi lebih terjamin.

Namun pernahkah kamu memikirkan satu hal. Jika logika yg sama diterapkan ke dalam investasi saham, apa yg akan terjadi?

Setiap bulan secara konsisten menyisihkan sejumlah dana dan menginvestasikannya ke saham perbankan, hasil yg kamu peroleh bukanlah sebuah kontrak dengan imbal hasil tetap, melainkan sebuah kumpulan aset yg terus bertumbuh seiring waktu.

Di sini sy harus menjelaskan satu hal secara objektif. Peran asuransi adalah sebagai perlindungan risiko, dengan karakter utama berupa stabilitas dan kepastian. Sementara itu, peran saham adalah untuk pertumbuhan aset, melawan inflasi, serta memperbesar nilai kekayaan.

Jadi keduanya bukan saling menggantikan, melainkan memiliki fungsi yg sepenuhnya berbeda. Namun, jika dilihat murni dari sudut pandang pertumbuhan kekayaan, Potensi return dari strategi DCA pada saham unggulan dalam jangka panjang jauh lebih tinggi dibandingkan sebagian besar produk asuransi berbasis investasi. Selain itu, pendekatan ini juga tidak menuntut kamu untuk mengeluarkan dana besar sekaligus di awal.

Namun jika kamu bersedia membayar premi asuransi jangka panjang untuk anakmu, mengapa kamu tidak bersedia menyisihkan sebagian pengeluaran bulanan untuk diinvestasikan demi pertumbuhan asetmu sendiri?

Jadi, yg benar-benar perlu kamu renungkan adalah: setiap uang yg kamu miliki saat ini, apakah hanya habis digunakan secara pasif, atau justru diarahkan untuk bertumbuh secara aktif.

Perumpamaan ini cukup realistis, bnyk orang rela beliin asuransi buat anaknya, tp nggak kepikiran buat punya aset utk diri sendiri

[22.30, 23/4/2026] +62 812-9751-4527: Kalau tiap bulan bisa konsisten sisihin dikit buat beli saham bank, memang bakal bagus banget hasilnya

Jika kalian merasa apa yg sy sampaikan sebelumnya itu benar, maka poin berikut ini mungkin akan terasa kurang nyaman bagi sebagian orang, tetapi ini sangat penting.

Mengapa banyak orang mengalami kerugian dalam jangka panjang? Bukan karena sekali salah membeli, melainkan karena tidak mau mengakui kesalahan. Faktanya, kondisi banyak investor saat ini adalah masih memegang dalam jumlah besar saham-saham berharga rendah.

Saham-saham tersebut sudah mengalami kerugian 30%, bahkan lebih dari 50%. Lalu mengapa kamu tidak menjualnya? Karena di dalam pikiranmu selalu ada satu anggapan: “nanti kalau harganya kembali naik, baru sy jual.”

Namun sy harus mengatakan dengan sangat tegas, pola pikir seperti ini sering kali merupakan sebuah jebakan.

Karena saham-saham tersebut berasal dari sektor yg sudah melemah, fundamentalnya juga telah memburuk, dan tidak lagi didukung oleh dana institusi. Akibatnya, tidak ada kekuatan yg mendorong harga untuk naik kembali.

Inilah realitas yg terjadi: banyak orang menahan saham selama 3 tahun, 5 tahun, bahkan hingga 10 tahun, namun bukan hanya tidak kembali ke harga pokok, justru harganya terus menurun.

Pada dasarnya ini berarti dana kamu sebenarnya sudah “terkunci”. Secara tampilan memang masih ada di dalam akun, tetapi secara nyata sudah kehilangan likuiditas dan kemampuan untuk bertumbuh.

Kerugian yg sesungguhnya bukan sekadar turun 50%, melainkan hilangnya peluang untuk menghasilkan profit di masa depan. Lalu apa langkah yg tepat? Banyak orang berpikir pilihannya hanya dua: menjual semuanya atau bertahan mati-matian. Padahal, keduanya bukan keputusan yg rasional.

Pendekatan yg lebih cerdas adalah menggunakan strategi DCA untuk secara bertahap membangun kembali portofolio kamu.

Langkah pertama: tidak perlu langsung menjual seluruh posisi sekaligus, tetapi lakukan secara bertahap dengan menjual sebagian setiap bulan.

Langkah kedua: dana yg diperoleh dari penjualan tersebut dialihkan ke saham yg memiliki potensi memberikan return positif, yaitu saham perbankan.

Langkah ketiga: jalankan proses ini secara konsisten setiap bulan, sehingga terbentuk mekanisme redistribusi dana yg lebih optimal.

ya, semua saham gorengan yg ada dipegang mending cepet dijual aja, dananya dirapihin lagi terus pindahin ke saham unggulan biar bsa balikin kerugian yg sblmnya🙏

Saham yg fundamentalnya jelek, arus kasnya jg gk bagus, mau dihold selama apapun jg ttp gk bakal ada hasilnya

Pendekatan ini pada dasarnya bukan sekadar menghentikan kerugian, melainkan membuat dana kamu kembali bekerja dan menghasilkan profit.

Jika dilihat dari sudut pandang lain, kondisi kamu saat ini adalah dana terjebak di aset yg tidak bertumbuh. Maka yg perlu dilakukan adalah secara bertahap memindahkan dana tersebut ke aset yg memiliki potensi kenaikan. Inilah yg menjadi inti dari logika investasi yg sebenarnya.

Jangan terikat pada masa lalu, fokuslah pada masa depan. Pasar tidak akan membuat suatu saham naik hanya karena kamu sedang mengalami kerugian. Namun kamu sendiri bisa memilih untuk menempatkan dana pada aset yg berpotensi memberikan keuntungan.

Jadi, yg benar-benar menentukan apakah kamu bisa bangkit bukanlah kondisi pasar, melainkan apakah kamu bersedia melakukan perubahan. Dalam investasi, bukan seberapa banyak yg kamu ketahui yg menentukan hasil, tetapi seberapa lama kamu mampu bertahan dan konsisten menjalankan strategi.

Karena waktu akan memperbesar setiap keputusan yg benar, dan juga akan memperbesar setiap kesalahan yg dilakukan. Pada akhirnya, yg benar-benar membedakan hasil setiap orang bukanlah sekadar pemahaman, melainkan kemampuan untuk mengeksekusi. Ok, sampai di sini pembahasan kita malam ini, kita lanjutkan kembali besok.

Saya sih bnr2 setuju banget sama yg ini 👍👍👍

Daripada nunggu balik modal, mending pelan2 dipindahin ke saham yg peluangnya lebih oke

Setuju bgt, dana kejebak semua di saham gorengan sampe nggak bisa gerak itu emang paling nyesek