Bacalah Selalu !!

Bismillahirrahmanirrahiim ... Alhamdulillah was sholaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan penindasan orang lain." (HR. Abu Dawud). Ya Allah, semoga tindakan yang kami ambil hari ini didasari ilmu, bukan emosi. Jadikan hasilnya yang Engkau ridhoi untuk masa depan kami. Aamiin.

Selasa, 07 April 2026

Materi Sharing 12 : Jika Kita Membeli Saham Mengikuti Keranga Investas Vaguard Group, Tapi Dalam 2 Tahun Ke Depan IHSG Terus Turun, Apa Yang Akan Terjadi ?

Selamat malam, teman2.

Setelah pada malam kemarin sy membahas kerangka investasi dari Vanguard Group, sy menerima bnyk sekali pertanyaan dari teman2 semua.

Dan dari berbagai pertanyaan tersebut, ada satu arah yg paling sering muncul, yg pada dasarnya mengarah pada satu pertanyaan inti.

Yaitu, apakah metode ini terlalu bergantung pada kondisi pasar yg harus naik terlebih dahulu, baru kemudian investor bisa benar2 mendapatkan keuntungan?

Pak Sutanto , selamat malam, lagi nunggu sharing bpk malam ini.

Iya bener, ini yg memang sy pengen pahami.

Sebagai contoh, ada teman yg menyampaikan bahwa pada contoh yg sy gunakan semalam, periode waktu yg dipilih kebetulan berada di posisi pasar saham yg relatif rendah.

Dalam kondisi seperti ini, seolah-olah metode apapun yg digunakan, selama pasar kemudian memasuki fase kenaikan, maka akan relatif mudah utk memperoleh hasil yg cukup baik.

Dan justru krna hal tersebut, bnyk teman secara alami mulai memiliki kekhawatiran.

Jika metode ini tidak dimulai dari posisi rendah, melainkan baru digunakan setelah pasar sudah mengalami kenaikan dalam periode tertentu, apakah hasilnya masih tetap dapat berlaku dengan konsisten?

Terus terang, pada saat sy melakukan sharing semalam, sy sudah sepenuhnya memahami bahwa pertanyaan ini pasti akan muncul, krna ini memang merupakan reaksi paling awal yg secara naluriah dimiliki oleh sebagian besar investor ketika pertama kali mengenal kerangka investasi jangka panjang.

Secara tidak sadar, banyak orang akan selalu beranggapan bahwa sumber utama dari keuntungan investasi pasti berasal dari “beli di titik rendah, jual di titik tinggi”.

Oleh krna itu, setiap kali kita membahas suatu metode yg diklaim efektif dlm jangka panjang, hal pertama yg akan dipikirkan adalah apakah metode ini benar2 efektif krna metodenya sendiri, atau sebenarnya hanya krna kebetulan membeli di posisi yg tepat?

Pertanyaan ini wajar banget, bnyk orang kalo liat hasil bagus, refleks pertama pasti mikir jangan2 cuma kebetulan beli di titik bawah.

Pak Sutanto kali ini langsung bahas keraguan paling dasar yg biasa muncul, itu emg penting banget 👍

Kecemasan soal titik beli itu emg bnyk banget yg ngalamin.

Namun, alasan mengapa semalam sy tidak langsung membahas pertanyaan ini secara menyeluruh bukanlah karena pertanyaan ini tidak penting, justru sebaliknya, krna pertanyaan ini sangat penting. Dan tujuan utama sy semalam adalah ingin terlebih dahulu membantu kalian memahami kerangka investasi Vanguard Group secara paling dasar dan sistematis.

Artinya, kita perlu terlebih dahulu menjelaskan dengan jelas logika dasar dari metode ini, agar kalian benar2 mengerti apa yg sebenarnya dilakukan oleh metode ini, serta bergantung pada apa utk memperoleh pendapatan jangka panjang.

Krna jika sejak awal semua dinamika dalam investasi nyata, berbagai fase pasar, serta penyesuaian strategi langsung dimasukkan sekaligus, maka banyak teman justru akan kehilangan arah utama sejak awal dan tidak bisa melihat dengan jelas inti sebenarnya dari metode ini.

Dan pada malam ini, sy akan melanjutkan pembahasan dengan lebih fokus pada berbagai pertanyaan praktis yg paling kalian perhatikan, serta memberikan penjelasan yg lebih mendalam. Krna sy memahami bahwa dalam praktik investasi yg sebenarnya, tidak pernah cukup hanya mengandalkan satu contoh statis utk menjelaskan semuanya.

Di dalam pasar yg nyata, situasi yg akan kita hadapi jauh lebih kompleks dibandingkan apa yg terlihat di permukaan. Sebagai contoh, banyak teman saat ini hanya memikirkan apakah mereka membeli di titik rendah sebagai persoalan utama. Namun dalam praktik investasi yg sebenarnya, kompleksitasnya jauh melampaui hal tersebut.

Selain itu, kita juga akan menghadapi berbagai pertanyaan yg lebih mendalam. Misalnya, perusahaan2 dengan kapitalisasi pasar terbesar saat ini, apakah di masa depan masih akan mampu mempertahankan posisi unggulnya?

Mungkin hari ini mereka adalah yg terkuat di pasar, paling diminati oleh aliran dana, serta menjadi perusahaan pemimpin yg paling representatif. Namun seiring dengan perubahan industri, pembaruan teknologi, serta perubahan kebijakan, sangat mungkin sebagian perusahaan dalam beberapa tahun ke depan justru perlahan kehilangan posisi unggulnya.

Bahkan, akibat penurunan kinerja dan melemahnya daya saing, harga sahamnya bisa terus menurun, hingga tidak lagi termasuk dalam kategori perusahaan besar yg sesungguhnya. Selain itu, kita juga akan menghadapi berbagai pertanyaan yg lebih mendalam. Misalnya, perusahaan2 dengan kapitalisasi pasar terbesar saat ini, apakah di masa depan masih akan mampu mempertahankan posisi unggulnya?

Mungkin hari ini mereka adalah yg terkuat di pasar, paling diminati oleh aliran dana, serta menjadi perusahaan pemimpin yg paling representatif. Namun seiring dengan perubahan industri, pembaruan teknologi, serta perubahan kebijakan, sangat mungkin sebagian perusahaan dalam beberapa tahun ke depan justru perlahan kehilangan posisi unggulnya.

Bahkan, akibat penurunan kinerja dan melemahnya daya saing, harga sahamnya bisa terus menurun, hingga tidak lagi termasuk dalam kategori perusahaan besar yg sesungguhnya.

Sebaliknya, akan ada juga sebagian perusahaan yg sebelumnya tidak terlalu menonjol, namun di masa depan, karena terobosan dalam model bisnis, peningkatan prospek industri, atau dorongan dari revolusi teknologi, mampu berkembang dengan sangat cepat dalam waktu yg relatif singkat.

Bahkan, mereka bisa tumbuh menjadi perusahaan besar baru dan masuk ke posisi paling inti dalam seluruh pasar. Dan situasi seperti ini, dalam praktik investasi nyata, adalah hal yg pasti akan kita temui.

Jadi, hal yg benar2 menentukan apakah metode ini efektif bukanlah karena kita kebetulan membeli di satu titik waktu lalu pasar langsung naik.

Melainkan, ketika pasar itu sendiri berubah, perusahaan2 besar berubah, dan struktur industri juga ikut berubah, apakah kerangka ini tetap memiliki kemampuan beradaptasi.

Apakah metode ini tetap mampu membuat investor terus berada di sisi aset yg paling optimal. Inilah yg menjadi fokus utama yg akan kita bahas pada malam ini.

Perusahaan top itu nggak bakal selamanya sama, ini emg realita yg harus dihadapi di investasi jangka panjang.

Jadi metode itu berguna atau nggak, bukan dilihat dari satu tahun naik atau nggak, tapi dari apakah setelah struktur berubah, cara itu masih tetap efektif.

Intinya ada di kemampuan adaptasi terhadap perubahan.

Nah ini yg bener2 jadi poin paling penting.

Oleh krna itu, pada bagian berikutnya, sy akan menyusun pembahasan ini berdasarkan dua arah utama, agar kalian mendapatkan pemahaman yg lebih menyeluruh. Arah pertama adalah menjelaskan mengapa kerangka investasi Vanguard Group tidak bergantung pada kemampuan kalian utk memilih satu titik waktu yg sempurna.

Artinya, sy akan fokus membuktikan kepada kalian bahwa metode ini, pada prinsipnya, dapat diterapkan di posisi maupun fase pasar apa pun. Sumber keuntungannya bukan berasal dari satu kali pembelian yg sangat presisi di titik terendah, melainkan dari kepemilikan jangka panjang atas aset unggulan, serta pertumbuhan alami pasar yg cenderung bergerak naik dalam jangka panjang.

Arah kedua adalah setelah kita benar2 melakukan pembelian, bagaimana kita melakukan penyesuaian secara rasional seiring dengan perubahan pasar. Krna investasi jangka panjang sama sekali bukan berarti setelah membeli lalu tidak memahami apa pun dan tidak memikirkan apa pun.

Investasi jangka panjang yg sesungguhnya adalah, di bawah premis bahwa arah utama tetap tidak berubah, kita mampu memahami perubahan struktur pasar, memahami pola pergantian perusahaan besar, serta memahami mana penyesuaian yg harus dipertahankan dan mana perubahan yg perlu dioptimalkan.

Hanya dengan menjelaskan bagian ini secara jelas, barulah kalian benar2 dapat menerapkan metode ini ke dalam akun kalian sendiri, bukan sekadar berhenti pada tahap memahami konsep saja.

Inti investasi Vanguard Group itu pegang aset unggulan dalam jangka panjang.

Oke, sy bakal belajar dengan serius.

Oleh krna itu, pada malam ini kita akan memulai pembahasan dari satu pertanyaan yg paling krusial, yaitu bagaimana membuktikan bahwa metode ini tidak bergantung pada timing.

Mengapa metode ini dapat tetap berlaku kapan pun kita memulainya. Krna hanya jika poin ini benar2 dipahami secara mendalam, kalian tidak akan lagi terus-menerus ragu setiap kali hendak berinvestasi, seperti mempertanyakan apakah skrg sudah terlalu tinggi, apakah harus menunggu lagi, atau apakah harus menunggu pasar turun terlebih dahulu baru mulai masuk.

Dan begitu km memahami apa yg sebenarnya menjadi dasar dari metode ini, km akan menyadari bahwa dalam investasi jangka panjang yg benar2 efektif, faktor waktu bukanlah inti yg paling utama.

Yang paling penting adalah berada di sisi aset yg tepat, dan mampu mempertahankan posisi tersebut dalam jangka panjang. Maka selanjutnya, sharing kita malam ini akan resmi dimulai.

Di sini sy ingin terlebih dahulu memberikan satu penjelasan. Agar konsistensi dalam pembahasan kita terjaga, maka pada bagian berikutnya, setiap kali kita menyebut harga saham, seluruhnya akan menggunakan harga penutupan kemarin, yaitu tanggal 8 April, sebagai acuan.

Krna sebelumnya kita memang melakukan perhitungan berdasarkan acuan tersebut. Selanjutnya, terkait dengan pemilihan waktu, kita bisa melihat bahwa setelah dampak pandemi pada tahun 2020 mereda, harga saham sejak tahun 2022 hingga dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, pada dasarnya bergerak di kisaran 6000–7000.

Dengan kata lain, jika dilihat dari posisi harga pasar saat ini, dalam 4 tahun terakhir hampir tidak terjadi kenaikan yg signifikan.

Bbca、bbri、tlkm、bmri、asii、bbni、unvr、pgas、indf、adro、cpin、ggrm、bnli、ptba、antm、itmg、untr、excl、dnet、tpia

Maka jika kita kembali ke tanggal 3 Januari 2022, pada saat itu IHSG berada di level 6585 poin.

Di sini terdapat 2 hal penting yg perlu kita perhatikan:

1. Dalam periode 2022 hingga 2025, pasar saham secara keseluruhan menunjukkan pergerakan yg cenderung berfluktuasi dan melemah.

2. Pada tanggal 3 Januari 2022, terdapat 20 perusahaan dengan kapitalisasi terbesar, yaitu BBCA, BBRI, TLKM, BMRI, ASII, BBNI, UNVR, PGAS, INDF, ADRO, CPIN, GGRM, BNLI, PTBA, ANTM, ITMG, UNTR, EXCL, DNET, dan TPIA.

Jika kita bandingkan dengan 20 perusahaan saat ini, yaitu BBCA, BREN, DSSA, BBRI, BMRI, TPIA, BYAN, AMMN, TLKM, ASII, PANI, BBNI, DNET, BRPT, CUAN, UNTR, BNLI, BRMS, BRIS, dan ANTM, maka perubahannya terlihat sangat signifikan.

Secara keseluruhan, terdapat 10 perusahaan yg dalam beberapa tahun terakhir mengalami perubahan valuasi yg sangat besar.

Pasar bisa ganti arah utama dan ganti saham unggulan, tapi metode yg bagus harus bisa ikut menyesuaikan perubahan itu.

Justru di pasar yg lagi naik turun kita baru tau metode itu beneran efektif nggk

Maka skrg, untuk sementara kita tidak membahas perubahan pada saham-saham tersebut. Kita terlebih dahulu menggunakan harga saham pada April 2022, lalu menerapkan kerangka investasi Vanguard untuk melakukan investasi.

Dan kita juga mengetahui bahwa pada April 2022, pasar saham sebenarnya berada pada posisi yg relatif tinggi. Selain itu, dalam dua tahun setelahnya, pasar saham hampir terus mengalami penurunan.

Oleh karena itu, jika berinvestasi pada saat itu, setidaknya dari sudut pandang IHSG, probabilitas mengalami kerugian tergolong cukup besar.

Hal ini sy rasa dapat disepakati oleh kita semua.

Maka berikut adalah harga beli kita pada saat itu:

BBCA: 7050
BBRI: 3690
TLKM: 3680
BMRI: 3180
ASII: 4860
BBNI: 3190
UNVR: 3060
PGAS: 965
INDF: 5125
ADRO: 955
CPIN: 5275
GGRM: 26425
BNLI: 1240
PTBA: 1515
ANTM: 2040
ITMG: 13900
UNTR: 15850
EXCL: 2260
DNET: 3170
TPIA: 2510

Maka seiring berjalannya waktu, kita masuk ke bulan Juli. Kita bisa melihat bahwa pada tahun 2022, ketika IHSG turun dari 7200 poin ke 6600 poin, setelah kita membeli saham di posisi puncak pada bulan April, harga saham-saham tersebut kini telah berubah menjadi:

BBCA: 6375
BBRI: 3270
TLKM: 3360
BMRI: 3170
ASII: 4920
BBNI: 3030
UNVR: 4040
PGAS: 1175
INDF: 6050
ADRO: 1060
CPIN: 5725
GGRM: 20750
BNLI: 1165
PTBA: 2060
ANTM: 1515
ITMG: 16675
UNTR: 18025
EXCL: 2270
DNET: 3350
TPIA: 2240

Berikut adalah persentase kenaikan dan penurunannya:

BBCA -9.57%
BBRI -11.38%
TLKM -8.70%
BMRI -0.31%
ASII +1.23%
BBNI -5.02%
UNVR +32.03%
PGAS +21.76%
INDF +18.05%
ADRO +10.99%
CPIN +8.53%
GGRM -21.48%
BNLI -6.05%
PTBA +35.97%
ANTM -25.74%
ITMG +19.96%
UNTR +13.72%
EXCL +0.44%
DNET +5.68%
TPIA -10.76%

Saham dengan kinerja terbaik sebanyak 5 adalah:

PTBA +35.97%
UNVR +32.03%
PGAS +21.76%
ITMG +19.96%
INDF +18.05%

Saham dengan kinerja terburuk sebanyak 5 adalah:

ANTM -25.74%
GGRM -21.48%
BBRI -11.38%
TPIA -10.76%
BBCA -9.57%

Jumlah saham yg memperoleh keuntungan adalah 11, sedangkan yg mengalami kerugian sebanyak 9, dengan rata2 perubahan sebesar +3.47%。

Kalo dihitung kayak gini, ujungnya tetep untung.

Jadi investasi jangka panjang, selama pilih saham unggulan, tetap bisa menghasilkan profit.

Di sini mungkin ada teman yg akan bertanya, sy selama ini terus menekankan bahwa kerangka investasi Vanguard pasti menghasilkan keuntungan, namun dalam periode 3 bulan ini, bahkan 4% pun tidak tercapai, lalu apa sebenarnya makna dari metode ini?

Maka di sini sy ingin menegaskan satu hal, yaitu dalam 3 bulan tersebut, di satu sisi pasar saham memang terus mengalami penurunan, hal ini sy rasa bisa dilihat dengan jelas oleh semua. Di sisi lain, asumsi yg kita gunakan kali ini sepenuhnya dibangun di atas kondisi bahwa harga beli berada di posisi yg relatif tinggi.

Jika kita melanjutkan kepemilikan hingga Oktober 2022, pada saat itu pasar dibandingkan dengan fase terendah di bulan Juli sudah mengalami rebound tertentu. IHSG secara keseluruhan telah kembali ke kisaran sekitar 7000 poin.

Dan harga saham yg kita miliki juga berubah menjadi:

BBCA: 7375
BBRI: 3540
TLKM: 3740
BMRI: 3760
ASII: 4900
BBNI: 3470
UNVR: 4110
PGAS: 1290
INDF: 5375
ADRO: 1460
CPIN: 5375
GGRM: 16300
BNLI: 1105
PTBA: 2240
ANTM: 1605
ITMG: 22550
UNTR: 20825
EXCL: 2130
DNET: 3710
TPIA: 2390

Persentase kenaikan dan penurunannya adalah sebagai berikut:

BBCA +4.61%
BBRI -4.07%
TLKM +1.63%
BMRI +18.24%
ASII +0.82%
BBNI +8.78%
UNVR +34.31%
PGAS +33.68%
INDF +4.88%
ADRO +52.88%
CPIN +1.90%
GGRM -38.32%
BNLI -10.89%
PTBA +47.85%
ANTM -21.32%
ITMG +62.23%
UNTR +31.39%
EXCL -5.75%
DNET +17.03%
TPIA -4.78%

Saat ini, portofolio saham ini sudah berubah, di mana terdapat 13 saham yg mengalami kenaikan dan hanya 7 saham yg mengalami penurunan. Pada saat yg sama, tingkat keuntungan juga telah meningkat dari sebelumnya +3.47% menjadi 11.76%.

Artinya, seiring dengan rebound ringan IHSG, peningkatan tingkat keuntungan juga terjadi dengan sangat cepat. Dan perlu kalian pahami, ini masih dalam kondisi belum memperhitungkan dividen.

Jika dividen turut diperhitungkan, maka tingkat keuntungan tentu akan meningkat lebih lanjut.

Dari sini keliatan jelas, porto investasi itu bukan buat cuan cepat dalam 3 bulan, tapi nunggu momentum rebound buat pelan2 memperlebar profit.

Bnyk orang ngerasa awalnya cuannya lambat, tp begitu pasar mulai pulih, kenaikan profitnya sebenernya bisa cepet banget.

Belum termasuk dividen juga tuh 😂

Selanjutnya kita lanjutkan. Ketika waktu memasuki Juli 2023, pada saat itu kalian juga bisa melihat bahwa IHSG telah mencapai titik rendah dalam satu fase tertentu.

Pada kondisi tersebut, harga saham dalam portofolio kita juga mengalami perubahan menjadi:

BBCA: 8075
BBRI: 4600
TLKM: 3520
BMRI: 4340
ASII: 5525
BBNI: 3710
UNVR: 3670
PGAS: 1075
INDF: 6125
ADRO: 1000
CPIN: 5075
GGRM: 23275
BNLI: 940
PTBA: 2050
ANTM: 1595
ITMG: 17500
UNTR: 18925
EXCL: 1740
DNET: 4200
TPIA: 2100

Di sini kita terlebih dahulu mencatat harga pada titik terendah tersebut, kemudian menghitung perubahan harga dibandingkan dengan harga beli pada April 2022.

Hasilnya adalah sebagai berikut:
BBCA +14.54%
BBRI +24.66%
TLKM -4.35%
BMRI +36.48%
ASII +13.68%
BBNI +16.30%
UNVR +19.93%
PGAS +11.40%
INDF +19.51%
ADRO +4.71%
CPIN -3.79%
GGRM -11.92%
BNLI -24.19%
PTBA +35.31%
ANTM -21.81%
ITMG +25.90%
UNTR +19.40%
EXCL -23.01%
DNET +32.49%
TPIA -16.33%

Selanjutnya, kita terlebih dahulu melakukan pengurutan terhadap perubahan harga tersebut. Hasilnya adalah sebagai berikut:

BMRI +36.48%
PTBA +35.31%
DNET +32.49%
ITMG +25.90%
BBRI +24.66%
UNVR +19.93%
INDF +19.51%
UNTR +19.40%
BBNI +16.30%
BBCA +14.54%
ASII +13.68%
PGAS +11.40%
ADRO +4.71%
CPIN -3.79%
TLKM -4.35%
GGRM -11.92%
TPIA -16.33%
ANTM -21.81%
EXCL -23.01%
BNLI -24.19%

Melalui pengurutan kenaikan dan penurunan saham, kita dapat melihat bahwa dibandingkan sebelumnya sektor energi dan pertambangan yg berada di posisi terdepan, kini sektor perbankan sudah mengalami rotasi dan mengambil alih posisi tersebut.

Selain itu, berdasarkan perhitungan harga dalam dua tahun ini, bahkan jika kita menggunakan asumsi terburuk, yaitu membeli di titik tertinggi dan menjual di titik terendah, hasilnya tetap menunjukkan bahwa terdapat 13 saham yg mengalami kenaikan dan hanya 7 saham yg mengalami penurunan. Dan rata2 kenaikannya pun masih dapat mencapai sekitar 7.5%.

Dan skrg kita sudah melakukan pencatatan harga pada beberapa titik kunci, maka pada tahap ini kita bisa membuat satu rangkuman.

Pertama, pada saat kita mulai berinvestasi, IHSG berada di level relatif tinggi di 7200.

Pada kondisi tersebut, jika kita asumsikan nilai investasi awal adalah 100, maka setelah 3 bulan pasar saham terus berfluktuasi dan mengalami penurunan hingga IHSG turun ke 6600, tingkat pengembalian kita adalah sebesar 3.47%, atau menjadi 103.47.

Kalo pakai skenario terburuk sekalipun, ternyata hasilnya masih 13 saham naik dan 7 saham turun.👍

Pergerakan rotasi di sektor bank kali ini emg krusial banget.

Selanjutnya, seiring dengan pasar saham dalam beberapa bulan berikutnya mengalami rebound kecil, IHSG kembali naik ke kisaran 7000, dan pada tahap ini tingkat pengembalian kita meningkat menjadi 11.76%, sehingga nilai investasi menjadi 111.76. 
 
Namun sepanjang tahun 2023, IHSG pada dasarnya berada dalam tren penurunan yg cukup besar, bahkan sempat mencapai titik terendah secara bertahap pada Juli 2023. 

Meskipun demikian, tingkat pengembalian kita tetap dapat bertahan secara stabil di sekitar 7.5%. Dan dalam kondisi belum memperhitungkan dividen, nilai aset kita masih berada di angka 107.5.

Meskipun jika dibandingkan dengan nilai investasi awal sebesar 100 pada April 2022, tingkat pengembaliannya terlihat sangat rendah, namun perlu kalian pahami bahwa ini adalah hasil perhitungan dalam kondisi pasar yg paling ekstrem. Dan dari hasil ini, sy yakin semua bisa memahami satu hal dengan jelas. 
 
Yaitu, meskipun kita membeli di titik tertinggi, selama kita mampu bersabar dan tetap memegang saham2 perusahaan besar tersebut, bahkan ketika pasar saham mengalami penurunan besar selama dua tahun berturut2, tanpa memperhitungkan dividen yg diperoleh selama periode tersebut, kita tetap masih berada dalam kondisi keuntungan secara pembukuan.

Oleh krna itu, mengapa kerangka investasi Vanguard Group tidak bergantung pada kemampuan kita utk memilih titik waktu yg sempurna, sy rasa kalian sudah bisa mendapatkan jawabannya sendiri. 
 
Dan sy juga bisa dengan tegas menyampaikan bahwa kesimpulan ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga sepenuhnya berlaku di pasar saham Singapura. Di pasar saham Singapura, bahkan jika km membeli di titik tertinggi pada tahun 2022, lalu menahannya hingga ke fase terendah di tahun 2024, km tetap tidak akan mengalami kerugian. 
 
Jika kalian tertarik, kalian bisa mencoba sendiri mengambil data saham di Singapura, lalu menggunakan metode yg sy bagikan malam ini utk melakukan analisis ulang.

2 tahun berturut2 pasar kayak gini naik turun, tapi portofolio masih bisa tetap profit, ini aja udh cukup nunjukkin kualitasnya.

Bnyk orang selalu takut salah timing masuk, padahal yg lebih penting itu jangan sampai salah arah.

Terakhir, ada satu pemahaman paling krusial yg harus benar2 kalian pahami terlebih dahulu. Yaitu, mengapa metode investasi seperti Vanguard ini, bahkan ketika pasar mengalami penurunan lebih dari 10%, masih bisa tetap relatif stabil, bahkan dalam beberapa kondisi masih mampu menghasilkan sedikit keuntungan. 
 
Hal ini bukan karena kita berhasil memprediksi pasar dengan tepat. Melainkan karena sejak awal, metode investasi ini sudah menggunakan logika yg sepenuhnya berbeda dibandingkan dengan cara kebanyakan orang memahami investasi saham.

Dalam pemahaman sebagian besar orang, apa itu investasi saham? Adalah memilih saham, menilai sektor industri, memprediksi naik atau turunnya harga, serta menentukan titik beli dan jual. 
 
Dengan kata lain, banyak orang sebenarnya sedang melakukan satu hal: Apakah sy bisa memilih saham yg akan naik?

Namun investasi ala Vanguard pada dasarnya tidak melakukan hal tersebut. Metode ini bukan berusaha memilih siapa yg akan menjadi pemenang di pasar, melainkan langsung memiliki keseluruhan pasar itu sendiri. 
 
Perbedaan ini sangat krusial. Ketika kamu memilih saham, kamu harus menghadapi berbagai pertanyaan seperti: sektor mana yg akan naik, perusahaan mana yg lebih unggul, dan kapan waktu yg paling tepat untuk masuk.

Namun ketika kamu memilih untuk memiliki pasar secara keseluruhan, kamu tidak lagi perlu menjawab pertanyaan2 tersebut. Karena kamu menerima satu asumsi yg lebih mendasar, yaitu bahwa pasar itu sendiri dalam jangka panjang cenderung bergerak naik. 
 
Lalu dari mana logika kenaikan jangka panjang ini berasal? Banyak orang menganggap ini hanyalah penilaian berdasarkan pengalaman, padahal sebenarnya di baliknya terdapat dasar yg sangat jelas dan terstruktur.

Dulu kalo pilih saham, sy selalu mikirnya cuma apakah saham ini bakal naik dalam waktu dekat.😅

Jika kita melihat dari struktur ekonomi yg paling dasar, dalam setiap negara yg beroperasi secara normal, terdapat satu fenomena yg hampir tidak dapat dihindari. Yaitu, jumlah uang beredar akan terus mengalami ekspansi dalam jangka panjang. Atau yg biasa kita kenal sebagai pertumbuhan berkelanjutan dari M1 dan M2.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena negara perlu berkembang, pembangunan infrastruktur membutuhkan investasi, perusahaan membutuhkan pendanaan, dan ekonomi perlu terus bertumbuh. Dan cara utama untuk mendorong semua itu adalah melalui kredit dan utang, yaitu dengan menyalurkan lebih banyak likuiditas ke dalam pasar.

Hal ini membawa satu konsekuensi yg sangat penting. Jumlah uang akan terus bertambah. Namun di saat yg sama, sumber daya di dunia nyata seperti tanah, energi, perusahaan unggulan, dan aset2 langka, pertumbuhannya jauh lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah uang. 
 
Bahkan dalam banyak kondisi, sumber daya unggulan tersebut pada dasarnya bersifat terbatas dan relatif langka.

Maka terbentuklah satu logika yg sangat sederhana namun sangat inti. Ketika jumlah uang terus bertambah, sementara aset berkualitas tidak bertambah secara seimbang, maka harga aset tersebut pasti akan naik. 
 
Dengan kata lain, bukan aset yg menjadi lebih mahal, melainkan nilai uang yg semakin menurun. Inilah juga alasan mengapa dalam pengamatan jangka panjang, kita akan melihat bahwa harga properti cenderung naik, harga emas cenderung naik, dan saham2 unggulan juga cenderung mengalami kenaikan dalam jangka panjang.

Kesamaan di antara aset2 tersebut bukan terletak pada permintaan dan penawaran jangka pendek, melainkan karena semuanya merefleksikan dampak dari pelemahan nilai uang. 
 
Dan di antara semua jenis aset, saham memiliki satu keunggulan yg sangat khusus. 
Saham merepresentasikan perusahaan itu sendiri. 
 
Lalu apa itu perusahaan? Perusahaan adalah entitas yg mampu menghasilkan keuntungan, memiliki struktur yg bisa meneruskan kenaikan biaya, serta mampu menaikkan harga di tengah kondisi inflasi.

Terutama perusahaan2 besar. Mereka memiliki kekuatan penetapan harga yg lebih kuat, arus kas yg lebih stabil, serta posisi yg lebih tinggi dalam industrinya. 
 
Oleh krna itu, ketika daya beli uang menurun, dana secara alami akan berpindah dari bentuk tunai menuju aset. Dan di antara berbagai jenis aset, pasar saham merupakan salah satu tempat paling langsung dalam menyerap aliran dana tersebut. 
 
Hal ini krna pasar saham memiliki likuiditas yg tinggi, hambatan masuk yg rendah, serta mampu merepresentasikan keseluruhan kondisi ekonomi.

Inilah alasan mengapa kita akan melihat satu fenomena jangka panjang. Selama suatu negara masih berkembang secara ekonomi, pasar sahamnya dalam jangka panjang pasti akan bergerak naik. 
 
Meskipun di tengah proses tersebut akan muncul krisis, perang, perubahan kebijakan, maupun kepanikan sentimen pasar. Namun semua itu hanyalah fluktuasi yg bersifat sementara, bukan akhir dari tren utama.

Ekspansi uang itu emg jadi hal yg wajar dalam jangka panjang, jadi aset sumber daya yg bagus sama perusahaan unggulan pasti bakal makin diburu investor.

Emas, properti, sama saham keliatannya beda, tp sebenernya sama2 jadi tempat nampung dampak dari pelemahan nilai uang.

Jadi selama ekonomi suatu negara masih berkembang, pasar saham dalam jangka menengah-panjang itu emg punya peluang besar buat naik.

Aset yg bagus emg bakal makin lama makin mahal.

Oleh krna itu, kita kembali ke pertanyaan awal. Mengapa metode investasi Vanguard tidak perlu memprediksi pasar? Krna sejak awal, metode ini tidak bertaruh pada bagian mana yg akan naik. 
 
Yang dilakukan adalah selama pasar dalam jangka panjang terus naik, maka kita akan tetap berada di dalamnya. Inilah perbedaan mendasar antara memiliki pasar dan memilih saham. Memilih saham berarti kamu sedang bersaing dengan orang lain, sedangkan memiliki pasar berarti kamu mengikuti tren.

Dan justru karena itu, ketika pasar dalam jangka pendek turun 10% atau 20%, bagi orang yg memilih saham, itu adalah risiko, sedangkan bagi mereka yg memiliki pasar, itu hanyalah fluktuasi. 
 
Karena yg mereka perhatikan bukanlah apakah besok akan naik atau apakah minggu depan akan rebound, melainkan apakah 10 tahun ke depan pasar ini masih ada dan apakah skalanya akan menjadi lebih besar.

Oleh krna itu, kalian harus benar2 memahami satu hal. Alasan mengapa logika investasi Vanguard dapat berlaku bukan karena metode ini lebih “cerdas”, melainkan karena ia berada pada posisi yg paling tidak membutuhkan kecerdasan. 
 
Metode ini tidak bergantung pada penilaian, tidak bergantung pada prediksi, dan juga tidak bergantung pada sentimen. Ia hanya bergantung pada satu fakta paling mendasar: jumlah uang terus bertambah, aset unggulan menjadi semakin mahal, dan pasar dalam jangka panjang cenderung bergerak naik. 
 
Dan ketika kalian benar2 memahami hal ini, kalian akan mulai menyadari bahwa inti dari investasi bukanlah mencari peluang, melainkan berdiri di arah yg benar.

Maka skrg, jika kalian sudah memahami poin ini dengan jelas, sy yakin besok malam, saat kita membahas bagaimana setelah benar2 melakukan pembelian lalu melakukan penyesuaian secara rasional mengikuti perubahan pasar, akan menjadi jauh lebih mudah untuk dipahami. 
 
Inilah juga alasan mengapa sebelumnya sy meminta kalian untuk mencatat titik harga terendah di tahun 2023. Karena hal tersebut akan menjadi faktor kunci dalam pembahasan besok malam, yaitu bagaimana menggunakan kerangka investasi Vanguard untuk memaksimalkan hasil investasi. 
 
Sampai di sini dulu sharing kita malam ini, kita lanjutkan kembali besok.