STATISTIK
VALUATION RATIOS- Price to Earning Ratio (PER)
Yaitu rasio yang digunakan untuk menilai apakah harga saham suatu perusahaan tergolong mahal atau murah dibanding laba yang dihasilkan perusahaan tersebut.
Rumusnya: PER = Harga Saham : Laba per Saham (EPS)
Contoh sederhana: - Harga saham = Rp 2.000
- EPS (laba per saham) = Rp 200
Maka: PER = 2000 : 200 =10
Artinya: Investor bersedia membayar 10 kali dari laba tahunan perusahaan untuk membeli saham tersebut.
Interpretasi umum:
> PER rendah
→ saham bisa dianggap murah, tetapi bisa juga karena bisnis sedang bermasalah.
> PER tinggi
→ saham dianggap mahal, biasanya karena pasar berharap pertumbuhan laba tinggi di masa depan.
Patokan kasar: - PER < 10x → sering dianggap murah/value
- PER 10–20x → normal
- PER > 20x → relatif mahal/growth stock
Namun PER harus dibandingkan dengan:
- perusahaan sejenis
- sektor industri yang sama
- pertumbuhan laba perusahaan
Contoh: Bank biasanya punya PER berbeda dengan perusahaan teknologi atau consumer goods.
Istilah yang sering muncul:
> TTM PER = PER berdasarkan laba 12 bulan terakhir
> Forward PER = PER berdasarkan prediksi laba masa depan
- Price to Sales Ratio (PSR)
Yaitu rasio yang membandingkan harga saham perusahaan dengan total penjualannya (sales/revenue).
Rumus dasarnya: PSR = Kapitalisasi Pasar : Total Penjualan
Atau per saham: PSR = Harga Saham: Penjualan per Saham
Contoh: - Harga saham = Rp 1.500
- Penjualan per saham = Rp 500
Maka: PSR = 1500 : 500 = 3
Artinya: Investor membayar 3 kali nilai penjualan perusahaan.
Perbedaan dengan PER: - PER memakai laba (profit)
- PSR memakai penjualan (revenue)
Kenapa PSR penting?
Kadang perusahaan: penjualannya besar, tapi laba masih kecil atau rugi
Contohnya perusahaan: - Teknologi
- Startup
- Ekspansi besar
- E-commerce
Dalam kondisi seperti itu, PER sering tidak bisa dipakai karena laba negatif. Maka investor melihat PSR.
Interpretasi umum: - PSR rendah → relatif murah
- PSR tinggi → pasar berharap pertumbuhan besar
Patokan kasar (berbeda tiap sektor): - PSR < 1 → sering dianggap murah
- PSR 1–3 → normal
- PSR > 5 → relatif mahal/growth tinggi
Tetapi, PSR tidak memperhitungkan: - Utang perusahaan
- Margin keuntungan
- Efisiensi bisnis
Jadi perusahaan bisa saja: PSR murah, tetapi tetap rugi besar
Karena itu PSR biasanya dipakai bersama: - PER
- PBV
- DER
- Net Profit Margin
- Operating Margin
Yaitu rasio yang membandingkan harga saham dengan arus kas (cash flow) yang dihasilkan perusahaan.
Rumus umum: P/CF = Harga Saham : Cash Flow per SahamAtau: P/CF = Kapitalisasi Pasar : Arus Kas Operasi
Yang biasanya dipakai adalah: Operating Cash Flow (arus kas operasi)
Karena menunjukkan: uang tunai nyata yang masuk dari kegiatan bisnis perusahaan.
Contoh: - Harga saham = Rp 2.400
- Cash flow per saham = Rp 300
Maka: P/CF = 2400 : 300 = 8
Artinya: Investor membayar 8 kali arus kas perusahaan.
Kenapa P/CF penting?
Kadang laba perusahaan bisa terlihat besar karena: - Akuntansi
- Depresiasi
- Pencatatan non-tunai
Perbedaan utama: - PER → berdasarkan laba bersih
- PSR → berdasarkan penjualan
- P/CF → berdasarkan arus kas
Interpretasi umum: - P/CF rendah → saham relatif murah
- P/CF tinggi → saham relatif mahal atau growth tinggi
Patokan kasar: - P/CF < 10 → sering dianggap menarik
- P/CF 10–20 → normal
- P/CF > 20 → relatif mahal
Tetapi tetap harus dibandingkan dengan: - sektor industri
- perusahaan sejenis
- pertumbuhan bisnis
P/CF sangat berguna untuk: - perusahaan dengan depresiasi besar
- industri manufaktur
- telekomunikasi
- energi
- perusahaan yang laba bersihnya fluktuatif
Kelemahan P/CF: - tidak melihat utang
- tidak melihat profit margin
- cash flow bisa naik sementara karena faktor tertentu
Karena itu biasanya dipakai bersama: - PER
- PBV
- DER
- Free Cash Flow
- Price to book ratio
- Enterprise Value to EBITDA Ratio
- Return on Assets (ROA) %
- Return on Equity (ROE) %
- Return on Invested Capital %
- Gross margin %
- Operating margin %
- Net margin %
- Asset turnover
- Debt to Asset Ratio
- Debt to Equity Ratio (DER) [x]
- Revenue Per Share
- Book Value Per Share (BVPS) [x]
- Total debt per share
- Net current asset value per share
Rumus NCAV: NCAV=Aset Lancar − Total Kewajiban
Karena menunjukkan: uang tunai nyata yang masuk dari kegiatan bisnis perusahaan.
Contoh: - Harga saham = Rp 2.400
- Cash flow per saham = Rp 300
Maka: P/CF = 2400 : 300 = 8
Artinya: Investor membayar 8 kali arus kas perusahaan.
Kenapa P/CF penting?
Kadang laba perusahaan bisa terlihat besar karena: - Akuntansi
- Depresiasi
- Pencatatan non-tunai
Tetapi cash flow lebih sulit dimanipulasi karena menunjukkan uang kas yang benar-benar masuk.
Jadi banyak investor menganggap: cash flow lebih “nyata” daripada laba bersih. Perbedaan utama: - PER → berdasarkan laba bersih
- PSR → berdasarkan penjualan
- P/CF → berdasarkan arus kas
Interpretasi umum: - P/CF rendah → saham relatif murah
- P/CF tinggi → saham relatif mahal atau growth tinggi
Patokan kasar: - P/CF < 10 → sering dianggap menarik
- P/CF 10–20 → normal
- P/CF > 20 → relatif mahal
Tetapi tetap harus dibandingkan dengan: - sektor industri
- perusahaan sejenis
- pertumbuhan bisnis
P/CF sangat berguna untuk: - perusahaan dengan depresiasi besar
- industri manufaktur
- telekomunikasi
- energi
- perusahaan yang laba bersihnya fluktuatif
Kelemahan P/CF: - tidak melihat utang
- tidak melihat profit margin
- cash flow bisa naik sementara karena faktor tertentu
Karena itu biasanya dipakai bersama: - PER
- PBV
- DER
- Free Cash Flow
- Operating Margin
- Price to book ratio
Yaitu rasio yang membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan (book value). Nilai buku adalah: total aset perusahaan dikurangi total utang.
Rumus PBV: PBV = Harga Saham : Book Value per Saham (BVPS)
Sedangkan BVPS dihitung dengan: BVPS = Total Ekuitas : Jumlah Saham Beredar
Contoh: - Harga saham = Rp 1.200
- BVPS = Rp 800
Maka: PBV = 1.200 : 800 =1.5
Artinya: Investor membayar 1,5 kali dari nilai buku perusahaan.
Cara memahami PBV:
PBV = 1 → Harga saham sama dengan nilai buku perusahaan.
PBV < 1 → Saham diperdagangkan di bawah nilai bukunya.
Bisa dianggap murah, tetapi bisa juga karena bisnis sedang bermasalah.
PBV > 1 → Pasar menghargai perusahaan lebih tinggi dari nilai aset bersihnya.
PBV sangat sering dipakai untuk: - bank
- perusahaan keuangan
- perusahaan dengan aset besar
Karena sektor tersebut memiliki aset yang jelas dan mudah dinilai.
Patokan kasar: - PBV < 1 → sering dianggap murah
- PBV 1–3 → normal
- PBV sangat tinggi → pasar berharap pertumbuhan besar
Tetapi PBV tidak bisa dipakai sendirian.
Contoh: PBV murah tapi perusahaan rugi terus. aset perusahaan ternyata kualitasnya buruk
Karena itu PBV biasanya digabung dengan: - PER
- ROE (Return on Equity)
- DER
- Cash Flow
Hubungan penting: PBV bagus jika disertai ROE tinggi.
Contoh: - PBV rendah + ROE tinggi → sering menarik
- PBV rendah + ROE rendah → bisa jadi “value trap”
- Enterprise Value (EV)
Yaitu nilai total sebuah perusahaan jika perusahaan itu dibeli seluruhnya.
EV dianggap lebih lengkap daripada hanya melihat kapitalisasi pasar (market cap), karena EV juga memperhitungkan utang dan kas perusahaan.
Rumus dasar: EV = Market Cap + Total Utang − Kas dan Setara Kas
Keterangan: - Market Cap = nilai seluruh saham perusahaan
- Total Utang = semua utang perusahaan
- Kas = uang tunai yang dimiliki perusahaan
Kenapa kas dikurangi?
Karena jika membeli perusahaan, Anda juga mendapatkan kas perusahaan tersebut, sehingga biaya bersih pembelian menjadi lebih kecil.
Contoh sederhana: - Market Cap = Rp 10 triliun
- Utang = Rp 4 triliun
- Kas = Rp 2 triliun
Maka: EV = (10 + 4 − 2) = 12
Artinya: Nilai “nyata” perusahaan untuk diakuisisi adalah Rp 12 triliun.
Perbedaan EV dan Market Cap: - Market Cap → hanya nilai saham
- EV → nilai total bisnis termasuk beban utang
Karena itu EV sering dianggap lebih akurat untuk menilai perusahaan.
EV biasanya dipakai bersama rasio: - EV/EBITDA
- EV/Sales
- EV/EBIT
Contoh: EV/EBITDA = Enterprise Value : EBITDA
Rasio ini populer karena:
> membandingkan nilai perusahaan dengan kemampuan menghasilkan laba operasional
> lebih netral terhadap perbedaan struktur utang dan pajak
Interpretasi umum: - EV kecil dibanding laba → relatif murah
- EV tinggi dibanding laba → relatif mahal
EV sangat berguna untuk: - membandingkan perusahaan dengan utang berbeda
- analisis akuisisi
- analisis perusahaan besar dan padat modal
Kelemahan EV: - tetap perlu melihat kualitas laba.
- tidak otomatis menunjukkan perusahaan bagus.
- perusahaan bisa EV murah tetapi bisnisnya menurun.
Karena itu biasanya dianalisis bersama: - PER
- PBV
- DER
- Cash Flow
- ROE
EV/EBITDA yaitu rasio yang membandingkan nilai total perusahaan dengan laba operasionalnya.
Rumus: EV/EBITDA = Enterprise Value : EBITDA
Keterangan: - EV (Enterprise Value) = nilai total perusahaan.
- EBITDA = laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi.
EBITDA = Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization.
Tujuan EV/EBITDA: Untuk melihat berapa kali laba operasional perusahaan dihargai oleh pasar.
Contoh: - EV = Rp 20 triliun
- EBITDA = Rp 4 triliun
Maka: EV/EBITDA = 20 : 4 = 5
Artinya: Nilai perusahaan setara 5 kali laba operasional tahunannya.
Interpretasi umum: - EV/EBITDA rendah → saham relatif murah.
- EV/EBITDA tinggi → saham relatif mahal atau ekspektasi growth tinggi.
Patokan kasar: < 5 → sering dianggap murah
5 - 10 → normal
10 → relatif mahal
Tetapi patokan berbeda tiap industri.
Kenapa rasio ini populer?
Karena lebih “adil” dibanding PER untuk membandingkan perusahaan yang:
- utangnya berbeda.
- pajaknya berbeda.
- depresiasinya besar.
Contoh:
Perusahaan telekomunikasi atau manufaktur biasanya punya depresiasi besar, sehingga laba bersih terlihat kecil.
EV/EBITDA membantu melihat performa operasionalnya lebih jelas.
Kelebihan EV/EBITDA: - bagus untuk membandingkan perusahaan beda struktur utang.
- sering dipakai investor institusi.
- populer dalam valuasi dan akuisisi perusahaan.
Kekurangannya: - EBITDA bukan uang kas murni.
- tidak memperhitungkan belanja modal (capex).
- perusahaan bisa EBITDA bagus tapi cash flow jelek.
Karena itu biasanya dipakai bersama: - PER
- PBV
- Free Cash Flow
- ROE
- DER
EV/EBITDA sering dipakai untuk: - saham value investing.
- perusahaan besar.
- sektor energi.
- telekomunikasi.
- manufaktur.
- pertambangan.
PROFITABILITAS RATIOS
- Return on Assets (ROA) %
Return on Assets (ROA) adalah rasio yang menunjukkan seberapa efektif perusahaan menghasilkan laba dari seluruh aset yang dimilikinya.
Rumus: ROA = (Laba Bersih : Total Aset) × 100%
Artinya: ROA mengukur kemampuan perusahaan memakai asetnya untuk menghasilkan keuntungan.
Contoh: - Laba bersih = Rp10 miliar.
- Total aset = Rp100 miliar.
Maka: ROA = (10 : 100) ×100% = 10%
Artinya: Setiap Rp 100 aset menghasilkan laba Rp 10.
Interpretasi umum: - ROA tinggi → perusahaan efisien menggunakan aset.
- ROA rendah → aset besar tetapi keuntungan kecil.
Patokan kasar: < 3% → rendah.
3 - 10% → cukup baik.
10% → sangat baik.
Tetapi standar berbeda tiap industri.
Contoh: - Bank biasanya ROA kecil (1–3%) sudah bagus.
- Teknologi atau consumer goods bisa lebih tinggi.
- Industri berat sering ROA lebih rendah karena asetnya sangat besar.
ROA penting karena, Perusahaan bisa punya aset besar: - gedung.
- mesin.
- kendaraan. - kas.
- persediaan.
Tetapi belum tentu menghasilkan laba besar.
ROA membantu melihat efisiensi bisnis.
Perbedaan ROA dan ROE: - ROA → dibanding total aset,
- ROE → dibanding modal/equity pemegang saham,
Biasanya: ROE lebih tinggi daripada ROA karena adanya utang.
Kelemahan ROA: - kurang cocok membandingkan industri berbeda.
- perusahaan aset ringan biasanya terlihat lebih bagus.
- bisa terpengaruh metode akuntansi aset.
Karena itu ROA biasanya dianalisis bersama: - ROE
- DER
- Net Profit Margin
- Operating Margin
- Asset Turnover
- Return on Equity (ROE) %
Yaitu adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar keuntungan yang dihasilkan perusahaan dari modal pemegang saham (equity).
Rumus: ROE = (Laba Bersih : Total Ekuitas) × 100%
Keterangan: - Laba Bersih = keuntungan perusahaan.
- Ekuitas = modal pemegang saham (aset dikurangi utang).
Contoh: - Laba bersih = Rp 20 miliar
- Total ekuitas = Rp 100 miliar
Maka: ROE = ( 20 : 100 ) × 100%
Artinya: Setiap Rp 100 modal pemegang saham menghasilkan laba Rp 20 per tahun.
Interpretasi umum: - ROE tinggi → perusahaan efisien menghasilkan keuntungan dari modal.
- ROE rendah → keuntungan relatif kecil dibanding modalnya.
Patokan kasar: < 10% → kurang menarik.
10 - 15% → cukup baik.
15% → bagus.
20% → sangat kuat
Tetapi standar tiap industri berbeda.
Kenapa ROE penting?
Karena investor ingin tahu: “Seberapa efektif perusahaan mengelola uang pemegang saham?”
ROE adalah salah satu rasio favorit investor value investing.
Perbedaan ROE dan ROA: - ROE → fokus ke modal pemegang saham.
- ROA → fokus ke seluruh aset perusahaan.
Biasanya: ROE lebih tinggi daripada ROA karena perusahaan memakai utang untuk memperbesar bisnis.
Contoh: - Perusahaan dengan utang besar bisa punya ROE tinggi
- tetapi risikonya juga lebih tinggi
Karena itu ROE harus dilihat bersama: - DER (Debt to Equity Ratio).
- Cash Flow.
- Net Profit Margin.
- ROA.
ROE bagus jika: - konsisten tinggi bertahun-tahun.
- tidak hanya naik karena utang berlebihan.
Contoh analisis: - ROE tinggi + DER rendah → sangat menarik.
- ROE tinggi + DER sangat tinggi → perlu hati-hati.
ROE sangat sering dipakai untuk menilai: - bank.
- consumer goods.
- perusahaan berkualitas tinggi.
- Return on Invested Capital %
Return on Invested Capital (ROIC) adalah rasio yang menunjukkan seberapa efektif perusahaan menghasilkan keuntungan dari seluruh modal yang benar-benar digunakan dalam bisnis.
Modal yang dimaksud biasanya berasal dari: - pemegang saham (equity).
- utang berbunga (debt).
Rumus sederhananya: ROIC = (NO PAT : Invested Capital) × 100%
Keterangan: - NOPAT = Net Operating Profit After Tax (laba operasional setelah pajak)
- Invested Capital = total modal yang dipakai untuk menjalankan bisnis
Secara sederhana:
ROIC mengukur: “Seberapa besar keuntungan yang dihasilkan dari modal yang ditanamkan ke perusahaan?”
Contoh: - NOPAT = Rp 15 miliar
- Invested Capital = Rp 100 miliar
Maka: ROIC = (15 : 100) × 100% = 15%
Artinya: Setiap Rp 100 modal yang dipakai bisnis menghasilkan laba operasional Rp 15.
Kenapa ROIC penting?
Karena ROIC dianggap salah satu ukuran terbaik kualitas bisnis.
ROIC membantu melihat: - efisiensi penggunaan modal.
- kekuatan model bisnis.
- kemampuan menghasilkan keuntungan jangka panjang.
Investor besar sangat memperhatikan ROIC, terutama untuk: - value investing.
- quality investing.
Interpretasi umum: - ROIC rendah → modal kurang efisien
- ROIC tinggi → bisnis sangat efisien
Patokan kasar: < 5% → lemah
5–10% → cukup
10% → bagus
15% → sangat kuat
Yang sangat penting:
ROIC sebaiknya lebih tinggi daripada biaya modal perusahaan (Cost of Capital / WACC).
Jika: - ROIC > WACC → perusahaan menciptakan nilai
- ROIC < WACC → perusahaan menghancurkan nilai
Perbedaan ROIC dengan ROE: - ROE → hanya melihat modal pemegang saham
- ROIC → melihat seluruh modal bisnis (utang + equity)
Karena itu ROIC sering dianggap lebih lengkap.
Perbedaan ROIC dan ROA:
- ROA memakai total aset
- ROIC fokus pada modal yang benar-benar dipakai menghasilkan laba
ROIC bagus biasanya dimiliki perusahaan yang: - punya merek kuat.
- margin tinggi.
- efisiensi tinggi.
- sedikit kebutuhan modal tambahan.
Contoh sektor yang sering punya ROIC tinggi: - consumer goods.
- software.
- bisnis dengan brand kuat.
ROIC rendah sering terjadi di: - maskapai.
- industri berat.
- bisnis padat modal.
- Gross margin %
Gross Margin (%) atau Gross Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan berapa persen keuntungan kotor yang diperoleh perusahaan dari penjualannya.
Rumus: Gross Margin = (Laba Kotor : Penjualan) ×100%
Karena: Laba Kotor= Penjualan − Harga Pokok Penjualan
Maka gross margin menunjukkan: berapa sisa uang setelah biaya produksi/barang pokok dibayar.
Contoh: - Penjualan = Rp 100 miliar
- HPP = Rp 60 miliar
Laba kotor: 100 − 60 = 40
Gross margin: (40 : 100) × 100% = 40%
Artinya: Dari setiap Rp100 penjualan, perusahaan menyisakan Rp40 laba kotor.
Interpretasi: - Gross margin tinggi → bisnis punya margin bagus
- Gross margin rendah → keuntungan per penjualan kecil
Gross margin membantu melihat: - efisiensi produksi.
- kekuatan harga produk.
- kualitas model bisnis
Contoh: Perusahaan dengan brand kuat biasanya punya gross margin tinggi karena bisa menjual lebih mahal.
Gross margin tinggi sering dimiliki: - software.
- kosmetik.
- consumer brand premium.
- farmasi.
Gross margin rendah sering terjadi di: - supermarket.
- distributor.
- bisnis komoditas.
Patokan kasar: < 20% → rendah.
20 - 40% → normal.
40% → kuat.
60% → sangat kuat.
Tetapi tiap industri berbeda.
Perbedaan margin: - Gross Margin → setelah HPP
- Operating Margin → setelah biaya operasional
- Net Profit Margin → setelah semua biaya, bunga, dan pajak
Biasanya: Gross Margin > Operating Margin > Net Margin
Gross margin penting karena: Jika gross margin sudah kecil dari awal, maka perusahaan akan sulit menghasilkan laba besar.
Investor sering melihat: - apakah gross margin stabil?
- apakah naik turun?
- apakah lebih baik dari kompetitor?
- Operating margin %
Operating margin adalah rasio profitabilitas yang menunjukkan seberapa besar laba operasional perusahaan dibandingkan dengan pendapatannya.
Rumusnya: Operating Margin = (Laba Operasional : Pendapatan) × 100%
Laba operasional biasanya disebut juga: - Operating Income, atau
- EBIT (Earnings Before Interest and Taxes)
Interpretasi: - Semakin tinggi operating margin
→ perusahaan makin efisien menghasilkan laba dari operasional utama.
- Semakin rendah
→ biaya operasional terlalu besar atau margin bisnis tipis.
Contoh: - Pendapatan = Rp 1 miliar
- Laba operasional = Rp 200 juta
Maka: Operating Margin = (200 juta : 1 miliar) × 100%
= 20%
Artinya: Dari setiap Rp 100 pendapatan, perusahaan memperoleh Rp20 laba operasional.
Operating margin penting untuk:
> menilai efisiensi bisnis inti,
> membandingkan perusahaan sejenis,
> melihat kualitas profit perusahaan sebelum bunga dan pajak.
- EBITDA margin %
EBITDA Margin (%) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar laba operasional perusahaan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi dibanding total penjualan.
Rumus: EBITDA Margin = (EBITDA : Penjualan) × 100%
EBITDA = Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization
Artinya: EBITDA Margin menunjukkan seberapa besar keuntungan operasional inti perusahaan dari setiap penjualan sebelum dipengaruhi: - bunga utang.
- pajak.
- penyusutan aset.
- amortisasi.
Contoh: - Penjualan = Rp100 miliar
- EBITDA = Rp25 miliar
Maka: (25 : 100) ×100% = 25%
Artinya: Dari setiap Rp 100 penjualan, perusahaan menghasilkan Rp 25 EBITDA.
Interpretasi: - EBITDA margin tinggi → operasional efisien
- EBITDA margin rendah → biaya operasional besar
Patokan kasar: < 10% → rendah.
10 - 20% → cukup baik.
20% → kuat.
30% → sangat kuat.
Tetapi standar tiap industri berbeda.
Kenapa EBITDA margin penting?
Karena membantu melihat:
- kekuatan operasional inti bisnis.
- efisiensi perusahaan.
- kemampuan menghasilkan laba sebelum faktor pembiayaan dan akuntansi.
EBITDA margin sering dipakai untuk membandingkan perusahaan berbeda negara atau struktur utang.
Perbedaan margin: - Gross Margin → setelah HPP.
- Operating Margin → setelah biaya operasional.
- EBITDA Margin → laba operasional sebelum depresiasi/amortisasi.
- Net Profit Margin → laba bersih akhir.
Biasanya: Gross Margin > EBITDA Margin > Operating Margin > Net Margin
EBITDA margin sangat populer di: - telekomunikasi.
- manufaktur.
- energi.
- pertambangan.
- perusahaan padat aset.
Karena industri tersebut punya depresiasi besar.
Kelemahan EBITDA margin: - tidak memperhitungkan utang
- tidak memperhitungkan belanja modal (capex)
- bukan arus kas nyata
Jadi perusahaan bisa EBITDA bagus tetapi cash flow buruk.
Karena itu EBITDA margin biasanya dianalisis bersama: - Operating Cash Flow.
- Net Margin.
- ROIC.
- DER.
- EV/EBITDA.
Net Margin (%) atau Net Profit Margin adalah rasio yang menunjukkan berapa persen laba bersih yang diperoleh perusahaan dari total penjualannya.
Rumus: Net Margin = (Laba Bersih : Penjualan) × 100%
Artinya:
Net margin menunjukkan: dari seluruh penjualan, berapa persen yang benar-benar menjadi keuntungan akhir perusahaan setelah semua biaya dibayar.
Biaya tersebut termasuk: - HPP (harga pokok penjualan).
- biaya operasional.
- bunga utang.
- pajak
- depresiasi
- biaya lainnya
Contoh: - Penjualan = Rp100 miliar
- Laba bersih = Rp12 miliar
Maka: (12 : 100) × 100% = 12%
Artinya: Dari setiap Rp100 penjualan, perusahaan menyimpan Rp12 sebagai laba bersih.
Interpretasi: - Net margin tinggi → bisnis efisien dan menguntungkan
- Net margin rendah → keuntungan tipis
Patokan kasar: < 5% → rendah
5 - 10% → cukup baik
10% → bagus
20% → sangat kuat
Tetapi standar berbeda tiap industri.
Contoh: - Supermarket biasanya net margin kecil
- Software dan brand premium bisa net margin tinggi
Net margin penting karena: Penjualan besar belum tentu untung besar.
Contoh: - omzet Rp 1 triliun
- tetapi laba hanya Rp 5 miliar
Berarti margin sangat tipis.
Perbandingan margin: - Gross Margin → setelah HPP.
- EBITDA Margin → laba operasional sebelum depresiasi.
- Operating Margin → laba operasi.
- Net Margin → laba bersih akhir.
Biasanya: Gross Margin > EBITDA Margin > Operating Margin > Net Margin
Net margin bagus jika: - stabil atau naik dari tahun ke tahun.
- lebih baik dibanding kompetitor.
- didukung cash flow sehat.
Net margin rendah bisa disebabkan: - biaya operasional tinggi.
- utang besar.
- bunga tinggi.
- pajak besar.
- persaingan ketat.
Karena itu net margin biasanya dianalisis bersama: - ROE.
- ROA.
- Gross Margin.
- Operating Margin.
- Cash Flow.
LIQUIDITAS RATIOS
- Quick ratio
Quick Ratio adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendek menggunakan aset yang paling cepat dicairkan.
Quick ratio sering disebut juga: Acid-Test Ratio
Rumus: Quick Ratio = (Aset Lancar − Persediaan) : Utang Lancar
Atau: Quick Ratio = (Kas + Piutang + Investasi Jangka Pendek) : Utang Lancar
Kenapa persediaan dikurangi?
Karena stok barang: - belum tentu cepat terjual
- lebih sulit dicairkan menjadi uang tunai
Jadi quick ratio fokus pada aset yang paling likuid.
Contoh: - Kas = Rp 40 miliar
- Piutang = Rp 30 miliar
- Persediaan = Rp 20 miliar
- Utang lancar = Rp 50 miliar
Maka: Quick Ratio = (40+30) : 50=1.4
Artinya:
Perusahaan memiliki aset likuid 1,4 kali lebih besar daripada utang jangka pendeknya.
Interpretasi umum: 1 → kondisi likuiditas cukup baik.
= 1 → pas-pasan.
< 1 → perlu hati-hati karena aset likuid kurang.
Patokan kasar: < 1 → risiko likuiditas
1 - 2 → sehat
2 → sangat likuid
Tetapi terlalu tinggi juga kadang berarti: - kas menganggur.
- modal kurang produktif.
Perbedaan dengan Current Ratio:
- Current Ratio menghitung semua aset lancar termasuk persediaan.
- Quick Ratio lebih ketat karena tidak menghitung stok.
Biasanya: Current Ratio > Quick Ratio
Quick ratio penting untuk melihat: - kemampuan bayar utang jangka pendek.
- kesehatan keuangan.
- risiko krisis kas.
Rasio ini sangat penting untuk: - perusahaan dagang.
- manufaktur.
- bisnis dengan persediaan besar.
Karena stok barang bisa sulit dijual saat kondisi buruk.
Quick ratio biasanya dianalisis bersama: - Current Ratio.
- Cash Ratio.
- Debt to Equity Ratio (DER).
- Operating Cash Flow.
- Current ratio [x]
Current ratio adalah rasio likuiditas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan membayar kewajiban jangka pendeknya dengan aset lancar yang dimiliki.
Rumusnya: Current Ratio = Aset Lancar / Utang Lancar
Interpretasi umum:
> 1 → perusahaan dianggap cukup mampu membayar utang jangka pendek
= 1 → aset lancar sama dengan utang lancar
< 1 → ada risiko kesulitan likuiditas
Contoh: - Aset lancar = Rp 200 juta
- Utang lancar = Rp 100 juta
Maka: Current Ratio = 200 / 100 = 2 kali
Artinya perusahaan memiliki aset lancar 2 kali lebih besar daripada kewajiban jangka pendeknya.
- Inventory turnover
Inventory Turnover adalah rasio yang menunjukkan seberapa cepat persediaan (stok barang) perusahaan terjual dan diganti dalam suatu periode.
Rumus umum: Inventory Turnover = Harga Pokok Penjualan : Rata-Rata Persediaan
Artinya: - Rasio ini mengukur: berapa kali stok barang “berputar” dalam satu tahun.
Contoh: - HPP = Rp 120 miliar
- Rata-rata persediaan = Rp 20 miliar
Maka: 120 : 20 = 6
Artinya: Persediaan perusahaan berputar 6 kali dalam setahun.
Interpretasi: - Inventory turnover tinggi → barang cepat terjual
- Inventory turnover rendah → stok menumpuk atau penjualan lambat
Kenapa penting? Karena persediaan yang terlalu lama: - memakan biaya gudang.
- berisiko rusak/kedaluwarsa.
- membuat modal tertahan.
Rasio ini membantu melihat: - efisiensi penjualan.
- manajemen stok.
- kekuatan permintaan produk.
Patokan umum: - Tinggi → efisien.
- Terlalu tinggi → stok bisa terlalu sedikit.
- Rendah → stok berlebihan atau penjualan lemah.
Tetapi standar berbeda tiap industri.
Contoh: - Supermarket → turnover biasanya tinggi
- Mobil atau furnitur → turnover lebih rendah
- Fashion → harus dijaga agar stok tidak menumpuk
Inventory turnover juga sering diubah menjadi: Days Inventory Outstanding (DIO)
Rumus: DIO = 365 : Inventory Turnover
Contoh: - Jika inventory turnover = 6
Maka: 365 : 6 = 61 har
Artinya: Rata-rata barang berada di gudang selama 61 hari sebelum terjual.
Inventory turnover bagus jika: - stabil.
- meningkat dari waktu ke waktu.
- lebih baik dari kompetitor.
Rasio ini biasanya dianalisis bersama: - Gross Margin.
- Cash Flow.
- Current Ratio.
- Receivable Turnover.
Karena: barang cepat terjual belum tentu untung besar.
Asset Turnover adalah rasio yang menunjukkan seberapa efektif perusahaan menggunakan seluruh asetnya untuk menghasilkan penjualan.
Rumus: Asset Turnover = Penjualan : Total Aset
Artinya:
Rasio ini mengukur: berapa besar penjualan yang dihasilkan dari setiap aset yang dimiliki perusahaan.
Contoh: - Penjualan = Rp 200 miliar
- Total aset = Rp 100 miliar
Maka: - 200 : 100 = 2
Artinya: Setiap Rp 1 aset menghasilkan Rp 2 penjualan.
Interpretasi: - Asset turnover tinggi → aset digunakan efisien
- Asset turnover rendah → aset kurang produktif
Kenapa penting? Karena perusahaan bisa memiliki: - gedung.
- mesin.
- kendaraan.
- gudang.
- kas.
Tetapi belum tentu aset tersebut menghasilkan penjualan yang optimal.
Asset turnover membantu melihat: - efisiensi operasional.
- produktivitas aset.
- efektivitas penggunaan modal.
Patokan umum: - Tinggi → efisien
- Rendah → aset terlalu besar dibanding penjualan
Tetapi standar berbeda tiap industri.
Contoh: - Retail/supermarket → asset turnover biasanya tinggi
- Properti/utilitas → biasanya rendah karena aset sangat besar
Asset turnover tinggi sering dimiliki: - bisnis retail.
- distribusi.
- makanan cepat saji.
Asset turnover rendah sering terjadi pada: - manufaktur berat.
- properti.
- telekomunikasi.
- pertambangan.
Hubungan penting: ROA dipengaruhi oleh: - profit margin.
- asset turnover.
Karena secara konsep: ROA ≈ Net Margin × Asset Turnover
Artinya: Perusahaan bisa punya ROA tinggi karena: - margin tinggi.
- ATAU
- perputaran aset sangat cepat.
Asset turnover bagus jika: - stabil atau meningkat.
- lebih baik dari kompetitor.
- sejalan dengan pertumbuhan laba.
Rasio ini biasanya dianalisis bersama: - ROA.
- ROE.
- Gross Margin.
- Inventory Turnover.
- Net Margin.
Karena: penjualan tinggi belum tentu laba tinggi.
SOLVENCY RATIOS
- Debt to Asset Ratio
- Debt to Equity Ratio (DER) [x]
Ini adalah rasio untuk melihat seberapa besar utang perusahaan dibanding modal sendiri (ekuitas). Rumusnya: DER = Total Utang : Total Ekuitas.
Cara memahami DER: - Utang (Debt) = semua kewajiban perusahaan.
- Ekuitas (Equity) = modal pemilik + laba ditahan.
Contoh sederhana, Misalnya: - Total utang = Rp 200 miliar
- Total ekuitas = Rp100 miliar
Maka: DER = 200 ÷ 100 = 2
Artinya: Perusahaan memiliki utang sebesar 2 kali modal sendiri.
Arti nilai DER : - DER Rendah
Contoh: 0,3 atau 0,5
> Utang relatif kecil.
> Risiko keuangan lebih rendah.
> Biasanya lebih aman saat kondisi ekonomi buruk.
- DER Sedang
Contoh: 1
> Utang dan modal seimbang
- DER Tinggi
Contoh: 2, 3, atau lebih
> Perusahaan banyak memakai utang
> Bisa memperbesar keuntungan
> Tapi risiko juga lebih tinggi
Patokan umum (tidak mutlak) : - DER < 1 → umumnya cukup sehat.
- DER 1 - 2 → masih wajar di beberapa sektor.
- DER > 2 → perlu hati-hati.
Tetapi standar DER berbeda tiap industri:
- Bank & multifinance → DER memang tinggi
- Consumer goods → biasanya DER rendah lebih bagus
- Properti & konstruksi → sering lebih tinggi
Dalam analisis saham,
Investor biasanya melihat DER untuk menilai: - risiko bangkrut,
- kemampuan bayar utang,
- kesehatan keuangan perusahaan.
DER tinggi belum tentu jelek jika: > laba stabil,
> arus kas kuat,
> bisnis berkembang cepat.
- Long term debt to total assets ratio
- Long term debt to equity ratio
Tambahan:
- Debt Service Coverage (DSC) [x]
atau sering juga disebut Debt Service Coverage Ratio (DSCR).
Artinya: kemampuan perusahaan atau seseorang untuk membayar cicilan utang dari pendapatan yang dimiliki.
Rumus umum: DSCR = Pendapatan Bersih : Total Cicilan Utang
Contoh: - Pendapatan bersih per bulan: Rp 10 juta
- Cicilan utang: Rp 5 juta
Maka: DSCR = 10 ÷ 5 = 2
Artinya pendapatan 2 kali lebih besar dari kewajiban cicilan → relatif aman.
Patokan umum: - DSCR < 1 = kurang sehat
- DSCR 1 - 1,2 = mepet
- DSCR 1,5 = cukup baik
PER SHARE METRICS
- Revenue Per Share
Revenue Per Share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar pendapatan/penjualan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar.
Rumus: Revenue Per Share = Total Pendapatan : Jumlah Saham Beredar
Keterangan: - Total pendapatan = total sales/revenue perusahaan.
- Jumlah saham beredar = total saham yang dimiliki investor.
Contoh: - Pendapatan = Rp 500 miliar
- Saham beredar = 1 miliar lembar
Maka: 500 : 1000 = 0.5
Artinya: Setiap lembar saham menghasilkan pendapatan Rp 500.
Tujuan rasio ini:
Membantu investor melihat: berapa besar kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan relatif terhadap jumlah sahamnya.
Revenue per share sering dipakai untuk:
- membandingkan pertumbuhan perusahaan
- melihat efisiensi pertumbuhan pendapatan
- menghitung rasio valuasi seperti PSR (Price to Sales Ratio)
Hubungan dengan PSR:
Karena: PSR = Harga Saham : Revenue Per Share
Interpretasi: - Revenue per share naik → penjualan per saham meningkat.
- Revenue per share turun → pertumbuhan melemah atau saham terdilusi.
Tetapi: Revenue besar belum tentu laba besar.
Karena perusahaan bisa: - margin kecil.
- biaya tinggi.
- rugi operasional.
Jadi revenue per share harus dianalisis bersama: - EPS.
- Net Margin.
- Gross Margin.
- Cash Flow.
Perbedaan penting: - Revenue Per Share → penjualan per saham.
- EPS → laba per saham.
- BVPS → nilai buku per saham.
Secara sederhana: - Revenue/share = kemampuan jualan.
- EPS = kemampuan menghasilkan laba.
- BVPS = kekayaan bersih per saham.
Revenue per share bagus jika: - tumbuh konsisten.
- lebih cepat daripada pertumbuhan jumlah saham.
- diikuti peningkatan laba.
Karena: - Jika perusahaan sering menerbitkan saham baru,
- revenue bisa naik tetapi revenue per share stagnan.
- Operating Cash Flow per Share
Operating Cash Flow Per Share (OCF Per Share) adalah rasio yang menunjukkan berapa besar arus kas operasional yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham.
Rumus: Operating Cash Flow Per Share = Arus Kas Operasi : Jumlah Saham Beredar
Keterangan: - Arus kas operasi = kas yang dihasilkan dari kegiatan bisnis utama perusahaan
- Jumlah saham beredar = total saham perusahaan
Contoh: - Operating Cash Flow = Rp 200 miliar
- Saham beredar = 1 miliar lembar
Maka: 200 : 1000 = 0.2
Artinya: Setiap lembar saham menghasilkan arus kas operasional Rp 200.
Kenapa rasio ini penting?
Karena laba bersih kadang bisa dipengaruhi: - akuntansi.
- depresiasi.
- pencatatan non-tunai.
Tetapi operating cash flow menunjukkan: uang kas nyata yang masuk dari operasional bisnis.
Jadi banyak investor menganggap: cash flow lebih sulit “dimanipulasi” dibanding laba.
Interpretasi: - OCF per share tinggi → bisnis menghasilkan kas yang kuat.
- OCF per share rendah → arus kas lemah.
Bagus jika: - naik konsisten.
- lebih besar dari EPS.
- didukung pertumbuhan bisnis.
Perbedaan: - Revenue per Share → penjualan per saham.
- EPS → laba per saham.
- OCF per Share → kas operasional per saham.
Secara sederhana: - Revenue/share = kemampuan jualan.
- EPS = keuntungan akuntansi.
- OCF/share = uang kas nyata.
Contoh penting: Perusahaan bisa: laba besar tetapi cash flow kecil.
Artinya: keuntungan belum benar-benar berubah menjadi uang kas.
Hubungan dengan Price to Cash Flow Ratio:
Karena: P/CF = Harga Saham : Operating Cash Flow Per Share
Operating cash flow per share biasanya dianalisis bersama: - EPS
- Free Cash Flow
- Net Margin
- DER
- ROIC
Karena: cash flow kuat biasanya menandakan bisnis lebih sehat dan tahan krisis.
- Free Cash Flow per Share
Free Cash Flow Per Share (FCF Per Share) adalah rasio yang menunjukkan berapa besar sisa uang kas bebas yang dimiliki perusahaan untuk setiap lembar saham setelah kebutuhan operasional dan belanja modal (capital expenditure/capex) dibayar.
Rumus dasar: FCF Per Share = Free Cash Flow : Jumlah Saham Beredar
Sedangkan Free Cash Flow biasanya dihitung:
Free Cash Flow = Operating Cash Flow − Capital Expenditure
Keterangan:
- Operating Cash Flow = kas dari operasional bisnis
- Capital Expenditure (Capex) = biaya pembelian aset seperti mesin, gedung, kendaraan, dll.
Artinya:
FCF menunjukkan: berapa uang kas yang benar-benar “bebas” setelah perusahaan menjaga dan mengembangkan bisnisnya.
Contoh: - Operating Cash Flow = Rp 300 miliar
- Capex = Rp 100 miliar
- Saham beredar = 1 miliar lembar
Maka: - Free Cash Flow: 300 − 100 = 200
- FCF per share: 200 : 1000 = 0.2
Artinya: Setiap lembar saham menghasilkan free cash flow Rp 200.
Kenapa FCF penting?
Karena inilah uang yang bisa dipakai untuk: - membayar dividen.
- melunasi utang.
- buyback saham.
- ekspansi.
- menambah kas perusahaan.
Investor besar sangat menyukai perusahaan dengan: - FCF positif.
- FCF stabil.
- FCF terus bertumbuh.
Interpretasi: - FCF/share tinggi → bisnis menghasilkan kas kuat.
- FCF/share negatif → perusahaan membakar kas.
Tetapi: FCF negatif belum tentu buruk.
Contoh: Perusahaan bisa sedang: - ekspansi besar.
- membangun pabrik.
- investasi pertumbuhan.
Perbedaan penting: - EPS → laba akuntansi.
- Operating Cash Flow/share → kas operasional.
- FCF/share → kas yang benar-benar bebas dipakai.
Secara sederhana: FCF dianggap salah satu ukuran kualitas bisnis terbaik.
FCF/share biasanya dianalisis bersama: - ROIC
- Net Margin
- DER
- Cash Ratio
- P/FCF (Price to Free Cash Flow)
Hubungan dengan valuasi: P/FCF = Harga Saham : FCF Per Share
Investor value investing sering sangat memperhatikan:
- pertumbuhan FCF.
- kestabilan FCF.
- kemampuan bisnis menghasilkan kas nyata.
- EBIT per Share
EBIT Per Share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar laba operasional perusahaan untuk setiap lembar saham sebelum bunga dan pajak.
EBIT = Earnings Before Interest and Taxes
Rumus EBIT per share: EBIT Per Share = EBIT : Jumlah Saham Beredar
Keterangan: - EBIT = laba operasional sebelum bunga dan pajak.
- Jumlah saham beredar = total saham perusahaan.
Artinya: Rasio ini menunjukkan: berapa laba operasional inti yang dihasilkan tiap lembar saham.
Contoh: - EBIT = Rp 150 miliar
- Saham beredar = 1 miliar lembar
Maka: 150 : 1000 = 0.15
Artinya: Setiap lembar saham menghasilkan EBIT sebesar Rp150.
Kenapa EBIT per share penting?
Karena rasio ini fokus pada: kinerja operasional inti bisnis, tanpa dipengaruhi:
- bunga utang.
- pajak.
Jadi investor bisa melihat: seberapa kuat bisnis utamanya menghasilkan keuntungan.
Perbedaan penting: - EPS → laba bersih akhir.
- EBIT/share → laba operasional.
- EBITDA/share → laba sebelum depresiasi.
Secara sederhana: - EBIT lebih “murni operasional”.
- EPS lebih dipengaruhi struktur utang dan pajak.
Contoh: Dua perusahaan bisa punya: operasional sama bagus tetapi:
perusahaan dengan utang besar akan punya EPS lebih kecil karena bunga tinggi.
EBIT membantu membandingkan bisnis lebih adil.
Hubungan dengan valuasi:
EBIT sering dipakai dalam rasio: EV/EBIT = Enterprise Value : EBIT
Interpretasi: - EBIT/share naik → operasional membaik.
- EBIT/share turun → efisiensi atau profit operasional melemah.
EBIT/share bagus jika: - tumbuh konsisten.
- lebih baik dari kompetitor.
- didukung cash flow kuat.
Kelemahan EBIT: - belum memperhitungkan bunga dan pajak.
- belum menunjukkan kas nyata.
- tidak memperhitungkan belanja modal.
Karena itu biasanya dianalisis bersama: - EBITDA.
- EPS.
- Free Cash Flow.
- ROIC.
- Net Margin.
- EBITDA per Share
- Book Value Per Share (BVPS) [x]
Book Value Per Share (BVPS) adalah nilai buku perusahaan untuk setiap lembar saham.
BVPS menunjukkan: berapa nilai aset bersih perusahaan yang menjadi hak tiap pemegang saham jika perusahaan dilikuidasi secara teoritis.
Rumus: BVPS = Total Ekuitas : Jumlah Saham Beredar
Keterangan: - Total Ekuitas = aset dikurangi utang.
- Jumlah saham beredar = total saham yang dimiliki investor.
Contoh: - Total ekuitas = Rp 500 miliar.
- Jumlah saham = 1 miliar lembar.
Maka: BVPS =500 : 1000 = 0.5
Artinya: Nilai buku per saham = Rp 500 per lembar saham.
BVPS penting karena: Membantu investor mengetahui berapa “nilai bersih” perusahaan per saham.
Hubungan dengan PBV: PBV dihitung menggunakan BVPS.
Rumus: PBV = Harga Saham : BVPS
Contoh: - Harga saham = Rp 1.000
- BVPS = Rp 500
Maka: PBV = 1000 : 500 = 2
Artinya: Saham diperdagangkan 2 kali nilai bukunya.
Interpretasi BVPS: - BVPS naik dari tahun ke tahun → ekuitas bertambah.
- BVPS turun → modal perusahaan melemah atau rugi.
BVPS sangat penting untuk: - bank.
- perusahaan keuangan.
- perusahaan berbasis aset besar.
Karena nilai asetnya cukup jelas.
BVPS tinggi belum tentu bagus. Harus dilihat juga: - profitabilitas.
- kualitas aset.
- ROE.
- utang perusahaan.
Contoh: - BVPS tinggi tetapi laba kecil → kurang efisien.
- BVPS tumbuh dan ROE tinggi → biasanya menarik.
Perbedaan: - BVPS → nilai buku per saham.
- EPS → laba per saham.
Secara sederhana: - BVPS = kekayaan bersih per saham.
- EPS = keuntungan per saham.
BVPS biasanya dianalisis bersama: - PBV
- ROE
- DER
- PER
- Total debt per share
Total Debt Per Share adalah rasio yang menunjukkan berapa besar total utang perusahaan jika dibagi ke setiap lembar saham yang beredar.
Rumus: Total Debt Per Share = Total Utang : Jumlah Saham Beredar.
Keterangan: - Total utang = utang jangka pendek + utang jangka panjang.
- Jumlah saham beredar = total saham perusahaan di pasar.
Contoh: - Total utang = Rp 300 miliar
- Jumlah saham = 1 miliar lembar
Maka: 300 : 1000 = 0.3
Artinya: Setiap lembar saham “menanggung” utang sebesar Rp 300.
Tujuan rasio ini:
Membantu investor melihat: berapa besar beban utang perusahaan relatif terhadap jumlah sahamnya.
Interpretasi: - Nilai rendah → utang relatif ringan.
- Nilai tinggi → beban utang besar.
Tetapi rasio ini tidak bisa dilihat sendirian.
Karena: utang besar belum tentu buruk jika: - laba besar.
- cash flow kuat.
- bisnis stabil.
Contoh: Perusahaan utilitas atau telekomunikasi sering punya utang besar karena:
- membangun infrastruktur.
- ekspansi besar.
Namun bisa tetap sehat jika arus kas stabil.
Rasio ini biasanya dianalisis bersama: - Debt to Equity Ratio (DER)
- Debt to Asset Ratio
- Interest Coverage Ratio
- Cash Flow
- ROE
Hubungan dengan BVPS: Investor kadang membandingkan:
- BVPS (nilai buku per saham) vs
- Debt per share
Jika: - BVPS jauh lebih tinggi daripada debt/share → biasanya lebih aman
- debt/share sangat besar → risiko lebih tinggi
Perbedaan: - EPS → laba per saham
- BVPS → nilai buku per saham
- Debt Per Share → utang per saham
Debt per share penting untuk melihat: - struktur modal.
- risiko finansial.
- kesehatan neraca perusahaan.
CASH PER SHARE
- Net current asset value per share
Net Current Asset Value Per Share (NCAVPS) adalah nilai aset lancar bersih perusahaan untuk setiap lembar saham.
Konsep ini terkenal dalam metode value investing dari Benjamin Graham.
NCAV menghitung: aset lancar perusahaan dikurangi seluruh kewajiban (utang). Rumus NCAV: NCAV=Aset Lancar − Total Kewajiban
Lalu per saham: NCAVPS=NCAV : Jumlah Saham Beredar
Keterangan:
Aset lancar = kas, piutang, persediaan, dll.
Total kewajiban = semua utang perusahaan
Saham beredar = total saham perusahaan
Kenapa unik? Karena, aset tetap seperti: - gedung
- mesin
- tanah
bahkan tidak dihitung.
Jadi metode ini sangat konservatif.
Contoh: - Aset lancar = Rp500 miliar
- Total kewajiban = Rp300 miliar
- Saham beredar = 1 miliar lembar
Maka: NCAV : 500 − 300 = 200
NCAVPS : 200 : 1000 = 0.2
Artinya: Nilai NCAV per saham = Rp 200.
Interpretasi: Jika harga saham → lebih rendah dari NCAVPS, maka saham kadang dianggap sangat murah (deep value).
Karena secara teori: aset lancar saja sudah lebih besar daripada harga pasar sahamnya.
Investor value klasik sering mencari: Price < NCAV
Ini disebut: Net-Net Stocks
Tetapi: saham murah seperti ini sering: - bisnisnya sedang bermasalah.
- pertumbuhannya lemah.
- likuiditas rendah.
Jadi tidak otomatis bagus.
NCAVPS penting untuk: - analisis value investing konservatif.
- mencari margin of safety tinggi.
Perbedaan: - BVPS → semua aset dikurangi utang
- NCAVPS → hanya aset lancar dikurangi semua utang
Karena itu: NCAVPS biasanya lebih kecil daripada BVPS.
NCAVPS biasanya dianalisis bersama: - Cash Flow.
- DER.
- Current Ratio.
- Profitability.
- Free Cash Flow.
Karena: aset lancar besar belum tentu bisnis sehat.
- Tangible book value per share
- Working capital per share
- CapEx per share
Aset lancar = kas, piutang, persediaan, dll.
Total kewajiban = semua utang perusahaan
Saham beredar = total saham perusahaan
Kenapa unik? Karena, aset tetap seperti: - gedung
- mesin
- tanah
bahkan tidak dihitung.
Jadi metode ini sangat konservatif.
Contoh: - Aset lancar = Rp500 miliar
- Total kewajiban = Rp300 miliar
- Saham beredar = 1 miliar lembar
Maka: NCAV : 500 − 300 = 200
NCAVPS : 200 : 1000 = 0.2
Artinya: Nilai NCAV per saham = Rp 200.
Interpretasi: Jika harga saham → lebih rendah dari NCAVPS, maka saham kadang dianggap sangat murah (deep value).
Karena secara teori: aset lancar saja sudah lebih besar daripada harga pasar sahamnya.
Investor value klasik sering mencari: Price < NCAV
Ini disebut: Net-Net Stocks
Tetapi: saham murah seperti ini sering: - bisnisnya sedang bermasalah.
- pertumbuhannya lemah.
- likuiditas rendah.
Jadi tidak otomatis bagus.
NCAVPS penting untuk: - analisis value investing konservatif.
- mencari margin of safety tinggi.
Perbedaan: - BVPS → semua aset dikurangi utang
- NCAVPS → hanya aset lancar dikurangi semua utang
Karena itu: NCAVPS biasanya lebih kecil daripada BVPS.
NCAVPS biasanya dianalisis bersama: - Cash Flow.
- DER.
- Current Ratio.
- Profitability.
- Free Cash Flow.
Karena: aset lancar besar belum tentu bisnis sehat.
- Tangible book value per share
- Working capital per share
- CapEx per share
CASHFLOW
- Cashflow from operating activities
Cash Flow from Operating Activities (CFO atau Operating Cash Flow) adalah arus kas yang dihasilkan dari kegiatan utama operasional bisnis perusahaan.
Ini menunjukkan: berapa banyak uang kas nyata yang masuk dan keluar dari aktivitas bisnis sehari-hari perusahaan.
Contohnya: Kas masuk dari: - penjualan produk/jasa.
- pembayaran pelanggan.
Kas keluar untuk: - gaji karyawan.
- bayar supplier.
- biaya operasional.
- pajak operasional.
Jadi CFO fokus pada: - aktivitas inti bisnis,
- bukan investasi atau pendanaan.
Rumus: Operating Cash Flow = Kas Masuk Operasional − Kas Keluar Operasional
Kenapa penting? Karena laba bersih belum tentu sama dengan uang kas nyata.
Contoh: Perusahaan bisa mencatat laba besar, tetapi: - pelanggan belum membayar.
- piutang menumpuk.
Akibatnya: cash flow bisa kecil atau negatif.
Operating cash flow membantu melihat: - kualitas laba.
- kesehatan bisnis.
- kemampuan bisnis menghasilkan kas nyata.
Interpretasi: - CFO positif → bisnis menghasilkan uang kas
- CFO negatif → operasional membakar kas
Investor biasanya sangat memperhatikan:
apakah operating cash flow: - stabil.
- tumbuh.
- lebih kuat dari laba bersih.
Hubungan dengan Free Cash Flow:
Karena: Free Cash Flow = Operating Cash Flow − Capital Expenditure
Artinya: Operating cash flow adalah sumber utama free cash flow.
Perbedaan dengan laba bersih: - Laba bersih → berbasis akuntansi
- Operating cash flow → berbasis kas nyata
Perusahaan sehat biasanya memiliki: - laba positif.
- operating cash flow positif.
Jika: laba tinggi tetapi CFO rendah, maka investor perlu waspada.
Operating cash flow biasanya dianalisis bersama: - EPS
- Free Cash Flow
- Net Margin
- DER
- ROIC
Dalam laporan keuangan: CFO berada di: Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement)
Yang biasanya dibagi menjadi: - Operating Activities.
- Investing Activities.
- Financing Activities.
- Cashflow from investing activities
Cash Flow from Investing Activities adalah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perusahaan.
Bagian ini menunjukkan: uang kas yang dipakai atau diterima perusahaan untuk membeli dan menjual aset jangka panjang atau investasi.
Contoh aktivitas investing:
Kas keluar: - membeli mesin.
- membeli gedung.
- membeli tanah.
- membeli perusahaan lain.
- membeli investasi jangka panjang.
Kas masuk: - menjual aset.
- menjual investasi.
- menjual anak perusahaan.
Secara sederhana: Investing Cash Flow = Kas Masuk Investasi − Kas Keluar Investasi
Kenapa penting? Karena bagian ini menunjukkan apakah perusahaan sedang:
- ekspansi
- investasi pertumbuhan
- atau justru menjual aset
Interpretasi umum: - Negatif → sering berarti perusahaan sedang investasi atau ekspansi
- Positif → bisa berarti perusahaan menjual aset/investasi
Jadi: cash flow investasi negatif tidak selalu buruk.
Contoh: Perusahaan membeli: - pabrik baru
- mesin baru.
- jaringan bisnis baru.
Maka investing cash flow biasanya negatif, tetapi justru bisa bagus untuk pertumbuhan jangka panjang.
Contoh sederhana: > beli mesin = - Rp 100 miliar
> jual aset lama = + Rp 20 miliar
Maka: 20 − 100 = −80
Artinya: arus kas investasi negatif Rp 80 miliar.
Hubungan dengan Capex:
Belanja modal (Capital Expenditure/Capex) biasanya berada di bagian investing activities.
Dan digunakan untuk menghitung: Free Cash Flow = Operating Cash Flow − Capex
Perbedaan tiga jenis cash flow: - Operating Activities → kas dari bisnis utama.
- Investing Activities → kas dari investasi/aset.
- Financing Activities → kas dari utang, saham, dividen.
Investor biasanya melihat: - apakah investasi menghasilkan pertumbuhan?
- apakah capex terlalu besar?
- apakah perusahaan menjual aset karena kesulitan keuangan?
Investing cash flow sehat biasanya:
- mendukung pertumbuhan bisnis.
- sejalan dengan peningkatan laba dan cash flow operasional.
- Cashflow from financing activities
Cash Flow from Financing Activities adalah arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan perusahaan.
Bagian ini menunjukkan: bagaimana perusahaan mendapatkan dana dan bagaimana perusahaan membayar kembali dana tersebut.
Aktivitas financing biasanya berkaitan dengan: - utang.
- saham.
- dividen.
Contoh kas masuk: - pinjam uang dari bank.
- menerbitkan obligasi.
- menerbitkan saham baru.
Contoh kas keluar: - membayar utang.
- buyback saham.
- membayar dividen.
Rumus: Financing Cash Flow = Kas Masuk Pendanaan − Kas Keluar Pendanaan
Kenapa penting? Karena bagian ini membantu melihat:
- bagaimana perusahaan membiayai bisnisnya.
- apakah perusahaan bergantung pada utang.
- apakah perusahaan sering menerbitkan saham baru.
Interpretasi umum: - Positif → perusahaan mendapatkan dana baru
(utang atau penerbitan saham)
- Negatif → perusahaan membayar utang/dividen/buyback
Negatif sering dianggap bagus jika: - bisnis kuat.
- mampu melunasi utang.
- rutin membayar dividen.
Contoh: - pinjaman bank = + Rp 200 miliar
- bayar dividen = - Rp 50 miliar
- bayar utang = - Rp 100 miliar
Maka: 200 − 50 − 100 = 50
Artinya: arus kas pendanaan positif Rp 50 miliar.
Hubungan dengan struktur modal:
Financing activities sangat terkait dengan: - DER.
- utang perusahaan.
- jumlah saham beredar.
Contoh penting:
- Jika perusahaan terus menerbitkan saham baru, maka saham investor bisa terdilusi
- Jika perusahaan terus menambah utang, maka risiko keuangan bisa meningkat
Perbedaan 3 jenis cash flow: - Operating Activities → kas dari bisnis utama.
- Investing Activities → kas dari investasi/aset.
- Financing Activities → kas dari pendanaan.
Investor biasanya memperhatikan: - apakah perusahaan terlalu bergantung pada utang?
- apakah perusahaan mampu bayar dividen?
- apakah perusahaan sering rights issue?
- apakah buyback saham dilakukan?
Financing cash flow sehat biasanya: - mendukung pertumbuhan.
- tidak terlalu agresif berutang.
- sejalan dengan cash flow operasional kuat.
Dalam laporan arus kas, bagian financing biasanya mencakup: - debt issuance.
- debt repayment.
- dividend payment.
- share issuance.
- stock buyback.
- Free cash flow
Free Cash Flow (FCF) adalah sisa uang kas yang dimiliki perusahaan setelah menjalankan operasional bisnis dan membayar belanja modal (capex).
FCF menunjukkan: berapa uang kas yang benar-benar “bebas” digunakan perusahaan.
Rumus dasar: Free Cash Flow = Operating Cash Flow − Capital Expenditure
Keterangan:
Operating Cash Flow = kas dari operasional bisnis
Capital Expenditure (Capex) = pengeluaran untuk aset seperti mesin, gedung, kendaraan, dll.
Artinya: Setelah perusahaan: - menjalankan bisnis
- membeli aset penting
- masih ada sisa uang kas.
Contoh: - Operating Cash Flow = Rp 500 miliar
- Capex = Rp 200 miliar
Maka: 500 − 200 = 300
Artinya: Perusahaan memiliki free cash flow Rp 300 miliar.
Kenapa Free Cash Flow penting?
Karena FCF adalah uang yang bisa dipakai untuk: - membayar dividen.
- buyback saham.
- melunasi utang.
- ekspansi.
- menyimpan kas.
Investor besar sangat memperhatikan FCF karena: “cash is real.”
Laba bersih bisa dipengaruhi: - akuntansi
- depresiasi
- pencatatan non-tunai
Tetapi FCF menunjukkan: uang kas nyata yang tersisa.
Interpretasi: - FCF positif → bisnis menghasilkan kas sehat
- FCF negatif → perusahaan membakar kas
Tetapi: FCF negatif belum tentu buruk.
Contoh: Perusahaan mungkin sedang: - membangun pabrik.
- ekspansi besar.
- investasi pertumbuhan.
Yang penting: apakah investasi tersebut menghasilkan pertumbuhan di masa depan.
FCF bagus jika: - stabil
- terus tumbuh
- lebih besar dari laba bersih
- didukung operating cash flow kuat
Perbedaan: - Laba bersih → keuntungan akuntansi
- Operating Cash Flow → kas dari operasional
- Free Cash Flow → kas bebas setelah capex
Hubungan dengan valuasi:
Investor sering memakai rasio: P/FCF = Harga Saham Free : Cash Flow Per Share
FCF biasanya dianalisis bersama: - ROIC
- DER
- Net Margin
- Cash Ratio
- EBITDA
Karena perusahaan dengan: - FCF kuat.
- ROIC tinggi.
- utang sehat.
sering dianggap bisnis berkualitas tinggi.
BALANCE SHEET
- Total assets
Total assets adalah jumlah seluruh aset/kekayaan yang dimiliki perusahaan pada suatu waktu tertentu.
Aset ini mencakup semua yang dimiliki perusahaan yang punya nilai ekonomi dan bisa digunakan untuk menjalankan bisnis.
Secara sederhana: Total Assets = Semua harta & sumber daya perusahaan
Komponen Total Assets
Biasanya dibagi menjadi 2 bagian:
1. Aset Lancar (Current Assets)
Aset yang bisa dicairkan atau dipakai dalam waktu ≤ 1 tahun.
Contohnya: - Kas & setara kas
- Saldo bank
- Piutang pelanggan
- Persediaan barang
- Investasi jangka pendek
2. Aset Tidak Lancar (Non-Current Assets)
Aset untuk penggunaan jangka panjang.
Contohnya: - Tanah
- Gedung
- Mesin
- Kendaraan
- Hak paten
- Investasi jangka panjang
Rumus Dasar : Total Assets = Total Liabilities + Equity
Artinya: Aset perusahaan berasal dari: - utang (liabilities)
- modal pemilik/pemegang saham (equity)
Contoh Sederhana, Misalnya perusahaan punya: - Kas: Rp 200 juta
- Persediaan: Rp 300 juta
- Gedung: Rp 500 juta
Maka: Total Assets = 200 + 300 + 500 = 1.000 juta
Total Assets=200+300+500=1,000 juta
Jadi total asetnya = Rp1 miliar.
Kenapa Total Assets Penting? Karena membantu melihat: - ukuran perusahaan.
- kekuatan finansial.
- kemampuan ekspansi.
- efisiensi penggunaan aset.
Investor biasanya membandingkan total assets dengan: - laba perusahaan.
- utang.
- penjualan.
- jumlah saham.
Dalam Analisis Saham
Contoh penggunaan: - ROA (Return on Assets) → seberapa efisien aset menghasilkan laba.
- Asset Turnover → seberapa efektif aset menghasilkan penjualan.
- Membandingkan perusahaan besar vs kecil.
Perusahaan dengan aset besar belum tentu bagus, karena: - bisa banyak utang.
- aset menganggur.
- laba kecil dibanding asetnya.
Jadi total assets perlu dilihat bersama rasio lain juga.
- Total liabilitas
Total liabilities adalah jumlah seluruh kewajiban/utang perusahaan yang harus dibayar kepada pihak lain.
Sederhananya: Total Liabilities = Semua utang & kewajiban perusahaan
Kewajiban ini bisa kepada: - bank
- supplier
- investor obligasi
- karyawan
- pemerintah (pajak)
- pihak lainnya
Jenis Total Liabilities
1. Liabilitas Jangka Pendek (Current Liabilities)
Harus dibayar dalam ≤ 1 tahun.
Contohnya: - Utang usaha.
- Utang gaji.
- Utang pajak.
- Cicilan pinjaman jangka pendek
2. Liabilitas Jangka Panjang (Non-Current Liabilities)
Jatuh tempo > 1 tahun.
Contohnya: - Pinjaman bank jangka panjang
- Obligasi
- Utang leasing
- Utang proyek besar
- Rumus Dasar
Dalam neraca: Total Assets = Total Liabilities + Equity
Maka: Total Liabilities = Total Assets − Equity
Total Liabilities = Total Assets − Equity
Contoh Sederhana, Misalnya perusahaan punya: - Total aset: Rp 10 miliar
- Modal/equity: Rp 4 miliar
Maka: 10 − 4 = 6
Jadi: Total liabilities = Rp 6 miliar
Artinya sebagian aset perusahaan berasal dari utang.
Kenapa Penting?
Total liabilities membantu melihat: - seberapa besar perusahaan bergantung pada utang.
- risiko keuangan perusahaan.
- kemampuan bayar utang.
Dalam Analisis Saham:
Biasanya dibandingkan dengan: - equity → menjadi DER (Debt to Equity Ratio).
- aset → melihat proporsi utang.
- laba → kemampuan membayar utang.
Contoh: - Utang terlalu besar → risiko tinggi
- Utang wajar + laba stabil → masih sehat
- Utang kecil → lebih aman, tapi belum tentu paling profitable
Jadi total liabilities penting untuk menilai kesehatan finansial perusahaan.
- Total equity
Total equity adalah hak atau kekayaan bersih milik pemilik/pemegang saham setelah semua utang perusahaan dikurangi.
Sederhananya: Total Equity = Sisa kekayaan perusahaan setelah dikurangi seluruh kewajiban
Disebut juga: - ekuitas
- modal sendiri
- net worth perusahaan
- shareholders’ equity
Rumus Dasar : Total Equity = Total Assets − Total Liabilities
Artinya: semua aset perusahaan dikurangi seluruh utang, sisanya adalah milik pemegang saham.
Contoh Sederhana, Misalnya: - Total assets = Rp 15 miliar
- Total liabilities = Rp 9 miliar
Maka: 15 − 9 = 6
Jadi: Total equity = Rp 6 miliar
Artinya jika semua aset dijual dan semua utang dibayar, tersisa Rp6 miliar untuk pemilik saham.
Isi Total Equity, Biasanya terdiri dari: - Modal disetor pemegang saham
- Laba ditahan (retained earnings)
- Cadangan perusahaan
- Selisih penilaian aset
Kenapa Equity Penting?
Karena menunjukkan: - kekuatan modal perusahaan
- tingkat kesehatan finansial
- seberapa besar perusahaan dibiayai modal sendiri dibanding utang
Dalam Analisis Saham:
Equity dipakai untuk menghitung:
1. BVPS (Book Value Per Share) = Total Equity : Jumlah Saham
2. ROE (Return on Equity) = Laba Bersih : Total Equity
3. DER (Debt to Equity Ratio) = Total Debt : Total Equity
Hal yang Perlu Diperhatikan : - Equity positif → aset lebih besar dari utang
- Equity negatif → utang melebihi aset (warning/risiko tinggi)
Perusahaan dengan equity kuat biasanya lebih tahan terhadap krisis dan lebih stabil secara finansial.
- Total liabilities & shareholder's equity
Total liabilities & shareholder’s equity adalah:
jumlah seluruh kewajiban (utang) perusahaan + seluruh modal pemegang saham
Istilah ini biasanya muncul di laporan neraca (balance sheet).
Arti Masing-Masing
1. Total Liabilities
Semua utang/kewajiban perusahaan.
Contoh:
utang bank
utang supplier
obligasi
utang pajak
2. Shareholder’s Equity
Hak pemilik/pemegang saham atas perusahaan setelah dikurangi utang.
Contoh:
modal disetor
laba ditahan
cadangan perusahaan
Hubungannya dengan Total Assets
Dalam akuntansi berlaku persamaan: Total Assets=Total Liabilities+Shareholder’s Equity\text{Total Assets} = \text{Total Liabilities} + \text{Shareholder's Equity}Total Assets=Total Liabilities+Shareholder’s Equity
Total Assets=Total Liabilities+Shareholder’s Equity\text{Total Assets} = \text{Total Liabilities} + \text{Shareholder's Equity}Total Assets=Total Liabilities+Shareholder’s Equity
Karena itu:
sisi kiri = seluruh aset perusahaan
sisi kanan = sumber pendanaan aset tersebut
Contoh Sederhana
Perusahaan memiliki:
Kas & aset lain = Rp20 miliar
Sumber dananya:
Utang = Rp12 miliar
Modal pemegang saham = Rp8 miliar
Maka: 20=12+820 = 12 + 820=12+8
20=12+820 = 12 + 820=12+8
Jadi:
Total liabilities & shareholder’s equity = Rp20 miliar
Nilainya harus sama dengan total assets
Kenapa Istilah Ini Penting?
Karena menunjukkan:
dari mana aset perusahaan berasal
berapa porsi utang vs modal sendiri
struktur keuangan perusahaan
Dalam Analisis Saham
Investor melihat:
apakah perusahaan terlalu banyak utang
apakah equity cukup kuat
keseimbangan struktur modal
Jika:
liabilities terlalu besar → risiko tinggi
equity kuat → perusahaan lebih sehat secara finansial
Jadi istilah ini sebenarnya adalah sisi “pendanaan” dari neraca perusahaan.
- Total debt
Total debt adalah jumlah seluruh utang berbunga yang dimiliki perusahaan.
Sederhananya:
Total Debt = Semua pinjaman yang wajib dibayar perusahaan
Biasanya berupa utang yang ada bunga/cicilannya.
Yang Termasuk Total Debt
Utang Jangka Pendek
Pinjaman bank jangka pendek
Current portion of long-term debt
Kredit modal kerja
Utang Jangka Panjang
Pinjaman bank jangka panjang
Obligasi
Leasing pembiayaan
Notes payable
Yang Biasanya TIDAK Termasuk
Beberapa kewajiban operasional sering tidak dihitung sebagai debt, misalnya:
utang gaji
utang pajak
utang supplier (accounts payable)
Karena itu lebih dianggap kewajiban operasional, bukan pinjaman finansial.
Perbedaan:
Total Liabilities vs Total Debt
| Total Liabilities | Total Debt |
|---|---|
| Semua kewajiban | Hanya utang pinjaman |
| Lebih luas | Lebih spesifik |
| Termasuk utang pajak, gaji, supplier | Fokus pada pinjaman berbunga |
Jadi:
Total debt biasanya lebih kecil daripada total liabilities
Contoh
Perusahaan punya:
Obligasi: Rp5 miliar
Pinjaman bank: Rp3 miliar
Utang supplier: Rp1 miliar
Maka:
Total debt = Rp8 miliar
Total liabilities = Rp9 miliar
Dalam Analisis Saham
Total debt sering dipakai untuk menghitung:
DER (Debt to Equity Ratio) DER=Total Debt : Total Equity
Debt Ratio Debt Ratio=Total Debt : Total Assets
Kenapa Penting?
Karena menunjukkan:
beban pinjaman perusahaan
risiko finansial
kemampuan bayar bunga & cicilan
Interpretasi Umum
Debt kecil → lebih aman
Debt besar tapi laba kuat → masih bisa sehat
Debt besar + laba lemah → berisiko
Beberapa sektor memang wajar punya debt besar, seperti:
perbankan
properti
telekomunikasi
infrastruktur
Jadi total debt harus dibandingkan dengan laba, cash flow, dan aset perusahaan juga.
- Net debt
Net debt adalah:
utang bersih perusahaan setelah dikurangi kas dan setara kas
Sederhananya:
Kalau semua uang kas dipakai untuk membayar utang, berapa sisa utangnya?
Rumus Net Debt
Net Debt = Total Debt − Cash & Cash EquivalentsContoh Sederhana
Perusahaan punya:
Total debt = Rp10 miliar
Kas = Rp4 miliar
Maka: 10 − 4 = 6
Jadi: Net debt = Rp6 miliar
Artinya setelah seluruh kas dipakai bayar utang, masih tersisa utang Rp6 miliar.
Kalau Net Debt Negatif?
Misalnya:
Total debt = Rp3 miliar
Kas = Rp5 miliar
Maka: 3−5=−2
Artinya:
perusahaan punya kas lebih banyak daripada utangnya kondisi ini biasanya dianggap sangat kuat secara finansial
Disebut juga:
net cash position
Kenapa Net Debt Penting?
Karena total debt saja kadang menyesatkan.
Contoh:
Utang besar belum tentu bahaya
Bisa jadi perusahaan punya kas sangat besar
Makanya investor sering lebih melihat:
net debt
daripada hanya total debt.
Dalam Analisis Saham
Sering dipakai untuk menghitung:
Net Debt to EBITDA = Net Debt : EBITDA
Rasio ini mengukur:
kemampuan perusahaan melunasi utang dari operasional bisnisnya.
Interpretasi Umum
Net Debt Rendah / Negatif
lebih aman
likuiditas kuat
risiko utang kecil
Net Debt Tinggi
beban finansial besar
lebih sensitif terhadap kenaikan bunga
lebih berisiko saat bisnis melemah
Penting Dipahami
Tidak semua utang buruk.
Banyak perusahaan bagus memakai utang untuk:
ekspansi
bangun pabrik
akuisisi
meningkatkan laba
Yang penting:
cash flow kuat
laba stabil
utang masih terkendali.
- Dividends per share (FY)
Dividends per Share (FY) atau DPS (FY) adalah:
jumlah dividen yang dibagikan perusahaan untuk setiap 1 lembar saham selama 1 tahun buku (Fiscal Year/FY). Sederhananya:
Kalau punya 1 saham, berapa uang dividen yang didapat dalam setahun?
Arti Istilahnya
Dividend = pembagian keuntungan perusahaan
Per Share = per lembar saham
FY (Fiscal Year) = satu tahun buku perusahaan
Rumus DPS DPS=Total Dividen : Jumlah Saham Beredar
Contoh Sederhana
Perusahaan membagikan:
Total dividen = Rp100 miliar
Jumlah saham = 2 miliar lembar
Maka: 100:2=50
Jadi:
DPS = Rp50 per saham
Kalau Anda punya:
10.000 saham
Maka dividen yang diterima: 10.000×50=500.000
Hasilnya:
dividen = Rp500 ribu (belum pajak)
Kenapa DPS Penting?
Karena menunjukkan:
seberapa besar perusahaan membagi keuntungan ke investor
konsistensi pembayaran dividen
potensi pendapatan pasif dari saham
Hubungan dengan Dividend Yield
Dividend yield dihitung dari DPS dibanding harga saham: Dividend Yield=DPSHarga SahamDividend
Contoh:
DPS = Rp100
Harga saham = Rp2.000
Maka: 100 : 2000=5%
Perusahaan membagikan:
Total dividen = Rp100 miliar
Jumlah saham = 2 miliar lembar
Maka: 100:2=50
Jadi:
DPS = Rp50 per saham
Kalau Anda punya:
10.000 saham
Maka dividen yang diterima: 10.000×50=500.000
Hasilnya:
dividen = Rp500 ribu (belum pajak)
Kenapa DPS Penting?
Karena menunjukkan:
seberapa besar perusahaan membagi keuntungan ke investor
konsistensi pembayaran dividen
potensi pendapatan pasif dari saham
Hubungan dengan Dividend Yield
Dividend yield dihitung dari DPS dibanding harga saham: Dividend Yield=DPSHarga SahamDividend
Contoh:
DPS = Rp100
Harga saham = Rp2.000
Maka: 100 : 2000=5%
Hal yang Perlu Diperhatikan
DPS tinggi belum tentu bagus
Karena bisa:
laba sedang turun
dividen tidak berkelanjutan
perusahaan terlalu banyak membagikan uang
DPS stabil & naik bertahap
Biasanya lebih disukai investor jangka panjang karena menunjukkan:
bisnis sehat
cash flow stabil
manajemen baik
Jadi DPS adalah indikator penting bagi investor yang mencari saham dividen.
- Dividends yield (FY) %
- Payout ratio (FY) %
- Closely held shares
- Free float share
DPS tinggi belum tentu bagus
Karena bisa:
laba sedang turun
dividen tidak berkelanjutan
perusahaan terlalu banyak membagikan uang
DPS stabil & naik bertahap
Biasanya lebih disukai investor jangka panjang karena menunjukkan:
bisnis sehat
cash flow stabil
manajemen baik
Jadi DPS adalah indikator penting bagi investor yang mencari saham dividen.
- Dividends yield (FY) %
Dividend Yield (FY) % adalah:
persentase keuntungan dividen tahunan dibanding harga saham saat ini.
Sederhananya:
Jika beli saham sekarang, berapa persen “imbal hasil dividen” yang didapat dalam setahun?
Rumus Dividend Yield : Dividend Yield=(Dividend per Share (DPS) : Harga Saham)×100%
Contoh Sederhana
Misalnya:
Harga saham = Rp2.000
DPS setahun = Rp100
Maka: (100:2000)×100%=5%
Artinya:
investor mendapat potensi hasil dividen sekitar 5% per tahun dari harga saham saat ini.
Arti “FY”
FY = Fiscal Year (tahun buku)
Berarti dividend yield dihitung berdasarkan:
total dividen selama 1 tahun buku perusahaan.
Kenapa Dividend Yield Penting?
Karena membantu investor melihat:
seberapa menarik dividen saham tersebut
potensi pendapatan pasif
perbandingan antar saham dividen
Interpretasi Umum
Yield Rendah
Contoh: 1–2%
biasanya saham growth
laba lebih banyak dipakai ekspansi
Yield Menengah
Contoh: 3–6%
sering dianggap sehat & stabil
Yield Sangat Tinggi
Contoh: >10%
bisa menarik
tapi perlu hati-hati
Karena kadang:
harga saham sedang jatuh
laba menurun
dividen tidak berkelanjutan
Penting Dipahami
Dividend yield bisa naik karena:
Dividen naik ✅
Harga saham turun ⚠️
Contoh:
Dulu harga Rp5.000, DPS Rp100 → yield 2%
Harga turun jadi Rp2.000, DPS tetap Rp100 → yield jadi 5%
Jadi yield tinggi belum tentu perusahaan bagus.
Investor Dividen Biasanya Melihat:
dividend yield
konsistensi pembagian dividen
payout ratio
laba perusahaan
cash flow
utang perusahaan
Karena dividen yang sehat harus didukung bisnis yang sehat juga.
- Payout ratio (FY) %
Payout Ratio (FY) % adalah:
persentase laba perusahaan yang dibagikan sebagai dividen kepada pemegang saham selama 1 tahun buku (Fiscal Year/FY).
Sederhananya:
Dari seluruh keuntungan perusahaan, berapa persen yang dibagikan ke investor?
Rumus Payout Ratio : Payout Ratio=(Total Dividen:Laba Bersih)×100%
Atau bisa juga: Payout Ratio=DPSEPS×100%
Contoh Sederhana
Perusahaan:
laba bersih = Rp100 miliar
dividen dibagikan = Rp40 miliar
Maka: (40:100)×100%=40%
Artinya:
40% laba dibagikan sebagai dividen
60% sisanya disimpan perusahaan
Arti Angka Payout Ratio
Payout Ratio Rendah
Contoh: 20–40%
perusahaan lebih banyak menyimpan laba
biasanya fokus ekspansi/growth
Payout Ratio Sedang
Contoh: 40–70%
sering dianggap sehat & seimbang
Payout Ratio Tinggi
Contoh: >80%
hampir semua laba dibagikan
bisa menarik untuk investor dividen
tapi kadang kurang aman untuk jangka panjang
Kalau >100%?
Artinya:
dividen lebih besar daripada laba
Contoh:
laba Rp50 miliar
dividen Rp70 miliar
Maka payout ratio: (70:50)×100%=140%
Ini bisa berarti:
perusahaan memakai kas lama
laba sedang turun
dividen mungkin tidak berkelanjutan
Kenapa Penting?
Karena membantu melihat:
kualitas dividen
keberlanjutan dividen
strategi perusahaan
Dalam Analisis Saham
Investor dividen biasanya suka perusahaan yang:
laba stabil
payout ratio sehat
rutin membayar dividen
cash flow kuat
Karena:
dividend yield tinggi saja belum cukup
harus dilihat apakah perusahaan mampu terus membayar dividen di masa depan.
OWNERSHIP
- Closely held shares
Closely Held Shares adalah saham perusahaan yang dimiliki oleh pihak internal atau pemegang saham besar dan biasanya tidak aktif diperdagangkan di pasar.
Pemiliknya bisa berupa: - pendiri perusahaan
- direksi.
- keluarga pemilik.
- investor strategis.
- pemerintah.
- institusi tertentu.
Saham ini biasanya “dikunci” untuk kepemilikan jangka panjang, sehingga jumlah saham yang benar-benar beredar di pasar menjadi lebih sedikit.
Contoh:
Sebuah perusahaan memiliki: total saham = 10 miliar lembar
Tetapi: 6 miliar dimiliki pendiri
1 miliar dimiliki pemerintah
Maka: 7 miliar saham termasuk closely held shares.
Sisa yang aktif diperdagangkan publik disebut: - public float, atau
- free float
Kenapa penting? Karena closely held shares memengaruhi: - likuiditas saham.
- pergerakan harga.
- volatilitas.
Jika closely held shares terlalu besar: - saham yang beredar di pasar sedikit.
- harga bisa lebih mudah naik turun.
- spread bid-ask bisa lebar
Sebaliknya: free float besar biasanya membuat saham:
- lebih likuid
- lebih stabil
- lebih mudah diperdagangkan investor besar
Hubungan dengan Free Float:
Secara sederhana: Free Float =Total Saham − Closely Held Shares
Contoh: - Total saham = 10 miliar
- Closely held = 7 miliar
Maka: 10 − 7 = 3
Artinya: Hanya 3 miliar saham yang aktif beredar di publik.
Investor biasanya memperhatikan ini karena:
- saham free float kecil lebih mudah digerakkan bandar/spekulan
- likuiditas bisa rendah
- volatilitas lebih tinggi
Tetapi: closely held shares besar juga bisa berarti: - pemilik percaya pada bisnisnya
- insider memiliki komitmen jangka panjang
Jadi perlu dianalisis bersama faktor lain.
Istilah terkait: - Insider Ownership.
- Public Float.
- Free Float.
- Shares Outstanding.
- Free float share
Free Float Shares adalah jumlah saham perusahaan yang benar-benar tersedia dan aktif diperdagangkan oleh publik di pasar saham.
Artinya: ini adalah saham yang bisa dibeli dan dijual investor umum.
Free float tidak termasuk saham yang dimiliki: - pendiri perusahaan
- direksi/komisaris
- pemerintah
- investor strategis
- saham yang dikunci jangka panjang
Karena saham tersebut biasanya tidak aktif diperdagangkan.
Rumus sederhananya: Free Float = Total Saham Beredar − Closely Held Shares
Contoh: - Total saham beredar = 10 miliar
- Saham milik pendiri & investor strategis = 7 miliar
Maka: 10−7=3
Artinya: Free float perusahaan adalah 3 miliar saham.
Biasanya juga ditampilkan dalam persen:
Free Float % = Free Float x Total Saham Beredar × 100%
Contoh: - Free float = 3 miliar
- Total saham = 10 miliar
Maka: 310×100%=30%
Artinya: 30% saham tersedia untuk diperdagangkan publik.
Kenapa free float penting? Karena memengaruhi: - likuiditas saham.
- volatilitas harga.
- kemudahan transaksi.
Jika free float kecil: - saham lebih mudah digerakkan.
- harga bisa sangat volatile.
- likuiditas rendah.
Jika free float besar: - perdagangan lebih stabil.
- volume lebih besar.
- lebih disukai investor institusi.
Saham free float kecil sering disebut: - saham gorengan.
- saham tipis.
Karena lebih mudah dimanipulasi.
Tetapi: free float kecil tidak selalu buruk.
Kadang: - pemilik mayoritas memang sangat yakin dengan bisnisnya
- insider ownership tinggi
Hubungan penting: - Shares Outstanding = total saham
- Closely Held Shares = saham yang “dikunci”
- Free Float = saham yang aktif di publik
Di Bursa Efek Indonesia, perusahaan wajib memiliki minimum free float tertentu agar tetap tercatat di bursa.
Investor biasanya menyukai saham dengan: - free float cukup besar
- volume transaksi tinggi
- likuiditas baik