Selamat malam semuanya,
Pertama-tama, sy ingin menyampaikan apresiasi atas dukungan kalian selama ini. Justru karena kalian terus aktif bertanya, berdiskusi, serta memberikan feedback terkait kondisi pasar di dalam grup, sistem AI yg kita gunakan bisa terus mengumpulkan data pasar yg nyata dan relevan, sehingga kemampuan analisisnya dapat terus disempurnakan secara berkelanjutan.
Sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi tersebut, dalam waktu dekat Akademi Investasi Cerdas juga akan menghadirkan event baru. Mengenai hal ini, nanti setelah sesi sharing malam ini selesai, sy akan jelaskan secara lebih rinci kepada kalian.
Di sisi lain, sy jg berharap kalian dapat terus memberikan dukungan kepada Akademi Investasi Cerdas, serta mengikuti perkembangan terbaru melalui situs resmi kami: https://www.akademivab.com/
Seiring dengan sharing yg kita lakukan kemarin siang, serta lonjakan signifikan di pasar saham pada hari Jumat, sy yakin bnyk dari kalian juga sudah melihat dari berbagai berita keuangan global bahwa pasar saham AS kembali menunjukkan penguatan yg cukup kuat.
Ditambah lagi, dengan kinerja pendapatan perusahaan-perusahaan besar di AS yg secara keseluruhan melampaui ekspektasi pasar, hal ini seolah memberikan sinyal bahwa perekonomian global kembali memasuki fase ekspansi.
Namun, jika kita melihat ke belakang dalam kurun waktu sekitar 3 bulan terakhir, kita semua bersama-sama telah melalui berbagai tekanan, mulai dari dampak konflik geopolitik hingga beragam faktor tak terduga lainnya, yg menyebabkan pasar saham Indonesia berada dalam tren penurunan yg cukup dalam dan berlangsung cukup lama.
Meskipun selama ini sy terus menyampaikan kepada kalian semua bahwa pasar saham Indonesia ke depannya berpotensi mengalami rebound seiring dengan pertumbuhan ekonomi domestik yg relatif cepat, namun pada kenyataannya, di tengah kenaikan signifikan pasar saham global, kinerja pasar saham Indonesia pada pekan lalu justru menunjukkan hasil yg kurang memuaskan.
Banyak investor pun mulai mempertanyakan, kapan kondisi seperti ini akan berakhir. Terlebih lagi, sy sendiri juga terus menegaskan bahwa pasar saham Indonesia akan segera memasuki fase pemulihan yg lebih cepat.
Oleh karena itu, pada malam ini sy dapat menyampaikan dengan lebih jelas bahwa dalam waktu dekat, baik Indonesia maupun Amerika Serikat akan merilis sejumlah data ekonomi yg sangat penting. Dengan demikian, setelah pekan ini, sy menilai akan muncul momentum krusial yg berpotensi membawa perubahan besar pada arah pasar.
Sehingga, bagaimana kita menyusun strategi investasi pada pekan depan agar tetap aman sekaligus memiliki peluang memperoleh keuntungan akan menjadi fokus utama yg perlu kita perhatikan bersama.
IHSG skrg sdah di area bawah, minggu dpn hrsnya ada peluang rebound yg lumayan bagus
Bener2 berharap mingdep pasar saham bs rebound dikit, biar saldo di akun kita bs balik naik lagi 😂
Maka pada malam ini, berdasarkan berbagai isu yg telah sy sampaikan sebelumnya, sy akan memberikan penjelasan yg lebih mendalam dan terstruktur kepada kamu semua.
Di saat yg sama, sy juga akan menyampaikan secara jelas apakah pada pekan depan kita berpotensi menghadapi sebuah peluang investasi yg relatif minim risiko dengan potensi pendapatan yg optimal.
Jika peluang tersebut benar-benar muncul, bagaimana cara kita mengidentifikasinya dan memanfaatkannya dengan tepat akan menjadi bagian penting dalam pembahasan malam ini. Dengan demikian, seluruh pertanyaan tersebut akan terjawab melalui sesi sharing kita malam ini.
Tentu saja, setelah sesi ini berakhir, sesuai dengan komitmen sy kepada kalian semua, sy juga akan menghadirkan event baru beserta materi pembelajaran tambahan sebagai bentuk dukungan terhadap proses belajar kamu. Apakah kalian sudah siap untuk memulainya?
Pertama-tama, kita perlu melihat kondisi ini dari perspektif makro secara menyeluruh. Pada hari Jumat lalu, pasar saham Amerika Serikat menunjukkan kinerja yg cukup kuat. Meskipun indeks Dow Jones mengalami penurunan tipis sebesar 0,31%, namun Nasdaq mencatat kenaikan sebesar 0,94% dan S&P 500 naik sebesar 0,29%.
Bahkan, Nasdaq dan S&P 500 hampir secara bersamaan berhasil mencetak level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi ini tentu membentuk kontras yg cukup jelas jika dibandingkan dengan pasar saham Indonesia. Saat ini, IHSG masih bergerak di sekitar level support kuat di kisaran 7000.
Meskipun dalam kondisi pasar yg melemah masih terdapat beberapa saham seperti BUMI dan TAPG yg mampu mempertahankan tren kenaikan, namun jika dibandingkan dengan lebih dari 1000 saham yg mengalami penurunan signifikan, maka tekanan kerugian di pasar secara keseluruhan tetap terlihat sangat dominan.
Mengapa perbedaan ini bisa terjadi? Untuk menjawab hal ini, kita perlu menggali lebih dalam mengapa saham di Indonesia saat ini belum mampu naik. Salah satu faktor paling penting adalah dana asing yg terus melakukan penjualan saham di pasar Indonesia.
Memang, kondisi ini dipengaruhi oleh pelemahan rupiah yg berkelanjutan serta kenaikan yield dolar AS. Namun, ada faktor lain yg jauh lebih penting tetapi jarang diperhatikan, yaitu pergerakan dana institusi.
Institusi besar secara konsisten membeli saham di harga rendah, lalu memanfaatkan kekuatan modal mereka untuk menciptakan kepanikan di pasar. Hal ini mendorong investor ritel menjual saham unggulan yg mereka miliki di harga rendah, sehingga institusi dapat terus mengakumulasi saham berkualitas tersebut dengan harga yg lebih rendah.
IHSG msh bertahan di sekitar 7000, itu nunjukin kalau support di bawahnya msh cukup kuat
Hr Kamis kmrn BUMI sama TAPG masih bs naik, jujur agak kaget juga😊
Skrg efek rugi lagi kuat, bnyk orang kepaksa cut loss, malah jadi ksmptn buat institusi msk di harga bawah
Kita bisa melihat dari data bursa setelah setiap hari perdagangan berakhir, khususnya pada statistik pergerakan dana antara institusi dan investor ritel, di mana terdapat banyak informasi penting yg bisa dianalisis.
Arus dana asing yg terus melakukan penjualan umumnya dipengaruhi oleh kenaikan yield dolar AS serta pelemahan kurs rupiah. Namun yg perlu diperhatikan, terlepas dari seberapa besar tekanan jual dari dana asing, institusi justru terus melakukan pembelian saham dalam jumlah besar.
Dalam menganalisis pergerakan dana asing, kita sebenarnya bisa memfokuskan perhatian pada kurs rupiah terhadap dolar AS, tanpa perlu terlalu terpengaruh oleh faktor lain.
Cukup dengan mengamati grafik candlestick pergerakan kurs tersebut, kita sudah bisa memahami arah aliran dana. Ketika grafik menunjukkan kenaikan, itu berarti rupiah sedang melemah. Sebagai contoh, saat kurs bergerak dari 16.900 ke 17.400, artinya untuk mendapatkan 1 dolar AS dibutuhkan lebih banyak rupiah.
Dalam kondisi seperti ini, ketika tren kurs terus naik, dana asing umumnya cenderung keluar dari pasar saham. Sebaliknya, ketika grafik kurs mulai memasuki fase penurunan, yg menandakan penguatan rupiah, dana asing biasanya akan kembali mengalir masuk ke pasar saham secara bertahap.
Terkait pergerakan kurs, teman-teman yg bekerja di Singapura mungkin merasakannya paling jelas, karena pendapatan mereka menggunakan dolar Singapura. Ketika rupiah melemah, saat pendapatan tersebut ditukar ke rupiah, jumlah yg diterima menjadi lebih besar. Ini setara dengan peningkatan pendapatan secara tidak langsung.
Untuk perubahan kurs sendiri, faktor yg memengaruhinya cukup kompleks, jadi malam ini tidak akan sy bahas terlalu dalam. Sy akan langsung sampaikan kesimpulannya. Saat ini, kurs sudah mendekati level terendah secara historis. Selama tidak ada perubahan besar dalam kondisi ekonomi Indonesia, kemungkinan untuk kembali melemah secara signifikan relatif kecil.
Ekonomi Indonesia juga ditopang oleh sektor ekspor sumber daya, seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit. Perusahaan-perusahaan di sektor ini memiliki pendapatan yg relatif stabil, dan banyak asetnya menggunakan denominasi dolar AS.
Kurs rupiah yg terus melemah harusnya malah bsa menarik lebih bnyak dana asing msuk kan
Kurs melemah malah bikin ekspor jd lebih sulit
Oleh karena itu, sy tidak terlalu khawatir terhadap pergerakan kurs saat ini. Pelemahan rupiah yg terjadi justru memberikan dorongan yg cukup besar bagi investasi di sektor riil di Indonesia. Memang, di satu sisi hal ini dapat menyebabkan arus dana asing keluar dari pasar saham.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga akan menarik masuknya investasi asing ke sektor-sektor ekonomi nyata secara berkelanjutan. Dengan demikian, dampak bersih dari arus masuk dan keluar dana asing terhadap pasar saham saat ini berpotensi mengalami perubahan arah, terutama setelah kurs mulai mendekati level terendahnya. Sy melihat, proses pembalikan ini sangat mungkin mulai terlihat pada pekan depan.
Tentu saja, dengan kondisi kurs rupiah yg saat ini sudah berada di level tinggi secara historis, justru fase seperti ini menjadi momen yg tepat untuk mulai mengalokasikan dana ke aset-aset global yg berdenominasi dolar.
Inilah alasannya mengapa sebelumnya sy terus menyarankan agar kalian mempertimbangkan investasi di emas. Meskipun dalam 1 bulan terakhir harga emas dalam denominasi dolar tidak menunjukkan kenaikan yg signifikan, namun akibat pelemahan rupiah, harga emas jika dihitung dalam rupiah sebenarnya tetap mengalami kenaikan.
Oleh karena itu, pada tahap sekarang ini, memanfaatkan pelemahan rupiah untuk secara selektif berinvestasi pada aset unggulan berbasis dolar justru menjadi salah satu peluang paling menarik bagi investor di Indonesia.
Menurut saya beli sedikit emas fisik itu pilihan yg cukup oke
Selanjutnya, kita lihat perubahan pergerakan dana institusi. Ini adalah grafik candlestick 5 menit pada hari perdagangan Jumat. Dari grafik ini, kita bisa melihat dengan cukup jelas bahwa volume transaksi pada sesi sore lebih tinggi dibandingkan sesi pagi.
Di sini ada hal penting yg perlu diperhatikan. Sebagian besar investor ritel biasanya melakukan pembelian pada sesi pagi, sementara transaksi di sesi sore justru lebih banyak didominasi oleh institusi. Terutama pada fase call auction menjelang penutupan, sekitar pukul 16:55, investor ritel hampir tidak berpartisipasi dalam fase ini.
Sekarang coba bayangkan, ketika di siang hari pasar sedang mengalami penurunan atau penyesuaian, saat kamu melihat saham yg kamu pegang tidak menunjukkan pergerakan, sementara saham lain justru mulai naik, secara psikologis kamu akan terdorong untuk menjualnya.
Dalam kondisi penurunan pasar seperti ini, begitu investor ritel mulai melepas sahamnya, maka institusi dengan mudah mencapai tujuannya, yaitu melakukan akumulasi di harga rendah secara terkonsentrasi.
Alasan di balik tindakan institusi sebenarnya cukup sederhana:
Pertama, kita harus memahami bahwa secara keseluruhan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini berada dalam keadaan yg sangat baik. Kinerja ekspor dan impor terus menunjukkan pertumbuhan yg stabil, dan hingga saat ini masih terdapat arus investasi asing yg cukup besar masuk ke Indonesia.
Dari sisi fundamental, ini merupakan landasan yg jelas menunjukkan arah pertumbuhan yg positif dan berkelanjutan. Artinya, tidak ada faktor negatif yg signifikan dari sisi fundamental yg dapat menjelaskan penurunan pasar saham saat ini.
Penurunan yg terjadi lebih disebabkan oleh strategi institusi, yg memanfaatkan momentum pelemahan kurs serta arus keluar dana asing. Dalam kondisi tersebut, institusi cenderung membiarkan pasar bergerak turun, dengan tujuan untuk mengakumulasi saham-saham unggulan dalam jumlah besar di harga yg lebih rendah.
Di pasar saham kita, proporsi dana asing itu emg cukup gede
Saat ini, yg bisa kita amati adalah saham-saham bank besar seperti BMRI, meskipun berada dalam tren penurunan atau pergerakan yg cenderung sideways, namun jika dibandingkan dengan kondisi saat pasar mengalami penurunan tajam sejak Februari, kinerjanya sebenarnya jauh lebih kuat dibandingkan pergerakan IHSG secara keseluruhan.
Sebagai contoh, sejak Februari IHSG telah mengalami penurunan lebih dari 20%. Sementara itu, penurunan pada BMRI bahkan tidak mencapai 10%. Sebagai bank besar utama di Indonesia, stabilitas harga saham seperti ini justru menjadi sinyal bahwa kondisi makroekonomi Indonesia tidak mengalami gangguan yg berarti.
Namun, kita juga tidak bisa menutup fakta bahwa dalam 3 bulan terakhir, hampir seluruh pelaku pasar saham mengalami kerugian. Dalam fase penurunan pasar yg bersifat menyeluruh seperti ini, memang sangat sulit bagi siapa pun untuk benar-benar terhindar dari tekanan tersebut. Dari sinilah kita masuk ke inti pembahasan malam ini, yaitu pertanyaan paling krusial: kapan fase penurunan ini akan berakhir?
Pertanyaan ini, menurut sy, juga akan menjadi fokus paling utama pasar pada pekan depan. Baik Indonesia maupun Amerika Serikat akan merilis sejumlah data penting, yg hampir pasti akan mempercepat perubahan arah pasar.
Pertama, pada hari Senin Indonesia akan mengumumkan data inflasi terbaru, dan pada hari Selasa data GDP akan dirilis. Kedua indikator ini merupakan acuan paling utama untuk menilai tingkat kesehatan ekonomi Indonesia.
Coba kalian pikirkan dengan logika sederhana: jika suatu negara memiliki kondisi ekonomi yg secara umum stabil, tidak ada penurunan fundamental yg bersifat sistemik, namun pasar saham justru mengalami penurunan tajam dalam jangka pendek, dan pada saat yg sama kurs mata uangnya juga berada di level yg relatif rendah secara historis.
Dalam kondisi seperti ini, bagi dana asing justru sering kali dianggap sebagai peluang yg sangat ideal untuk melakukan akumulasi di harga rendah.
Sebab, pada situasi di mana harga aset sudah jelas berada di bawah nilai wajarnya, sementara prospek pertumbuhan jangka panjang masih tetap kuat, maka secara rasional dana asing akan memiliki dorongan yg sangat besar untuk mulai membangun posisi di level bawah.
Namun, kondisi ini juga membawa konsekuensi yg hampir pasti terjadi, yaitu semakin tajamnya diferensiasi antar saham. Tidak semua saham akan bergerak naik secara bersamaan, justru perbedaan kinerja akan semakin terlihat jelas, dan volatilitas pasar pun akan meningkat.
Karena itu, jika arah investasi yg diambil tidak tepat, atau pemilihan saham kurang akurat, maka sangat besar kemungkinan akan menghadapi tekanan penyesuaian dalam jangka pendek, bahkan berujung pada kerugian.
IHSG udh turun lbh dari 20%, tapi saham bank bahkan blm sampe 10%, daya tahan kayak gini justru jdi sinyal tersendiri
3 bln ini hampir seluruh pasar pada rugi, ini nunjukin kalo lagi ada pelepasan sentimen secara menyeluruh
Kalau dana asing mulai balik lagi, saham unggulan biasanya reboundnya bakal cepet banget
Di sini kita perlu memahami satu hal penting. Jika kita melihat dari sudut pandang institusi, sebenarnya hampir seluruh pelaku pasar, baik investor ritel maupun institusi dalam 3 bulan terakhir berada dalam kondisi merugi. Namun, ketika menghadapi kerugian, investor ritel umumnya hanya memiliki dua pilihan utama:
Pertama, memilih untuk tetap bertahan dengan saham yg dimiliki, dengan harapan ketika pasar rebound, mereka bisa kembali balik modal, bahkan memperoleh keuntungan. Biasanya, keputusan ini didasari keyakinan bahwa pasar pada akhirnya akan berbalik arah dan harga saham akan pulih.
Kedua, memilih untuk cut loss, yaitu mengakui kerugian yg ada saat ini dan menjual saham untuk menghindari risiko kerugian yg lebih besar. Dalam proses ini, investor biasanya akan mengevaluasi kembali kondisi pasar, lalu mencari peluang investasi lain yg dianggap memiliki potensi pertumbuhan yg lebih baik.
Kbnykan orang itu masuk kategori kedua, pilih cut loss terus keluar
Situasi pertama biasanya terjadi ketika harga saham mengalami penurunan tajam, misalnya dalam satu hari turun lebih dari 10%. Dalam kondisi seperti ini, sebagian investor ritel cenderung memilih untuk pasrah dan berharap harga akan kembali naik secara signifikan.
Mereka akan tetap bertahan, bahkan terus memegang saham tersebut tanpa terlalu mempertimbangkan potensi penurunan lanjutan. Fenomena seperti ini cukup sering terjadi dalam kondisi pasar belakangan ini.
Kerugian yg sudah terlalu besar sering kali memicu mekanisme psikologis berupa pembenaran diri, di mana investor mencoba menenangkan diri dengan harapan pasar akan berbalik. Justru pada fase inilah, ketika mayoritas investor ritel tidak lagi menjual sahamnya, institusi besar sering memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan distribusi, yaitu menjual saham dalam jumlah besar ke pasar.
Situasi kedua terjadi ketika harga saham tidak turun secara tajam, melainkan melemah secara perlahan.
Dalam kondisi seperti ini, investor ritel akan melihat nilai portofolionya berkurang sedikit demi sedikit setiap hari, misalnya turun 1% atau 2% secara bertahap. Justru penurunan yg perlahan seperti ini sering terasa lebih menyiksa secara psikologis.
Akibat tekanan tersebut, banyak investor akhirnya memilih untuk menjual sahamnya. Perilaku seperti ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi merupakan fenomena umum yg bisa ditemukan di hampir seluruh pasar saham di dunia.
Kedua pola perilaku investor ritel ini pada kenyataannya sering dimanfaatkan oleh institusi. Banyak institusi besar memahami karakter tersebut, lalu menjadikannya sebagai dasar strategi untuk melakukan distribusi dan akumulasi secara sistematis.
Khususnya pada situasi pertama, ketika kerugian investor ritel sudah terlalu besar, institusi utama justru cenderung melakukan penjualan saham secara agresif ke pasar.
Sy sarankan kalian mencoba merefleksikan kembali portofolio masing-masing, terutama saham yg pernah mengalami penurunan hingga lebih dari 80%. Ingat kembali bagaimana proses berpikir kalian saat menghadapi penurunan tajam tersebut.
Turun pelan2 itu malah lebih nyiksa, tiap hari minus dikit2 😂
Pelaku besar mmg sering manfaatin perbedaan sentimen kyk gini, di satu sisi bikin pasar panik, di sisi lain pelan2 kumpulin saham di harga bawah
Ketika harga saham sudah turun sekitar 30%, sebagian investor mulai merasa kerugiannya terlalu besar, muncul rasa “sayang” untuk melepas, dan berharap keesokan harinya harga akan berbalik naik. Perasaan ini membuat mereka enggan menjual saham.
Namun ketika keesokan harinya harga kembali turun, misalnya tambahan 10%, investor sering berpikir bahwa setelah penurunan sebesar itu, kemungkinan turun lagi sudah kecil. Pola pikir seperti ini membuat mereka tetap bertahan.
Alasannya sederhana, mereka merasa jika dijual sekarang, sisa dana sudah terlalu sedikit. Bahkan tidak jarang muncul harapan bahwa suatu hari saham tersebut akan melonjak tajam dan membalikkan kondisi, meskipun secara kenyataan kerugian yg dialami sudah mendekati atau bahkan melebihi 80%.
Kedua pola perilaku ini, menurut sy, akan menjadi ciri utama yg cukup sering muncul di pasar pada pekan depan. Di satu sisi, pelemahan rupiah yg masih berlanjut membuat banyak dana asing melihat peluang untuk melakukan akumulasi di harga rendah.
Dalam prosesnya, mereka cenderung menahan kenaikan pasar pada sesi siang, lalu melakukan aksi pembelian secara agresif menjelang penutupan. Artinya, pola seperti hari Jumat di mana terjadi peningkatan volume disertai dorongan kenaikan harga di akhir sesi, kemungkinan besar akan kembali berulang dalam beberapa waktu ke depan.
Di sisi lain, pada pekan depan Indonesia akan merilis serangkaian data ekonomi penting, sementara Amerika Serikat juga akan mengumumkan data tenaga kerja non-pertanian.
Dua peristiwa besar ini berpotensi memberikan dampak yg cukup kuat terhadap pergerakan pasar dalam jangka pendek. Dalam kombinasi faktor tersebut, banyak saham kemungkinan akan mengalami fase penyesuaian yg cepat dan cukup tajam. Pergerakan ini pada dasarnya merupakan proses penyaringan posisi di pasar.
Perlu dipahami, meskipun secara keseluruhan pasar saat ini sudah berada di area bawah, namun penurunan tajam sebelumnya telah membuat banyak investor menjadi sensitif dan cenderung takut terhadap volatilitas jangka pendek.
Ketika saham yg dimiliki mengalami penurunan sementara, sebagian besar investor ritel biasanya langsung bereaksi dengan menjualnya. Karena itu, menghindari spekulasi jangka pendek secara membabi buta justru menjadi hal yg paling perlu diwaspadai.
Inilah alasannya mengapa sy selalu menyarankan agar tidak mudah tergoda oleh keuntungan jangka pendek hingga akhirnya terjebak dalam kebiasaan mengejar harga naik dan menjual saat turun. Sebaliknya, fokuslah pada investasi jangka panjang serta penerapan manajemen risiko yg disiplin. Inilah juga yg selama ini menjadi arah utama yg terus sy tekankan kepada kalian.
Mggu dpn datanya padat, volatilitas pasti makin gede, jdi trading jangka pndk bakal kerasa jauh lbh susah
Pelaku besar paham banget soal ini, jadi mereka sering manfaatin sentimen kyk gini buat bersihin posisi pasar
Skrg lebih cocok utk sabar nunggu dulu daripada asal gerak
Dalam setiap keputusan membeli saham, kita harus selalu mengingat satu tujuan utama, yaitu mencapai pendapatan yg berkelanjutan dan stabil.
Ketika dihadapkan pada pilihan, misalnya:
A: potensi keuntungan 50% dengan risiko 50%
B: potensi keuntungan 10% dengan risiko 0%
Maka secara rasional, kita seharusnya memilih opsi B tanpa ragu.
Alasannya sederhana, kunci utama untuk mencapai pertumbuhan kekayaan secara eksponensial di pasar modal bukan berasal dari satu transaksi dengan keuntungan besar, melainkan dari kemampuan memanfaatkan efek dana besar di pasar untuk menghasilkan pertumbuhan yg konsisten melalui compounding dalam jangka panjang.
Saat ini, banyak dana asing memang sedang memanfaatkan tren pergerakan kurs yg ada. Di tengah arus jual yg terus berlangsung, mereka kerap membiarkan bahkan mendorong tekanan penurunan di pasar, dengan memanfaatkan sentimen negatif dan tekanan psikologis investor ritel, sehingga mendorong mereka melepas saham-saham unggulan yg dimiliki.
Perilaku ini pada dasarnya merupakan bagian dari strategi institusi, yaitu untuk mengakumulasi saham perusahaan berkualitas pada level harga yg relatif rendah. Namun, jika kita melihat dari sisi yg lebih luas, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih tergolong baik.
Ditambah lagi, pasar saham global juga sedang menunjukkan kenaikan yg cukup cepat dalam jangka pendek. Perubahan lingkungan eksternal seperti ini pada akhirnya akan ikut memengaruhi pasar saham Indonesia.
Ke depannya, seiring dengan rilis data makroekonomi Indonesia dan potensi stabilisasi kurs rupiah, ada kemungkinan arus dana asing akan beralih dari posisi jual menjadi beli. Pada fase transisi inilah pasar berpotensi mengalami perubahan arah.
Ketika sikap dana asing mulai berbalik, institusi domestik pun akan kesulitan mempertahankan harga di level rendah. Dari sinilah biasanya akan terbentuk momentum yg mendorong terjadinya fase pemulihan pasar saham secara lebih luas.
Skrg dana asing lg manfaatin tekanan kurs sama sentimen buat neken pasar, padahal di balik itu mereka lg kumpulin saham di harga bawah
Berdasarkan data yg ada saat ini, sy melihat titik balik tersebut sangat mungkin mulai muncul pada pekan depan.
Di satu sisi, kurs rupiah sudah berada di area terlemah secara historis, sementara kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan tetap stabil. Kombinasi ini menciptakan peluang nilai yg menarik, yg pada akhirnya akan mulai dilirik oleh arus dana global. Karena itu, kemungkinan pelemahan kurs lebih lanjut juga relatif terbatas.
Di sisi lain, Amerika Serikat akan merilis data tenaga kerja non-pertanian serta laporan keuangan perusahaan-perusahaan besar. Jika melihat kondisi ekonomi AS saat ini, dirilisnya data tersebut berpotensi memberikan sentimen positif secara luas terhadap pasar keuangan global.
Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, maka seiring dengan publikasi data-data penting tersebut, peluang terjadinya kenaikan yg cepat pada pasar saham Indonesia dalam waktu dekat menjadi cukup besar.
Oleh karena itu, pada fase ini, ke depannya banyak saham unggulan yg sebelumnya mengalami penurunan berpotensi mulai memasuki fase kenaikan yg cukup signifikan. Ditambah lagi, karena posisi harga saat ini masih berada di area yg relatif rendah, maka dalam proses kenaikan pasar, tingkat risiko untuk melakukan akumulasi sebenarnya menjadi lebih terkendali.
Namun, hal ini tetap memerlukan persiapan sejak awal. Meskipun selama ini sy hampir setiap pekan menyarankan untuk mengurangi atau melepas saham dengan kualitas rendah, sy melihat bahwa dengan munculnya peluang ini, minggu depan bisa menjadi salah satu momentum terbaik untuk mengejar pendapatan yg lebih stabil.
Dalam kondisi seperti ini, melakukan penyesuaian portofolio yaitu mengalihkan dana dari saham yg kurang berkualitas ke saham unggulan yg memiliki fundamental kuat dan masih berada di area harga rendah, merupakan langkah yg lebih rasional. Dan poin ini sebenarnya juga merupakan hal yg terus sy tekankan secara konsisten dalam setiap pembahasan.
Selain terus belajar secara konsisten, kita juga harus mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik investasi saham.
Ketika kita sudah memiliki keyakinan bahwa pada pekan depan pasar saham Indonesia berpotensi mengalami perubahan yg cukup besar, dan banyak saham unggulan kemungkinan akan mengalami kenaikan cepat dalam jangka pendek, maka bagi kalian yg masih memegang saham dengan kualitas rendah, sudah saatnya mulai melakukan penyesuaian.
Jangan terlalu terpaku pada saham yg sebelumnya justru membawa kerugian besar. Sikap mempertahankan posisi seperti itu tanpa dasar yg kuat hanya akan memperbesar tekanan ke depannya. Sebaliknya, saham dengan fundamental yg baik memiliki potensi untuk memberikan pertumbuhan nilai secara berkelanjutan melalui efek compounding.
Karena itu, sy menyarankan agar mulai pekan depan, kalian mempertimbangkan untuk melakukan realokasi portofolio, melepas saham yg kurang berkualitas, dan mengalihkan dana ke saham unggulan. Keputusan ini bukan ditentukan oleh seberapa besar kerugian di masa lalu, tetapi oleh seberapa besar potensi hasil yg bisa kalian capai di masa depan.
Jual saham gorengan, pindahin dananya ke saham unggulan, baru efek compoundingnya bisa keliatan jelas
Mggu depan pasar saham harusnya bs rebound cukup cepet, kita perlu manfaatin momentum ini
Kurs udah di level rendah bngt, biasanya minat beli dari dana asing bakal makin kuat👍
Pada dasarnya, pasar keuangan memiliki banyak kesamaan dengan kehidupan. Kita tidak seharusnya terjebak pada kerugian maupun keuntungan di masa lalu, melainkan harus terus melihat ke depan.
Kehidupan memang penuh dengan tantangan, baik dalam investasi maupun dalam menentukan arah hidup, yg terpenting adalah tetap melangkah maju, bukan terjebak dalam masa lalu dan berharap keadaan akan berubah dengan sendirinya.
Karena pada akhirnya, kita tidak bisa mengubah dunia. Yg bisa kita lakukan adalah memahami perubahan yg terjadi, lalu menyesuaikan diri dengan arah tersebut.
Selain itu, ada satu hal yg perlu benar-benar dipahami. Sehebat apa pun pencapaian kita di masa lalu, jika kita terlalu percaya diri hingga kehilangan objektivitas, maka dalam sekejap kita bisa kehilangan semuanya.
Sebaliknya, sebesar apa pun kerugian yg pernah kita alami, selama kita mampu mengambil pelajaran darinya dan tidak mengulang kesalahan yg sama, maka dalam transaksi berikutnya kita justru akan menjadi lebih matang dan lebih unggul.
Karena itu, sy berharap kalian bisa memahami arah yg sy sampaikan. Memasuki pekan depan, pertimbangkan untuk mulai melakukan penyesuaian portofolio, melepas saham yg tidak memiliki nilai investasi yg jelas, dan bersiap untuk mengakumulasi saham unggulan di harga rendah.
Langkah ini merupakan fondasi penting dalam membangun pertumbuhan aset di pasar saham. Melalui keputusan yg tepat, kita tidak hanya memperbaiki posisi saat ini, tetapi juga meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di masa depan. Sy juga berharap, dalam fase pemulihan pasar berikutnya, kalian semua dapat memaksimalkan peluang yg ada dan memperoleh hasil yg optimal.
Jika masih ragu dalam menilai saham mana yg layak dipertahankan dan mana yg sebaiknya dilepas, silakan diskusikan. Proses penyesuaian ini akan membantu membuat strategi investasi kalian ke depannya menjadi lebih terarah, stabil, dan berkelanjutan.
Mulai mggu dpn, manfaatin ksmpetan ini buat beli sdikit saham unggulan di harga murah
Ngerti, jual saham gorengan itu emang jadi langkah awal biar investasi kita lbh sehat
Sebagai penutup, ada satu hal penting yg ingin sy sampaikan. Dalam waktu ke depan, sy juga akan menggabungkan seluruh materi yg sudah kita pelajari sebelumnya untuk melakukan sesi pembelajaran yg lebih mendalam.
Dalam event ini, sy akan berfokus pada poin-poin inti yg sudah pernah dibahas, lalu mengajukan beberapa pertanyaan penting kepada kalian. Menariknya, jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut sebenarnya sudah ada dan tersembunyi dalam seluruh materi yg telah kita pelajari sebelumnya.
Yg lebih penting lagi, pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya sudah teruji dalam pergerakan nyata pasar saham selama beberapa bulan terakhir. Meskipun pasar mengalami penurunan yg cukup tajam, metode investasi yg sy bagikan terutama pendekatan DCA dan kerangka investasi ala Vanguard justru tetap mampu memberikan hasil tertentu.
Selama kalian benar-benar mengikuti proses belajar dengan serius, berpikir secara mendalam, dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, sy yakin event ini akan memberikan peningkatan pemahaman yg signifikan. Nanti, asisten juga akan membagikan daftar pertanyaan dari event ini ke dalam grup.
Bagi kalian yg tertarik untuk ikut berpartisipasi, silakan hubungi sy atau asisten secara pribadi untuk mendaftar. Sy juga berharap, melalui event ini, setiap dari kalian bisa mendapatkan pemahaman yg lebih sistematis dan lebih mendalam terhadap seluruh materi yg sudah kita pelajari sebelumnya.
Ini rasanya agak kayak undian ya 😎
Hadiahnya sih nggak terlalu penting, bs terus belajar bareng Pak Sutanto aja saya udah seneng banget🙏
Setiap mlm sy bakal bljar dgn serius, sy mau ikut event ini
Sya bakal bikin catatan dr materi tiap hr, dan sy bakalan trus jaga konsistensinya
Pak Sutanto, gmna cara ikut event ini ya?
Event kuis berhadiah resmi dimulai!🌈
💫Silakan pelajari materi malam ini, lalu jawab pertanyaan di bawah dan kirim jawabannya ke sy via chat pribadi.
🧚♀️Kalau jawabannya benar, nanti sy kasih kode undian, dan kalian bisa ikut undian di website Akademi Investasi Cerdas. https://www.akademivab.com/
1️⃣Strategi DCA cocok untuk investasi saham seperti apa?
2️⃣ Di fase pelemahan rupiah, aset apa yg cocok untuk dialokasikan?
🍡Hadiah tertinggi sampai 90 juta rupiah lho!
Kalau konsisten belajar selama 2 bulan dan setiap hari kirim catatan belajar ke sy, kalian berkesempatan dapetin 1 unit MacBook M5