Bacalah Selalu !!

Bismillahirrahmanirrahiim ... Alhamdulillah was sholaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain." (HR. Abu Dawud). Ya Allah, semoga tindakan yang kami ambil hari ini didasari ilmu, bukan emosi. Jadikan hasilnya yang Engkau ridhoi untuk masa depan kami. Aamiin.

Selasa, 14 April 2026

Materi Sharing 18 : Bagaimana Caranya Menggunakan DCA Dengan Benar ?

Selamat malam semuanya,

Setelah sesi sharing kemarin malam selesai, sy menerima sangat banyak pesan dan feedback dari teman-teman. Jumlahnya bahkan cukup banyak hingga dalam waktu singkat belum memungkinkan bagi sy untuk merespons satu per satu.

Namun di sisi lain, hal ini justru mencerminkan satu hal yg sangat penting, yaitu pasar saat ini sedang mulai memvalidasi logika dan kerangka analisis yg telah kita bahas sebelumnya. Baik dari sisi pemulihan pasar saham dalam periode terakhir, maupun arah investasi yg terus sy tekankan, semuanya kini mulai terlihat semakin jelas.

Pada akhirnya, yg paling objektif dalam pasar bukanlah opini, melainkan pergerakan harga itu sendiri. Dan saat ini, harga sudah mulai memberikan jawabannya.

Namun di antara berbagai feedback tersebut, konsep Dollar Cost Averaging yg sy bahas kemarin malam juga menjadi salah satu topik yg paling banyak mendapat perhatian.

Pertanyaannya adalah, bagaimana sebenarnya metode ini digunakan dengan benar? Dan mengapa terlihat sederhana, tetapi sangat sedikit investor yg benar-benar mampu menerapkannya secara optimal?

Sebenarnya, Dollar Cost Averaging bukanlah hal yg asing bagi sebagian besar investor saat ini. Terlebih di era digital seperti sekarang, berbagai metode investasi, strategi, maupun kerangka teori dapat dengan mudah kita akses dan pelajari.

Pak Sutanto, besok pasar saham msh bakal lanjut rebound nggak ya?

Hari ini BUMI naik 6%, gila keren banget 👍

Namun yg mungkin belum banyak disadari adalah, Dollar Cost Averaging sebenarnya bukanlah metode yg benar-benar dipahami dan diterapkan secara luas oleh mayoritas investor. Mereka yg mampu menggunakan metode ini secara sistematis dan disiplin jumlahnya justru sangat terbatas.

Meskipun banyak yg pernah mendengar konsep ini, permasalahan utamanya terletak pada hal yg cukup mendasar: sebagian besar hanya mengetahui namanya, tetapi tidak memahami bagaimana cara mengeksekusinya dengan benar.

Kondisi ini ibaratnya seseorang yg berdiri di depan sebuah peta yg sudah menunjukkan lokasi harta karun, namun tidak mengetahui langkah pertama yg harus diambil.

Oleh karena itu, banyak dari kalian akan merasakan hal yg sama: metodenya sudah benar, logikanya juga jelas, namun hasil akhirnya bisa sangat berbeda satu sama lain.

Dan penyebab dari perbedaan hasil tersebut pada dasarnya hanya satu, yaitu belum adanya sistem eksekusi yg utuh dan terstruktur dalam penerapannya.

Maka dalam sesi sharing malam ini, sy akan berfokus pada Dollar Cost Averaging, dan mengajak kalian untuk melakukan satu hal yg sangat penting.

Dari sekadar tahu hingga benar-benar bisa digunakan, dari memahami hingga menghasilkan profit, sy akan bantu kalian memahami secara mendalam bagaimana merancang ritme investasi berkala yg sesuai dengan kondisi kalian masing-masing.

Bagaimana memperbesar profit saat pasar turun, bukannya malah panik, bagaimana memanfaatkan fluktuasi pasar untuk mempercepat pertumbuhan pendapatan, serta bagaimana menyesuaikan metode ini agar tetap efektif untuk berbagai skala dana.

Baik kamu yg baru mulai dengan modal kecil, maupun yg sudah memiliki aset dan ingin mengembangkannya secara stabil, sy yakin setelah sharing malam ini, kalian akan menemukan satu jalur pertumbuhan aset yg benar-benar cocok untuk diri kalian masing-masing.

Dlm strategi beli bertahap, yg paling bahaya itu bukan turunnya harga, tapi kitanya yg panik duluan pas harga lagi turun

Kalo bisa dijelasin sampe jelas soal timing, cara nambah posisi, sama strategi buat beda-beda modal, itu bakal kepake bngt secara praktik

Bagian ini saya bakal dengerin dgn serius

Sebelum kita mulai membahas Dollar Cost Averaging secara lebih mendalam, sy perlu menyampaikan satu pernyataan yg sangat penting. Berdasarkan pengalaman investasi sy selama 20 tahun, inti dari Dollar Cost Averaging sama sekali bukan terletak pada sekadar melakukan penyetoran dana secara mekanis.

Banyak investor memiliki pemahaman yg keliru, mereka mengira bahwa selama membeli secara rutin setiap bulan dan mempertahankannya dalam jangka waktu yg cukup panjang, maka pasti dapat menghasilkan uang.

Namun yg perlu sy tekankan kepada kalian, itu semua hanyalah permukaan. Inti yg sebenarnya terletak pada seberapa dalam pemahaman kalian terhadap sektor atau aset yg diinvestasikan.

Ibaratnya menanam sebuah pohon buah, bukan hanya sekadar menanamnya lalu menunggu hasilnya. Kalian juga harus memahami apakah tanahnya sesuai, apakah kondisi iklim mendukung, kapan harus menyiram, dan kapan perlu memberikannya nutrisi. Jika hal-hal tersebut tidak dipahami, maka apa yg kalian tanam belum tentu akan berbuah.

Kembali ke pengalaman pribadi sy, sejak masa studi hingga memasuki dunia kerja, selama 20 tahun terakhir sy selalu berada di industri keuangan.

Dalam rentang waktu tersebut, sy telah menyaksikan berbagai siklus pertumbuhan besar di beragam sektor, mulai dari kebangkitan industri internet, percepatan perkembangan hardware komputer, ekspansi pesat kendaraan listrik, hingga lonjakan kapitalisasi di industri semikonduktor.

Bahkan, sy memiliki keyakinan yg cukup jelas bahwa dalam 10 tahun ke depan, era keemasan berikutnya akan berada pada sektor AI dan industri luar angkasa.

Inilah juga alasannya mengapa saat ini sy kembali ke kampung halaman dan mulai terlibat dalam investasi pada tahap awal di proyek-proyek AI.

Namun demikian, sy perlu menyampaikan satu hal secara sangat jujur kepada kalian. Sy tidak pernah benar-benar melakukan pendalaman yg mendalam terhadap sektor-sektor di luar bidang yg sy tekuni. Sy tidak memiliki latar belakang teknologi, juga tidak pernah bekerja langsung di industri kendaraan listrik maupun semikonduktor.

Jika sy diminta untuk menilai perusahaan mana yg akan mencatat pertumbuhan paling cepat dalam 3–5 tahun ke depan, maka kesimpulan yg sy berikan tentu saja tidak akan sepresisi para ahli yg memang berada langsung di dalam industri tersebut.

Skrg program AI makin rame aja, memang keliatan bngt kalau AI lagi pelan2 ngerubah kehidupan kita

Hal ini karena sy menyadari adanya keterbatasan dalam pemahaman mendalam terhadap fundamental logic di banyak sektor.

Sebagai contoh, dalam keterlibatan sy di proyek AI saat ini, peran sy berfokus pada analisis data keuangan. Sementara untuk implementasi teknologi secara nyata, hal tersebut sepenuhnya harus mengandalkan mitra teknis AI yg memang memiliki keahlian khusus di bidang tersebut.

Dari sini, kita kembali pada satu pertanyaan inti. Kemarin malam, banyak dari kalian yg bertanya: selain sektor perbankan, sektor apa lagi yg cocok untuk strategi Dollar Cost Averaging? Jawaban sy sebenarnya sangat jelas. Dalam pasar yg benar-benar sy pahami, seperti Indonesia, Singapura, bahkan Malaysia, pilihan sy tetap terfokus pada sektor perbankan.

Karena sy memiliki pemahaman yg cukup mendalam terhadap sektor ini. Sy dapat dengan jelas memahami bagaimana perubahan suku bunga memengaruhi profitabilitas, bagaimana struktur bisnis perbankan bekerja, di mana letak keunggulan kompetitif masing-masing bank, serta bagaimana kondisi makroekonomi ditransmisikan ke kinerja mereka.

Dengan kata lain, sy benar-benar memahami alasan mengapa sektor ini mampu menghasilkan uang. Dan justru karena pemahaman tersebut, strategi Dollar Cost Averaging yg sy terapkan pun secara konsisten hanya difokuskan pada saham-saham perbankan.

Oleh karena itu, di sini ada satu kesimpulan yg sangat krusial. Hakikat dari Dollar Cost Averaging bukan sekadar membeli secara bertahap, melainkan bagaimana kita secara konsisten memperbesar keunggulan di dalam sektor yg memiliki tingkat kepastian tinggi.

Jika kalian tidak benar-benar memahami sektor tersebut, maka apa yg terlihat seperti upaya menurunkan risiko, pada kenyataannya justru memperbesar ketidakpastian. Dan pada akhirnya, hasil yg muncul adalah potensi profit yg melemah, disertai dengan kesalahan pengambilan keputusan yg terus berulang.

Strategi beli bertahap itu bukan asal beli, tp harus berdasarkan bnr2 paham industrinya

Bnyk yg ngira beli bertahap itu pasti aman, padahal kalau salah pilih sektor malah bikin posisi makin kejebak

Strategi beli bertahap itu bukan asal beli tanpa mikir

Oleh karena itu, jika kalian ingin menggunakan strategi Dollar Cost Averaging dalam investasi, yg perlu dilakukan bukanlah mencari sektor yg paling populer, melainkan menemukan sektor yg paling kalian pahami. Jika kalian berasal dari industri perkebunan, maka pemahaman kalian terhadap kelapa sawit maupun karet tentu saja akan jauh lebih mendalam dibandingkan sy.

Jika kalian berada di sektor teknologi, maka kalian pasti memiliki pemahaman yg lebih jelas mengenai rantai industri, arah perkembangan teknologi, serta struktur persaingan dibandingkan investor pada umumnya. Begitu pula jika kalian bergerak di sektor manufaktur, energi, maupun properti, prinsip yg sama tetap berlaku.

Oleh karena itu, jangan menggunakan sektor yg tidak kalian pahami untuk melakukan investasi jangka panjang. Profit yg benar-benar bisa kalian peroleh, pada akhirnya selalu berasal dari dalam batas pemahaman kalian sendiri.

Ketika kalian mampu menjalankan dua hal ini dengan disiplin:

Pertama, memilih sektor yg paling kalian pahami dan memiliki tingkat keyakinan tertinggi.

Kedua, secara konsisten menerapkan Dollar Cost Averaging, maka investasi kalian tidak lagi bergantung pada faktor keberuntungan.

Sebaliknya, ia akan menjadi sebuah proses yg mampu memperbesar keunggulan yg memiliki dasar kepastian.

Ngerti, pake cara ini kita fokus pilih sektor yg paling kita pahami dan paling kita yakin

Mengapa sy memiliki tingkat keyakinan paling tinggi terhadap saham perbankan? Di sini kita tidak perlu membahas teori, mari kita langsung uji dengan skenario terburuk.

Bayangkan kalian masuk ke pasar pada timing yg paling tidak menguntungkan, yaitu Januari 2018, tepat di fase puncak sementara BMRI. Setelah itu, BMRI mengalami penurunan berkelanjutan sepanjang tahun 2018 hingga 2020, ditambah tekanan besar dari pandemi, di mana harga saham turun dari kisaran 4000 hingga menyentuh 2000.

Ini bisa dikatakan sebagai salah satu kondisi investasi paling ekstrem dan tidak ideal. Lalu pertanyaannya, jika dalam situasi seburuk ini kita mulai menerapkan strategi Dollar Cost Averaging pada BMRI sejak Januari 2018, seperti apa hasil akhirnya?

Mari kita lakukan simulasi nyata dengan menjadikan Januari 2018 sebagai titik awal.

Pertama, kita mulai investasi sejak Januari 2018.

Kedua, setiap bulan kita melakukan penyetoran tetap sebesar 1 juta rupiah.
Ketiga, strategi ini dijalankan secara konsisten selama 3 tahun berturut-turut.

Jika kita melihat pergerakan harga BMRI setiap bulan sejak tahun 2018, berdasarkan data yg ada, terlihat jelas bahwa harga saham mengalami tren penurunan dalam jangka waktu yg cukup panjang. Sy rasa ini bisa dikategorikan sebagai skenario terburuk, karena selama 3 tahun tersebut harga terus berada dalam tekanan dan cenderung menurun.

Kalo bahkan masuk di puncak 2018, sempat turun terus tapi akhirnya tetep bs dapetin hasil, baru itu metode yg bs dibilang kuat bngtp

Bnyk orang paling takut baru beli langsung nyangkut, padahal keunggulan strategi beli bertahap itu justru makin turun makin bsa nurunin rata2 harga

Maka sekarang kita mulai melakukan investasi berkala setiap bulan sebesar 1 juta rupiah.

Pada tahun 2018, melalui akumulasi selama 12 bulan, total investasi mencapai 12 juta rupiah. Di mana pada Maret 2018 pembelian tertinggi dilakukan di harga 4200, dan pada Oktober 2018 pembelian terendah di harga 3300.

Dengan rata-rata harga selama 12 bulan di kisaran 3660, pada akhir tahun total kepemilikan mencapai sekitar 3300 lembar saham.

Pada tahun 2019, kita melanjutkan strategi ini dengan investasi rutin selama 12 bulan, sehingga total dana yg kembali diinvestasikan mencapai 12 juta rupiah.

Dalam periode tersebut, pembelian tertinggi terjadi pada Juli 2019 di kisaran harga 4020, sementara pembelian terendah terjadi pada Oktober 2019 di kisaran 3450.

Rata-rata harga pembelian selama 12 bulan berada di sekitar 3700, dan secara akumulatif, jumlah saham yg dimiliki pada akhir tahun tetap berada di kisaran sekitar 3300 lembar.

Pada tahun 2020, akibat dampak pandemi, harga saham mengalami penurunan signifikan dengan rata-rata turun hingga sekitar 2850. Dalam kondisi tersebut, kita tetap melanjutkan investasi sebesar 12 juta rupiah.

Dengan perhitungan berdasarkan harga rata-rata bulanan, pada akhir tahun jumlah saham yg bertambah mencapai sekitar 4200 lembar. Sehingga secara akumulatif selama 3 tahun, total kepemilikan saham menjadi 3300 + 3300 + 4200 = 10800 lembar saham.

Dalam 3 tahun ini, total dana yg kita investasikan mencapai 36 juta rupiah, dengan akumulasi kepemilikan sebesar 10.800 lembar saham BMRI. Jika dihitung berdasarkan harga BMRI saat ini di level 4710, maka total nilai pasar portofolio tersebut berada di kisaran 50 juta rupiah.

Pada saat ini, bnyk investor akan mulai mempertanyakan rasionalitas investasi ini. Secara kasat mata, dalam beberapa tahun hanya menghasilkan pertumbuhan sekitar 40%, sehingga muncul kesimpulan bahwa investasi ini kurang efisien dan tingkat pengembaliannya terlalu rendah.

Terlebih lagi, jika dilihat dari sudut pandang jangka waktu, investasi ini telah berjalan lebih dari 8 tahun. Maka wajar jika muncul pertanyaan kritis: apakah pendapatan seperti ini benar-benar mampu memberikan profit yg signifikan? Bahkan, sebagian orang akan beranggapan bahwa menempatkan dana di perbankan saja mungkin bisa memberikan hasil yg lebih tinggi.

Saham kayak BMRI ini dr awal emang bukan buat ngejar profit cepet, tp lebih ke manfaatin posisi bawah buat terus nurunin rata-rata harga

Bandingin saham bank sama deposito itu nggak bisa cuma lihat hasil sesaat, tp juga hrs lihat potensi compounding kdpnnya😇

Cara ini emg lebih cocok buat jangka pjang

Pada tahap ini, sebenarnya bnyk investor mengabaikan satu faktor yg sangat krusial, yaitu dividen stabil yg setiap tahun diberikan oleh BMRI.

Dalam konteks saham perbankan, yg paling penting bukanlah harga, melainkan arus kas. Kita perlu melihat kembali harga historis setelah disesuaikan dengan dividen. Di sini, sy juga sudah merangkum perhitungan harga setelah penyesuaian tersebut.

Sebagai contoh, jika kita membeli pada Januari 2018 di harga 3990, maka melalui akumulasi dividen selama beberapa tahun, biaya riil kita sebenarnya sudah turun menjadi sekitar 2660, yaitu 3990 dikurangi total dividen sebesar 1330. Artinya, melalui pembagian dividen, kita sebenarnya sudah mengembalikan lebih dari 30% modal awal. Dan yg lebih penting, saham yg kita miliki tetap utuh.

Yg lebih penting lagi, pendapatan dari dividen akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah kepemilikan saham. Bahkan jika kita hanya menghitung sejak tahun 2021, dari total 10.800 lembar saham BMRI yg dimiliki, akumulasi dividen yg diterima hingga saat ini mencapai sekitar 16 juta rupiah.

Dengan demikian, jika kita gabungkan dengan nilai pasar saat ini sebesar 50 juta rupiah, maka total return investasi yg terdiri dari kenaikan nilai saham dan pendapatan dividen telah mencapai sekitar 66 juta rupiah.

Dan yg paling krusial adalah, setiap tahunnya aset ini terus menghasilkan arus kas lebih dari 5 juta rupiah secara konsisten. Jika dibandingkan dengan investasi awal sebesar 1 juta rupiah per bulan, maka tingkat pendapatan yg dihasilkan sebenarnya sudah sangat jelas terlihat.

Lebih dari itu, arus kas ini bukan sesuatu yg statis, melainkan akan terus bertumbuh seiring waktu. Jadi, cara pandang kamu terhadap hal ini harus diubah. Ini bukan sekadar investasi saham biasa, melainkan sebuah sistem aset yg secara berkelanjutan memberikan aliran pendapatan ke kamu.

Bnyk orang cuma fokus ke harga saham, padahal yg paling berharga dari saham bank itu justru kemampuan ngasih arus kas terus2an

Jadi investasi long term di saham bank itu bukan cuma nunggu harga naik, tp jg nunggu arus kas dr dividen makin lama makin bsar

Mungkin di mata sebagian teman-teman, tingkat pendapatan seperti ini masih terasa kurang mencolok. Namun, yg perlu benar-benar diperhatikan adalah asumsi yg kita gunakan malam ini memiliki latar belakang yg sangat krusial dan bersifat khusus.

Yg sy tunjukkan kepada kalian adalah sebuah skenario paling ekstrem, bahkan bisa dikatakan sebagai kondisi pasar yg paling tidak menguntungkan, terlebih lagi ini terjadi dalam fase ketika harga BMRI terus mengalami penurunan.

Namun justru di dalam kondisi se-ekstrem ini, selama kamu menerapkan strategi Dollar Cost Averaging dan memilih BMRI sebagai aset investasi, hasilnya tetap menunjukkan sesuatu yg sangat jelas: kamu bukan hanya berhasil mempertahankan pendapatan yg stabil dan positif, tetapi yg lebih penting, jumlah kepemilikan saham kamu terus bertambah secara konsisten.

Dan saham-saham yg kamu miliki ini, setiap tahunnya terus menghasilkan arus kas untuk kamu. Bayangkan saat pasar sedang turun, kamu tetap disiplin mengalokasikan 1 juta rupiah setiap bulan, sehingga dalam satu tahun total investasi mencapai 12 juta rupiah.

Bahkan ketika BMRI mengalami penurunan selama 3 tahun berturut-turut, selama kamu mampu bertahan dan tetap konsisten menjalankan strategi tersebut, maka hasil akhirnya akan tetap sangat signifikan. Saat ini, hanya dari dividen saja, kamu sudah bisa memperoleh lebih dari 5 juta rupiah per tahun, yg setara dengan tingkat return hampir 40% dalam bentuk arus kas.

Di kondisi paling buruk aja msh bisa pelan2 hasilin pendapatan, itu udah nunjukin kalau metodenya mmg kuat bngt

Saham kayak BMRI memang cocok banget buat dipegang jngka pjg💪

Yg lebih krusial lagi, ini bukanlah return yg terjadi satu kali saja, melainkan sesuatu yg terus berulang setiap tahun dan bahkan mengalami pertumbuhan secara bertahap. Di sinilah letak esensi sebenarnya dari investasi ini.

Dividen dapat dianalogikan sebagai sebuah aliran arus kas, pada awalnya mungkin terlihat kecil, namun seiring waktu, aliran tersebut akan semakin membesar. Pada akhirnya, ia akan berkembang menjadi sumber pendapatan yg stabil dan benar-benar menjadi milik kamu.

Jadi kamu harus memahami, apa sebenarnya esensi dari investasi ini. Pergerakan harga saham hanyalah permukaan, sedangkan inti utamanya terletak pada arus kas yg dihasilkan.

Namun sy tetap perlu menegaskan, baik di Indonesia maupun di Singapura, hanya saham perbankan yg benar-benar mampu memenuhi karakteristik seperti ini. Alasannya sederhana, karena sektor perbankan memiliki tiga keunggulan yg sangat fundamental.

Pertama, profitabilitas yg stabil.
Kedua, pembagian dividen yg konsisten.
Ketiga, memiliki keterkaitan langsung dengan ekspansi likuiditas atau pertumbuhan jumlah uang beredar.

Artinya, semakin panjang horizon waktu investasi, maka keunggulan tersebut justru akan semakin terlihat jelas.

Kekuatan utama saham bank itu, makin lama dipegang, makin kerasa hasilnya di belakang

Kalau jgka waktunya diperpanjang, dua keunggulan ini bakal makin keliatan: profit yg stabil sama dividen yg terus jalan🤗

Dan keunggulan paling inti dari strategi ini terletak pada cara pandangnya terhadap penurunan harga. Bagi kebanyakan orang, ketika melihat harga turun, yg langsung terpikir adalah kerugian. Namun dalam sistem ini, penurunan justru memiliki makna yg sepenuhnya berbeda.

Harga yg lebih rendah berarti biaya akumulasi menjadi lebih efisien, imbal hasil dividen menjadi lebih tinggi, dan proses penambahan jumlah saham berlangsung lebih cepat. Dengan demikian, penurunan harga bukanlah risiko, melainkan sebuah akselerator yg mempercepat pertumbuhan aset.

Karena dalam sistem ini, bahkan jika kamu membeli di level harga tertinggi, bahkan jika harus melewati penurunan selama 3 tahun berturut-turut, dan bahkan ketika keseluruhan pasar belum sepenuhnya pulih, selama kamu memilih aset yg tepat, menerapkan strategi Dollar Cost Averaging, dan menjalankannya secara konsisten, maka hasil akhirnya tetap mengarah pada profit yg stabil serta pertumbuhan arus kas yg berkelanjutan.

Tentu saja, setelah sesi sharing kemarin malam selesai, cukup banyak teman-teman yg meninggalkan pesan ke sy. Mereka bilang bahwa mereka juga sudah melakukan pembelian saham secara berkala, namun hasilnya justru semakin rugi, bahkan semakin banyak membeli, semakin muncul rasa panik, dan pada akhirnya menyerah di level terendah.

Lalu pertanyaannya, mengapa dengan metode yg sama, yaitu Dollar Cost Averaging, justru 90% orang malah semakin cemas? Sebenarnya, di mana letak masalahnya?

Menurut sy, bukan metodenya yg salah, melainkan cara eksekusinya yg keliru. Kesalahan pertama yg paling sering dilakukan oleh mayoritas investor adalah mengubah Dollar Cost Averaging menjadi investasi berbasis sentimen.

Saat harga naik, mereka cenderung merasa kondisi pasar sedang baik, lalu terus melakukan pembelian tanpa pertimbangan yg matang.

Namun ketika pasar turun, mereka mulai terus mempertanyakan diri sendiri, apakah ada yg salah, apakah sebaiknya berhenti dulu.

Pada akhirnya, pola seperti ini akan membawa pada hasil yg bisa dipastikan: di saat seharusnya menambah posisi justru tidak berani membeli, dan di saat seharusnya bertahan, malah memilih untuk keluar dari pasar.

Pas naik berani beli, pas turun malah mulai ragu, kalau kyk gini ujung2nya pasti makin invest makin gk nyaman

Kesalahan fatal kedua adalah memilih aset yg keliru. Banyak investor menggunakan strategi Dollar Cost Averaging untuk membeli saham berkapitalisasi kecil, saham berbasis tema, konsep yg sedang populer, atau bahkan perusahaan yg belum memiliki profit.

Akibatnya, semakin diinvestasikan justru semakin turun, dan kepercayaan diri pun ikut melemah. Pada akhirnya, mereka menarik kesimpulan yg salah bahwa Dollar Cost Averaging itu tidak efektif. Padahal realitanya cukup tegas: bukan metodenya yg bermasalah, tetapi kamu telah memilih medan investasi yg salah.

Selain dua hal tadi, masih ada satu masalah yg paling tersembunyi, yaitu mayoritas investor tidak memiliki sistem feedback.

Banyak yg menjalankan Dollar Cost Averaging dengan pola seperti ini: melakukan pembelian secara berkala, lalu tidak melakukan apa pun setelahnya. Padahal, pendekatan seperti ini hanya sebatas eksekusi mekanis saja.

Namun sistem yg benar-benar efektif bukanlah seperti itu. Dalam praktik yg tepat, saat pasar turun justru kita perlu mempercepat akumulasi, sedangkan ketika harga naik, kita mulai memperlambat pembelian dan secara bertahap melakukan realisasi profit. Ini adalah proses yg dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.

Artinya, ini adalah sebuah sistem yg bersifat dinamis, bukan sekadar tindakan mekanis yg kaku. Perlu dipahami, Dollar Cost Averaging bukanlah strategi untuk melawan pasar, melainkan untuk memanfaatkan volatilitas pasar itu sendiri, sehingga pendapatan bisa tetap stabil sekaligus terus bertumbuh.

Kali ini Pak Sutanto jelas banget ngejelasinnya, metodenya nggak salah, yg salah itu pilihan aset sama cara eksekusinya

Strategi beli bertahap yg bnr2 efektif itu memang bukan beli secara kaku, tp ngikutin pergerakan pasar buat ngegedein profit💪

Dollar Cost Averaging itu sendiri tidak secara otomatis menghasilkan uang. Yg benar-benar menentukan hasil adalah cara eksekusinya. 
 
Hal ini karena sistem ini pada dasarnya bersifat berlawanan dengan naluri manusia. Ketika pasar turun, mayoritas orang secara refleks ingin menjual saham. Namun dalam sistem ini, justru seharusnya kita menambah posisi dan melakukan pembelian. 
 
Seperti yg sudah kita bahas dalam skenario sebelumnya, saat harga BMRI terus mengalami penurunan, di situlah proses akumulasi saham seharusnya ditingkatkan.

Meskipun setiap bulan kita mengalokasikan pembelian sebesar 1 juta rupiah, namun seiring dengan penurunan harga saham, jumlah lembar saham yg bisa dibeli sebenarnya akan terus meningkat secara bertahap. 
 
Hanya saja, dalam pemaparan malam ini sy tidak melakukan perhitungan secara detail untuk hal tersebut, melainkan menggunakan asumsi dengan rasio paling konservatif, karena seluruh skenario ini dibangun berdasarkan kondisi terburuk. 
 
Oleh karena itu, jika dijalankan dalam kondisi pasar yg nyata, di mana jumlah saham yg dapat diakumulasi semakin banyak, maka potensi pendapatan di tahap selanjutnya hampir pasti akan jauh melampaui hasil perhitungan yg sy sampaikan malam ini.

Makin turun makin beli itu jujur aja ini emg susah banget dilakuin

Makasih Pak Sutanto , skrg saya udah paham sama logikanya💪

Oleh karena itu, inti paling mendasar dari sistem ini adalah melatih kita untuk melawan naluri dasar manusia. Namun fakta telah menunjukkan bahwa strategi investasi ini, bahkan dalam kondisi pasar yg paling tidak menguntungkan sekalipun, tetap mampu menghasilkan uang. 
 
Jadi dalam praktik investasi saham yg sesungguhnya, bukan soal siapa yg lebih pintar, melainkan siapa yg mampu menjalankan seperangkat aturan yg benar secara konsisten dalam jangka panjang.

Karena dalam investasi saham, 90% orang mengalami kerugian disebabkan oleh sentimen, keputusan acak, dan rasa takut terhadap ketidakpastian. 
 
Sedangkan 10% orang yg benar-benar bisa menghasilkan uang dalam jangka panjang, pasti lebih unggul dalam tiga hal ini: aturan, sistem, dan konsistensi dalam menjalankannya.

Jadi sy harap kalian benar-benar memahami satu hal penting, pasar tidak pernah memberikan bonus kepada orang yg terlihat paling pintar, pasar hanya akan memberikannya kepada mereka yg dalam jangka panjang terus melakukan hal yg benar. 
 
Inilah alasannya kenapa ada orang yg dalam satu dua kali analisis terlihat sangat akurat, tapi pada akhirnya tetap tidak bisa menghasilkan profit, sementara ada juga yg terlihat biasa saja, tapi justru mampu mendapatkan profit secara stabil dan berkelanjutan. 
 
Karena pada akhirnya, yg menentukan hasil itu bukan seberapa tepat penilaian kamu, melainkan apakah kamu punya sebuah sistem yg bisa dijalankan secara konsisten dalam jangka panjang.

Bnyk orang kalah itu bukan krna nggk ngerti, tp krna ke ganggu sama emosi😂

Org yg bener2 bs cuan dlm jangka pjang itu keliatannya blm tentu paling jago, tp soal eksekusi pasti yg paling stabil

Yg paling bernilai itu justru kalo bsa terus konsisten ngelakuin hal yg benar dlm jangka pnjg

Tentu saja, apa yg sy bagikan hari ini didasarkan pada bidang yg paling sy pahami, sekaligus yg sudah sy tekuni selama lebih dari 20 tahun. Namun ini bukan berarti hanya saham perbankan, atau hanya arah yg sy sampaikan saja yg benar.  
 
Jika kamu memiliki pemahaman yg sangat mendalam terhadap suatu industri atau perusahaan tertentu, serta punya pandangan yg jelas terhadap perkembangan jangka panjangnya, sy sangat terbuka untuk berdiskusi dan bertukar pandangan kapan pun.

Karena seiring perkembangan Akademi Investasi Cerdas kita, semakin banyak teman-teman dari berbagai latar belakang industri yg mulai bergabung. 
 
Dan sy selalu percaya, batas pemahaman seseorang akan menentukan batas dari potensi kekayaannya. Dengan sering berdiskusi bersama orang-orang yg unggul, bukan hanya membuka wawasan baru, tapi juga bisa menghadirkan peluang baru, bahkan arah baru dalam investasi.

Sy harap apa yg kalian pelajari hari ini bukan sekadar metode, tapi sebuah cara berpikir dalam memahami pasar. 
 
Jika kamu benar-benar bisa memahami dan menjalankannya, tidak mencoba menebak pasar, melainkan berpegang pada aturan serta membuat perencanaan jangka panjang, maka dalam kondisi pasar seperti apa pun, kamu akan selalu berada di posisi yg lebih unggul. 
 
Sampai di sini dulu sharing hari ini, terima kasih atas waktu dan dukungan kalian, kita lanjutkan lagi besok.

Yang penting itu bukan cuma ngajarin caranya, tapi ngajarin kita gimana mikir sendiri 👍👍👍

Di pasar yg paling bahaya itu ngerasa udah ngerti semuanya, justru yg bs jalan jauh malah yg terus bljar

Perencanaan jangka panjang itu yg paling penting 💪

Di Akademi Investasi Cerdas skrg orangnya makin bnyk, makin sering sharing jg, jadi peluang sama cara mikirnya jg makin kebuka luas